
Tempat itu tak berubah seperti biasa, tetap gelap namun tak menghalangi pandangannya. Sekali lagi kakinya berjalan sendiri menuju gubuk, tangannya yang pucat bagai rembulan menarik kenop pintu hingga terbuka.
Tepat di samping perapian seorang wanita berlutut diatas Pentaclenya, menangis tersedu hingga setiap tetesan darah keluar dari kelopak matanya.
Sebuah doa-doa yang terdengar bagai mantra terus terulang dari bibir keringnya, lalu perlahan ia bangkit memperlihatkan perutnya yang buncit.
"Kunci jiwanya!" teriak wanita itu tegas dengan mata melotot kearahnya.
"Patricia!" panggil Estes untuk kesekian kalinya sebab ia terus mengigau tak karuan.
Patricia membuka mata, menatap sekeliling dimana semua mata tertuju padanya dengan penuh cemas.
"Tidak apa-apa, itu hanya mimpi," ujar Emily yang telah terbiasa.
Memaksa tersenyum ia bangkit dan duduk, membiarkan Emily me-lap keringat yang membasahi seluruh badannya.
"Estes, kenapa kau ada disini?" tanyanya setelah memiliki cukup tenaga dan kesadaran.
"Ceritanya terlalu panjang, akan ku beritahu lain waktu."
Patricia mengangguk, meski penasaran tapi saat ini kepalanya cukup pening untuk menerima cerita.
"Makanlah, kita akan mulai perjalanan lagi setelah kau memiliki cukup tenaga," ujar Sonu yang segera pergi keluar.
Tanpa perintah itu pun Patricia sudah berniat untuk makan, entah mengapa perutnya begitu keroncongan seperti habis berpuasa setahun. Ditemani Estes mereka mengobrol tentang beberapa hal seperti surat yang telah mereka tulis, hingga akhirnya Estes pun menceritakan nasib buruk yang menimpanya secara ringkas.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Patricia.
"Aku akan meminta ijin kepada Madam untuk ikut dalam perjalanan mu, aku tidak bisa membiarkan mu dalam kondisi seperti ini."
"Menurut mu apa Madam akan mengijinkannya?" tanyanya.
__ADS_1
"Entahlah," sahut Estes ragu.
Tangan yang semakin kurus itu meraih tangan Estes dari pahanya, menaruhnya tepat diantara tangannya.
"Untuk pertama kalinya aku merasa bersalah dalam hidupku adalah saat kematian orangtua ku, kedua kalinya adalah saat mereka mempertaruhkan nyawa demi kesembuhan ku. Beban ku semakin terasa berat dipundak ini, karena itu aku mohon jangan menambahnya lagi karena aku takut terjatuh."
"Patricia!" seru Estes tapi Patricia menggeleng.
"Sonu cukup hebat dalam menjagaku, Emily pandai merawatku dan Jacy selalu bisa diandalkan saat genting. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan," ujar Patricia pelan.
Ingin sekali Estes menyerukan kelebihannya agar Patricia mau menerima, tapi sejauh yang ia ingat sampai saat ini ia masih belum mampu meraih Patricia.
Oleh karena itu dengan berat hati ia setuju untuk tidak ikut, tapi ia berjanji akan menyusul setelah urusannya dengan Madam selesai.
Meratap kepergian Patricia Estes harus ikhlas, memaksakan diri untuk membalas senyuman gadis itu.
...----------------...
"Ini tidak baik," gumam Jacy.
"Ada apa?" tanya Sonu.
"Setelah melewati satu kota kita akan dihadapkan dengan gunung bebatuan, kita harus punya persediaan yang cukup untuk melewatinya mengingat kondisi Patricia yang semakin melemah. Tapi aku rasa uang kita tidak cukup untuk membeli persediaan," sahutnya.
Sonu mengerti, jika begitu tak ada jalan lain kecuali mencari pekerjaan. Saat sampai dikota tersebut pertama kali yang mereka kunjungi adalah serikat petualangan, Emily dan Patricia yang baru pertama kali datang ke tempat itu cukup dibuat bungkam dengan para ksatria yang rata-rata berbadan kekar dan wajah sangar.
Cara bicara mereka begitu kasar dengan tawa yang meledak-ledak, membuat Emily tak tahan sebab telinganya terasa pengang.
"Ayo pergi!" ajak Sonu setelah ia selesai melihat-lihat paman pengumuman.
"Kau akan bekerja?" tanya Patricia.
__ADS_1
"Ya, kalian tunggu di penginapan sampai kami pulang."
Andai kondisi Patricia saat ini stabil ia sudah pasti ingin ikut, tapi sayangnya bahkan untuk berjalan pun ia butuh orang disampingnya.
Sonu berencana untuk segera melanjutkan perjalanan, oleh karena itu ia mengambil misi yang bisa ia selesaikan dalam waktu beberapa jam saja.
Seperti membasmi kawanan tikus besar digorong-gorong, mereka adalah hama yang terburuk dari yang buruk. Sulit membasmi mereka karena jumlahnya yang banyak dengan ukuran sebesar kucing, terlebih udara di dalam gorong-gorong yang cukup minim sehingga membuat mereka cepat merasa lelah.
Di tempat seperti itu pedang tidaklah berguna, saat kau mengayunkan nya ke atas ujung pedangnya akan menyangkut ke langit-langit. Oleh karena itu senjata yang paling ampuh adalah belati, pistol dan benda lainnya yang tak terlalu panjang.
"Sial! mereka tak ada habisnya!" gerutu Jacy.
"Kau bawa pematik?" teriak Sonu ditengah decitan tikus.
"Ya!" sahut Jacy dengan tangan yang sibuk menebas.
"Ambil ini! bakar kapak mu!" teriak Sonu sambil melemparkan sebuah botol merisi minyak.
Sementara Sonu terus menyiram tikus-tikus itu dengan minyak yang ia bawa sampai habis.
Bhuuussss
Saat Jacy membakar kapaknya api menyambar dari pematik, membuat tikus-tikus itu segera merasakan hawa panas dan sebagian lari menyelamatkan diri.
Tanpa menunda lagi ia kembali menebas ratusan tikus itu hingga api pun dengan cepat menyebar, decitan tikus yang kepanasan semakin ramai saat api kian membesar.
"Ayo pergi!" ajak Sonu.
Meninggalkan tempat itu mereka berlari ke arah luar, diarah ruang terbuka itu Sonu menebar lem dan bubuk lada hitam seperti yang ia lakukan di tempat-tempat lain. Sebagai bentuk pencegahan agar tikus-tikus itu tidak melarikan diri dari gorong-gorong.
"Oh aku perlu mandi," ujar Jacy mencium badannya sendiri yang bau.
__ADS_1
"Yeah, kita memang perlu mandi. Tapi sebelum itu aku akan pergi serikat dulu untuk mengambil bayaran kita," sahut Sonu.