
"Jangan bercanda!" teriak Sonu mengagetkan semua orang, hanya Patricia yang menatap tajam kearahnya.
"Apa yang kau pikirkan? ini bukan misi untuk gadis biasa sepertimu," lanjutnya namun kini dengan sedikit lebih tenang.
"Tidak ada aturan yang melarang gadis desa untuk ikut, lagi pula aku punya informasi berharga yang kau butuhkan," balas Patricia.
"Tetap saja aku menolaknya."
"Aku tidak minta persetujuan mu," sahut Patricia dingin.
Beralih menatap Charlie ia bertanya " Bagaimana?."
"Um... Sonu benar, misi ini terlalu berbahaya untuk mu," sahutnya ragu.
"Kalau begitu cari informasi sendiri," ujar Patricia kembali mengambil topeng itu dan pergi.
Tak ada yang berani bicara, dalam keheningan itu mereka bisa merasakan ketegangan diantara Sonu dan Patricia. Membuat hawa disekitar menjadi dingin hingga menusuk kedalam tulang, mereka pun memutuskan untuk masuk ke kamar masing-masing sementara Sonu masih diam di sana.
Beberapa jam kemudian Jacy yang tak bisa tidur tak sengaja bertemu Emily, mereka pun memutuskan untuk minum bersama sambil mengobrol.
"Apa kau mengelola penginapan ini sendiri?" tanya Jacy untuk memulai obrolan santai.
"Tidak, penginapan ini milik paman ku. Kebetulan dia sedang bepergian dan aku disuruh untuk menjaganya selama ia pergi."
"Bagaimana dengan gadis yang bernama Patricia?" tanyanya mulai mengorek informasi.
"Dia teman masa kecilku, sebenarnya kami sempat berpisah selama beberapa tahun dan baru kembali bertemu sekitar sebulan yang lalu."
"Begitu ya, sepertinya Patricia mengenal baik Sonu."
"Sepertinya begitu, yang ku tahu Patricia menyelamatkan Sonu dan sejak itu mereka mulai dekat. Sebenarnya aku cukup kaget saat Sonu marah pada Patricia, dia bertindak seperti pria yang takut kekasihnya terluka," sahut Emily.
"Sepertinya memang ada sesuatu diantara mereka," balas Jacy mengingat sikap mereka.
Obrolan mereka berlanjut masih dalam tema hubungan antara Sonu dan Patricia, sementara orang yang sedang dibicarakan menghabiskan waktu di luar untuk memandangi langit.
__ADS_1
Ditangannya Patricia masih memegang topeng penculik, kembali mengingat setiap detail yang terjadi pada saat itu. Sonu yang merasa bersalah karena telah marah berjalan mendekatinya dan duduk tepat disampingnya.
"Maaf karena aku telah membentak mu tadi," ujarnya pelan.
"Apakah aku seburuk itu? apakah... aku benar-benar lemah hingga kau tidak mau membawaku bersama mu karena aku hanya akan menjadi beban?" tanya Patricia tanpa memalingkan wajah.
"Aku tidak sebaik yang kau pikirkan, jika aku hebat tak peduli berapa banyak beban yang ada aku pasti tidak akan mengeluh. Hanya saja aku bukanlah ksatria yang kuat, aku takut jika kau ikut aku tidak bisa menyelamatkan mu."
"Kalau begitu jangan! biarkan aku bertarung dengan kemampuanku sendiri, kau hanya perlu melatih ku saja."
"Bodoh! aku juga masih harus banyak latihan. Bagaimana bisa aku melatihmu?" tanya Sonu dengan ketus.
Patricia mendengus dengan keras, ia benar-benar kesal atas sikap Sonu yang keras kepala.
"Orangtua ku, mereka mati dibunuh monster. Setiap malam aku selalu bermimpi makan malam dengan mereka dan tiba-tiba semuanya kacau, darah dimana-mana, daging berceceran dan aku hanya terpaku. Setiap hari aku dihantui perasaan bersalah, andai saja aku punya sedikit kekuatan mungkin semuanya tidak akan berakhir seperti ini," ujar Patricia bercerita.
Sonu mendengarkan dengan seksama, ia sudah mendengar hal ini dari Benjamin tapi mendengar cerita dari Patricia langsung itu lebih menyedihkan lagi.
"Balas dendam tidak akan membuat mereka kembali," ujar Sonu pelan.
"Apa kau yakin? bukankah itu akan membuatnya semakin parah? saat kau berhasil membasmi mereka tapi dalam hidupmu tak ada yang berubah, orangtuamu tidak kembali, masalalu mu juga tidak berubah," tanya Sonu.
"Kau tidak mengerti! orangtua ku mati didepan mataku!" teriak Patricia kehilangan kesabaran.
Tanpa kata lainnya ia pergi begitu saja meninggalkan Sonu, berjalan masuk sementara Sonu hanya menatap nanar punggung seorang gadis yang menimbun beban diatas pundaknya.
"Oh, Hai!" sapa Jacy yang kebetulan berpapasan.
Patricia hanya tersenyum kecut, terlalu kesal untuk menghadapi satu ksatria lagi.
"Kau mau minum?" tawarnya.
"Berikan aku satu botol," sahutnya.
Patricia berjalan duluan kearah meja sementara Jacy mengambil botol, begitu Jacy kembali Patricia segera meneguk habis yang membuat Jacy melongo.
__ADS_1
"Sepertinya suasana hatimu sedang buruk," ucapnya.
"Ini adalah ulah temanmu," sahutnya.
"Percayalah dia hanya kuatir kau terluka, kenapa kau begitu keras kepala?" tanya Jacy.
"Aku tidak memintanya untuk melindungi ku, aku bisa melindungi diriku sendiri andai dia memberiku kesempatan untuk belajar."
"Sampai kapan pun dia tidak akan pernah membiarkan orang yang ia sayangi berada dalam bahaya, ia akan memilih untuk dibenci dari pada harus menderita karena kehilangan lagi."
"Apa maksud mu dengan kata 'Lagi' ?" tanya Patricia.
Jacy meneguk arak dari botol sebelum memulai cerita, ini adalah kisah menyedihkan yang ia tahu setelah beberapa minggu mengenal Sonu. Hanya kepada Jacy ia menceritakan kisah ini, itu karena Jacy sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.
"Sonu terlahir dari keluarga sederhana, setidaknya itu yang terlihat dari luar. Ayahnya adalah seorang pria dengan sifat tempramental, dia dan ibunya sering di siksa untuk masalah kecil yang tak berarti. Setiap hari dia sudah biasa bekerja untuk membantu ibunya, bahkan ia juga sudah bisa menghasilkan uang sejak kecil. Penderitaan itu memuncak pada suatu malam saat orangtuanya bertengkar, ia melihat bagaimana ibunya di siksa hingga terluka dan berdarah. Jika kau melihat punggungnya kau akan menemukan garis panjang disana, itu adalah bekas luka yang ia dapat karena melindungi ibunya namun tetap tak berhasil. Ibunya sekarat dan mati, sementara dia yang masih berusia delapan tahun berhasil kabur dengan kenangan yang tak pernah bisa di ubah."
"Lalu... bagaimana dengan ayahnya?" tanya Patricia dengan perasaan yang campur aduk.
"Sepuluh tahun kemudian dia kembali ke rumahnya, menemukan ayahnya sudah mati dan tak ada lagi yang terjadi," jawab Jacy.
Seketika Patricia bisa mengingat senyum pahit Sonu saat ia menghardiknya, betapa ia telah salah menilai seseorang. Sekarang ia mengerti mengapa Sonu melarangnya untuk balas dendam, itu karena Sonu pernah berada di posisinya bahkan dengan penderitaan yang lebih mengerikan.
Merasa bersalah ia pergi menemui Sonu, memberikan topeng penculik itu kepadanya dan berkata "Aku melakukan penyelidikan sendiri, ada sebuah pola yang bisa menjadi petunjuk. Mereka hanya mengincar anak-anak ... yang memiliki kemiripan dengan mu."
"Jacy menceritakannya padamu?" tanya Sonu.
"Tidak dihargai, selalu dikucilkan, tidak disayangi, selalu pendapat perlakuan buruk, anak jalanan pun termasuk kategori," sahutnya sambil mengangguk.
Sonu mengambil topeng itu, mengelus permukaannya yang kasar.
"Aku tidak akan ikut kalian tapi berjanjilah padaku untuk tetap mengajari ilmu pedang," pinta Patricia.
"Kau masih ingin balas dendam?" tanya Sonu.
"Tidak, tapi aku ingin melindungi orang yang kusayangi," sahutnya yang membuat Sonu terdiam.
__ADS_1