
Bruk
"Uh!" erang Patricia sambil memegang pinggangnya.
Sungguh pendaratan yang tidak mulus, mencoba bangkit ia menatap sekeliling dan sadar mereka berada di hutan dekat rumahnya.
"Ayo!" ajak Jacy.
Mereka mulai berjalan keluar hutan untuk melihat kondisi desa itu.
"Tunggu!" sergah Patricia menghentikan langkah mereka.
"Ada apa?" tanya Jacy.
"Ini... semua ini sangat mirip dengan masa kecil ku," ujarnya merasa aneh.
"Apa maksud mu?" tanya Jacy tak mengerti.
"Kau lihat sumur itu?" tanya Patricia sambil menunjuk.
"Ya," sahutnya.
"Saat aku kecil sumur itu masih di pakai, tapi setelah aku besar dan kembali ke desa kakek ku sumurnya sudah ditutup. Apakah kita kembali ke masa kecil ku?" tanya Patricia.
"Entahlah, kita bisa berada dimana saja."
Patricia benar-benar di buat tak nyaman, mereka pun memutuskan untuk pergi melihat lebih dalam.
Bruk
"Aw!"
"Ah maaf!" seru Patricia saat tak sengaja menabrak seorang anak perempuan.
"Lain kali tolong jalan dengan hati-hati!" teriak anak perempuan itu sambil mengusap hidungnya.
Patricia hanya terpaku, menatap anak perempuan itu pergi dari hadapannya.
"Apa-apaan itu? kurang ajar sekali!" ketus Jacy yang tak senang.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya kepada Patricia sebab ia diam saja.
"Jacy... dia adalah aku saat masih kecil," ujarnya dengan wajah bingung.
Tercengang Jacy sadar mereka berada ditempat yang tepat, akhirnya mereka menemukan Emily yang terperangkap dalam alam bawah sadarnya.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti, kenapa kita kembali ke masa laluku?" tanya Patricia bingung.
"Bukan kita tapi Emily," ralat Jacy.
"Impian terbesar Emily adalah menjadi orang yang bisa kau andalkan, mungkin karena itu sihir memanipulasi dirinya sehingga berubah menjadi anak kecil lagi. Kembali memperbaiki masa dimana ia bisa mewujudkan impiannya," jelas Jacy.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanyanya.
"Menemukan Emily dan mengatakan bahwa ini semua adalah sihir," jawabnya.
Tanpa menundanya lagi mereka segera mencari Emily kecil, memutuskan untuk berpencar Patricia mencari kearah sungai dimana mereka sering menghabiskan waktu saat itu.
Tebakannya benar, tiga anak kecil yang ia ketahui sebagai Estes kecil, dirinya dan Emily. Bermain kejar-kejaran dan menangkap ikan untuk kemudian mereka bakar dan makan, melihat tawa mereka betapa itu telah menghanyutkan Patricia pada rasa bahagia.
Sungguh masa itu memang adalah yang terbaik dalam hidupnya, tapi ia tak boleh ikut hanyut karena akan berbahaya. Menegarkan diri ia mulai berjalan mendekati mereka, tapi sekelompok anak laki-laki tiba-tiba datang mengacau.
Mereka mengambil ikan bakar milik Emily dan memakannya, sontak itu membuat Emily kecil marah. Yang tak pernah ia sangka Emily kecil itu berani merebut kembali miliknya, bahkan perkelahian kecil terjadi.
Itu benar-benar berbeda dengan Emily yang selama ini ia kenal, Emily kecil yang asli akan pergi sambil menangis dan mengadu kepadanya.
"Emily..." gumamnya lirih.
Sungguh ia tak menyangka impian terbesar Emily adalah hal kecil baginya, hanya ingin berguna bagi orang lain dan mendapat pengakuan.
Terengah-engah mereka menatapnya, begitu juga dengan Emily yang entah mengapa tidak mengenalinya.
"Pergi atau aku yang akan menghajar kalian," ujar Patricia mengancam anak laki-laki itu.
Tentu saja anak-anak itu memilih pergi karena Patricia adalah orang dewasa, berpaling pada Emily ia melihat sorot mata yang dipenuhi dengan keberanian.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya.
"Aku baik, terimakasih tapi maaf aku tidak membutuhkan bantuanmu," ujar Emily kecil.
"Tentu saja, kau cukup kuat menghadapi semuanya sendiri."
Patricia tidak tahu ia harus bicara apa agar Emily sadar bahwa saat ini ia sedang berada dibawah pengaruh sihir, yang paling membingungkan tentu karena Emily tidak ingat semua petualangan mereka seperti dirinya.
Emily benar-benar telah terjebak dalam dunia masa kecilnya, akhirnya Patricia memilih untuk pergi meninggalkan mereka dan bicara dengan Jacy.
"Kelemahan Emily ada pada hatinya, asalkan bisa membuat hatinya percaya bahwa semua ini sihir maka ada kesempatan untuk menyelamatkannya."
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Patricia bingung.
"Kau yang paling tahu tentang Emily," jawab Jacy.
__ADS_1
Memutar otak Patricia tidak bisa menemukan cara yang tepat, pada akhirnya ia hanya akan bicara dengan Emily dari hati ke hati. Mengungkapkan betapa Emily tidak perlu merasa kecil sebab hingga saat ini ia masih bergantung kepadanya.
Kembali menemui Emily ia duduk tepat disampingnya, memperhatikan Emily yang sedang memperbaiki sepatunya yang rusak.
"Kau pintar menjahit sepatumu sendiri," ujar Patricia.
"Terimakasih," sahutnya.
"Ada satu hal lagi kelebihan mu yang tidak dimiliki orang lain bahkan Patricia, walau pun kau adalah orang yang cukup cengeng dan tidak berani melawan sekalipun kelebihan ini adalah satu-satunya senjata."
Emily kecil menoleh, menatap penasaran apa yang hendak Patricia katakan.
"Kau dapat dipercaya, bahkan Patricia meskipun dia pemberani sungguh tidak ada yang percaya kepadanya. Tapi kau... itulah mengapa orangtua Patricia selalu ingin kau menemaninya karena mereka percaya jika bersama mu Patricia akan aman, hingga besar pun Patricia tidak memiliki kekuatan untuk meminta ijin kepada orangtuanya terlebih kakeknya."
Itu adalah sebuah kebenaran yang Patricia akui hingga saat ini, kekuatan yang jarang Emily sadari.
Ia sadar sahabatnya itu terlalu ingin menjadi kuat dan melindungi teman-temannya tanpa menyadari bahwa dia adalah orang yang bertanggung jawab, padahal tanpa menjadi kuat Emily selalu dapat diandalkan dalam keadaan apa pun.
"Katakan padaku, mana yang lebih baik? menjadi kuat atau dapat diandalkan?" tanya Patricia.
Pertanyaan itu seketika membuat ingatan Emily akan petualangan mereka kembali, dirinya yang merasa bersalah telah membuat Patricia dikutuk mulai berubah menjadi normal.
"Patricia... apa yang terjadi?" tanyanya dengan linangan air mata.
"Oh Emily!" serunya sambil merangkul sahabatnya itu dengan cepat.
Berdua mereka menangis bersama, dalam satu pelukan mencurahkan isi hati yang tak pernah terkuak.
"Aku tahu kau dapat melakukannya," ujar Jacy yang entah sejak kapan berada disana.
"Ayolah, kalian bisa menangis nanti. Sekarang kita harus pergi dulu dari sini," lanjutnya.
Emily yang masih bingung harus menyimpan pertanyaannya sampai mereka aman, mengikuti instruksi Jacy mereka saling berpegangan tangan untuk masuk ke lubang tanpa dasar dari pentacle.
Whuuuuuussss
Angin kencang menerpa tubuh mereka saat jatuh kedalam, untuk beberapa menit mereka merasakan tekanan yang kuat hingga membuat kaki mati rasa.
Hhhhhhhhh Hhhhh
Patricia membuka matanya, mendapati dirinya terbaring di tengah hutan. Ia bangun bersamaan dengan Jacy dan Emily, saling melirik dan sadar mereka berada ditempat terakhir sebelum kabut datang membuat mereka tak sadarkan diri.
"Sonu!" teriak Patricia.
Tapi Sonu tak menjawab, ia masih tak sadarkan diri.
__ADS_1