
Sesuai harapan esoknya matahari bersinar dengan terang, menghangatkan bumi yang seharian kemarin di guyur hujan.
Sonu dan Jacy diantar ke danau setelah sarapan, saat sampai nampak kepala desa dengan tiga ksatria tengah berdiri di tepian danau.
"Pak! ksatria lain datang untuk membantu," seru wanita itu.
Kepala desa dan ketiga ksatria yang lebih dulu sampai menoleh, saat mereka bertatap muka Sonu tak dapat percaya dengan apa yang ia lihat.
"Hei apa yang kalian lakukan di sini?" seru Jacy segera menghampiri.
"Jacy... " panggil Patricia.
Mereka segera berpelukan untuk melepas rindu, bergantian dengan Estes dan Emily yang juga tak menyangka mereka dapat bertemu lagi secepat ini.
"Jadi ksatria itu kalian?" tanya Jacy.
Mereka tersenyum, menikmati ekspresi terkejut Jacy yang memang sudah mereka nantikan sejak dulu. Tapi kemudian senyum di wajah Patricia lenyap saat Sonu menatapnya, bahkan hening tiba-tiba karena aura dingin Sonu yang menyebar.
"Apa yang terjadi?" tanya Sonu menuntut penjelasan.
"Sebaiknya kita urus monster danau dulu," sahut Patricia mengingat tugas mereka yang belum selesai.
"Biar kami yang urus," ujar Estes.
Jacy mengangguk, ia ingin tahu seberapa hebat ketiga orang itu yang kini telah menjadi kelompok ksatria. Dari tepian mereka memperhatikan bagaimana Estes dan Patricia yang menaiki perahu kecil ke tengah danau, sementara Emily bertugas menjaga pinggiran danau.
Sampai di tengah danau Patricia meminta Maesa untuk mencari monster itu, lewat matanya ia mampu melihat tembus pandang pada air yang keruh.
Di dasar danau berlumpur Patricia melihat monster itu tengah meringkuk, segera ia memberitahu Estes posisi monster itu dengan tepat.
__ADS_1
Membawa tombak Estes menceburkan diri ke dalam danau, ia menyelam tanpa ragu dan saat ia telah dekat dengan monster itu segera ia tusuk tubuh monster itu menggunakan tombak.
Monster yang kesakitan terbangun dan berenang cepat ke permukaan danau, beruntung Estes pandai berenang sehingga ia tak terkena kibasan ekor monster yang tajam.
Saat monster menampakkan diri Patricia segera memberi perintah kepada Emily untuk membuat tabung transparan dari tengah danau sampai ke tepian yang akan membatasi gerak monster, ini juga bertujuan untuk melindungi penduduk yang melihat dari tepi danau.
Meski sebenarnya cara ini berisiko pada Estes dan Patricia yang ikut terkurung, tapi semua telah mereka pikirkan dengan baik.
Monster danau itu berbentuk seperti kadal dengan ekor yang memiliki sirip tajam, yang perlu mereka waspadai adalah sirip ini yang sering di jadikan senjata.
Brrrrrrrrhhh
Teriakan monster itu cukup aneh, suaranya bagai gesekan batang sekilas juga mirip dengan getaran daun pisang yang tertiup angin.
Jari ke-empat kakinya yang berselaput membuatnya mampu berenang dengan cepat menuju perahu yang di tumpangi Patricia, siap membalas rasa sakit yang di berikan Estes.
Brak
Monster itu menghantam perahu dengan ekornya, tak hanya membuat perahu tenggelam namun juga hancur menjadi serpihan kayu kecil.
Semua orang tersentak akan peristiwa itu, bahkan Sonu berfikir Patricia tidak akan selamat.
"Lihat!" seru seseorang menunjuk ke atas.
Semua mata kemudian terperangah menatap Patricia yang melayang di udara, setelah di perhatikan dengan baik rupanya Emily membuat kekkai yang menjadi tempat Patricia berpijak.
Tentu ini membuat Sonu tak habis pikir, ternyata hanya dalam waktu satu bulan ketiga orang itu mampu memiliki kekuatan hebat yang hampir setara dengannya.
"Estes!" seru Patricia.
__ADS_1
Itu merupakan kode dimana Patricia telah mendapatkan titik lemah sang monster, Estes yang mengambang di air kemudian mengeluarkan belatinya.
Menatap Patricia untuk mendapatkan rencananya kemudian ia mulai berenang mendekati monster itu, tidak mudah memang menghabisi monster di perairan karena itu tugasnya adalah mengunci pergerakan lawan.
Berhasil mendekati monster itu Estes kemudian naik ke atas punggung monster itu dan mencoba memotong kaki dengannya dengan belati, saat monster itu tengah berjuang melawan Estes barulah Patricia melompat turun dengan sebilah pedang yang terhunus ke depan.
Jleb
Rrrrrrrrrrrrssshhhhh
Raungan malang itu menarik perhatian semua warga yang menonton, awalnya mereka tak tahu apa yang terjadi sebab cipratan air begitu hebat dari monster yang meronta-ronta.
Sampai beberapa menit kemudian danau pun kembali tenang, Patricia dan Estes berdiri tepat di atas bangkai monster yang mengapung.
"Yeeeeeyy..... "
Prok Prok Prok
Gaduh sorak serta tepuk tangan menyambut Estes dan Patricia yang kembali ke daratan, Emily yang telah melepas kubah pelindung segera menghampiri kedua temannya untuk memastikan tak ada luka yang mereka dapat.
"Kalian berhasil mengalahkannya, terimakasih," ujar kepala desa.
"Tidak masalah, ini sudah menjadi pekerjaan kami," sahut Patricia tersenyum.
Para warga secara bergiliran memberi ucapan selamat, bahkan mereka sepakat untuk mengadakan pesta nanti malam.
"Yah... sayang sekali kali ini bukan kita pahlawannya," ujar Jacy menatap Patricia dan kawan-kawan yang tengah menjadi sorotan.
Sonu tak menyahut juga tak peduli meski kedatangannya sia-sia, ia hanya menatap Patricia lama sampai Patricia sadar dan tak nyaman akan tatapan itu.
__ADS_1