Sonu : Legenda Telah Kembali

Sonu : Legenda Telah Kembali
Bab 10 Penyelidikan Anak Hilang


__ADS_3

Sonu tahu hanya dengan berpikir ia tak akan menemukan jawabannya, apalagi mengingat ilmu pedang musuh yang ternyata satu level diatasnya. Itu membuatnya sadar bahwa seharusnya ia juga rajin berlatih melawan manusia sebab rupanya musuhnya tidak hanya monster saja.


Kini ia telah memutuskan akan rajin berlatih dan tidak terlalu memperdulikan musuh, karena itu ia melakukan aktivitasnya seperti biasa. Bersama dengan Jacy ia pergi ke serikat petualangan, mencari misi yang menarik.


"Hai Jac, Sonu!" sapa Siren.


"Hai, apa ada misi menarik hari ini?" tanya Sonu.


"Ya, ada seseorang yang menunggu kalian diatas."


"Sungguh? siapa?" tanya Jacy sambil menatap wajah manis gadis itu dengan senyum nakal.


"Ksatria, nama grupnya Reechar."


"Baiklah, terimakasih," ujar Sonu segera pergi.


"Sampai nanti sayang!" kata Jacy sambil memberikan kissbye.


Siren hanya tersenyum tanpa pernah mau membalasnya, sebagai karyawan serikat petualangan sudah lumrah baginya di goda para ksatria jadi apa pun bentuk godaan dari Jacy ia tak pernah terpengaruh.


Dilantai atas mereka melihat seorang pria dan wanita yang terlihat sedang menunggu, saat Sonu tiba si pria segera bangkit untuk menyapanya.


"Hai, kami sudah menunggu kalian dari tadi. Aku Charlie dan ini patner ku Rebecca" ujarnya.


"Senang bertemu dengan kalian," sahut Sonu sambil menyalami mereka.


Namun gadis bernama Rebecca itu sangat acuh, ia bahkan terkesan membenci Sonu dan Jacy dari gelagatnya yang tak mau membalas uluran tangan Sonu.


"Kau menunggu kami?" tanya Sonu yang tak mempermasalahkan tindakan Rebecca.


"Ya, aku punya pekerjaan untuk kalian."


"Apa itu?" tanya pula Jacy.


"Sebenarnya ini misi yang kami ambil dari seorang jenderal, dia meminta bantuan kami untuk menyelidiki kasus anak-anak yang hilang. Sudah satu bulan kami mengerjakan misi ini tapi tidak ada kemajuan, karena itu aku pikir jika kalian membantu mungkin pekerjaannya akan cepat selesai," jelasnya.


"Bagaimana dengan bayarannya?" tanya Sonu.


"Setengah dari bayaran yang kami terima," sahut Charlie.

__ADS_1


Sonu dan Jacy saling menatap tanpa kata, tapi mata mereka sarat akan diskusi batin yang akhirnya menerima pekerjaan itu.


"Jelaskan rinciannya," ujar Sonu.


Charlie pun menceritakan awal peristiwa itu terjadi sebagaimana yang di ceritakan jendral kepadanya, beberapa anak hilang secara misterius dalam kurun waktu dua minggu saja. Besar kemungkinan ini adalah ulah penyihir hitam, mengingat mereka suka menjadikan anak-anak sebagai tumbal. Tapi ada sesuatu yang janggal, yang membuat Charlie tak yakin bahwa itu perbuatan penyihir hitam.


"Beberapa waktu yang lalu seorang anak kecil diculik, ada saksi mata yang melihat si penculik dan dia yakin itu bukan penyihir hitam sebab penculik itu seorang pria dengan pakaian serba hitam dan menggunakan topeng," ungkap Charlie.


Seketika Sonu teringat pada sekelompok orang yang menyerangnya, mereka juga berpakaian serba hitam dan menggunakan topeng.


"Baiklah kami akan menyelidikinya," ujar Sonu yang kemudian berpamitan pergi.


"Apa kau yakin?" tanya Rebecca setelah kepergian Sonu dan Jacy.


"Kenapa tidak? mereka terkenal tidak pernah gagal dalam menjalankan misi!" sahut Charlie.


"Sejauh ini mereka hanya membasmi monster tak berotak," balas Rebecca dengan ketus.


"Percayakan saja pada mereka," sahut Charlie.


Jacy dan Sonu memulai penyelidikan dengan menemui orangtua para korban, bertanya tentang insiden itu dan ciri-ciri anak mereka yang hilang. Sonu melakukan pekerjaannya dengan sangat detail, ia bahkan tak melewatkan hal kecil sekalipun sebab baginya semua bisa dijadikan petunjuk.


Jacy yang sudah mengenal baik sifat Sonu hanya menonton sambil menikmati minuman, tak ada gunanya bicara atau menghibur sebab itu justru akan membuat Sonu makin kesal.


"Hei Son! ada pesan!" teriak Jacy mendapati seekor burung merpati hinggap dengan gulungan kertas menempel di kakinya.


Jacy segera membuka gulungan kertas itu untuk melihat isi pesan tersebut sementara Sonu berjalan kearahnya.


"Ini dari Charlie, dia menemukan saksi mata baru," ujarnya setelah membaca.


Tanpa menunda lagi mereka segera bersiap dan pergi menemui Charlie, tak butuh waktu lama untuk sampai karena mereka menggunakan kuda sebagai transportasi.


"Kalian sudah tiba," ujar Charlie menyambut kedatangan mereka.


"Dimana dia?" tanya Sonu.


"Dia orangnya!" jawab Charlie menunjuk seorang pria yang tengah bicara dengan Rebecca.


"Hai cantik!" sapa Jacy dengan senyum khasnya.

__ADS_1


"Kita dapat informasi baru," sahut Rebecca tanpa memperdulikan Jacy.


Itu membuat Jacy kehilangan senyumnya, tapi itu bukan masalah sebab ini bukan kali pertama ia mendapat penolakan.


"Seorang pria dengan pakaian serba hitam serta menggunakan topeng, ia membawa anak laki-laki kedalam hutan. Yang menarik adalah ukiran pada pegangan pedangnya," ujar Rebecca sambil menyerahkan gambar yang ia buat.


Mereka melihat gambar itu dan menemukan sesuatu yang berharga.


"Bulan sabit, bukankah mereka pengikut puan sihir?" tanya Jacy.


"Yeah, sudah lama mereka tidak muncul dan sekarang tiba-tiba menculik anak-anak," sahut Charlie.


"Apa kau yakin ini perbuatan mereka?" tanya Sonu ragu.


"Butuh bukti apa lagi? ukiran ini menjelaskan semuanya," sahut Rebecca.


"Sebaiknya kita sisir dulu hutan ini, barangkali ada petunjuk lainnya," ujar Sonu seraya berjalan pergi.


"Oh tunggu aku!" teriak Jacy sambil berlari kecil.


Rebecca hanya menatap dengki kedua orang itu, sejak awal ia memang sudah tak suka pada Sonu dan Jacy sehingga tak ada kecocokan diantara mereka dalam menjalankan kasus itu.


Sementara Sonu yang tak perduli akan penilaian orang tentang dirinya terus berjalan menyisir hutan, butuh beberapa menit lamanya sampai Jacy menemukan sebuah petunjuk. Itu adalah sepatu anak kecil yang hanya ada sebelah, melihat letak jatuhnya Sonu memperkirakan anak itu dibawa jauh ke dalam hutan.


"Sebaiknya kita kembali besok," ujar Jacy dengan suara bergetar.


"Haruskah?" tanya Sonu kurang setuju.


"Hari mulai senja, kau tahu dikedalaman hutan bukan dunia yang aman untuk manusia."


"Sejak kapan kau menjadi penakut Jac?" olok Sonu dengan senyum menggoda.


"Kita tidak tahu sedang berhadapan dengan apa? lagi pula jika itu anggota bulan sabit kau tahu mereka adalah ras kanibal," sahut Jacy ketir.


"Baiklah, mari kita kembali besok saja," kata Sonu mengalah.


Mereka mulai berjalan kembali ke pemukiman, tapi tiba-tiba.


Aaaaaaaaaaa

__ADS_1


Sebuah teriakan menggema di seluruh area hutan.


__ADS_2