
Memutuskan untuk memeriksa Sonu berjalan mengendap-endap diikuti yang lain, dalam keheningan malam jeritan itu semakin lama semakin terdengar jelas. Jeritan yang bila didengar baik-baik seperti seruan minta tolong, seolah jeritan yang berasal dari neraka.
Dari balik pintu Sonu mengintip keluar, memastikan terlebih dahulu tak ada siapa pun disana. Hanya ada pepohonan yang dahannya bergoyang di tiup angin, tangannya sudah memegang kenop dan siap membuka pintu untuk menghambur keluar.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Kepala Desa tiba-tiba.
Aaaahh, Hhhhh Hhhhh
"Anda menakuti kami!" ujar Emily teloncat kaget.
"Maafkan aku."
Aaaaaaaaaargghh
Kembali jeritan itu terdengar yang membuat mereka saling menatap satu sama lain.
"Aahhhh, kalian pasti terbangun karena suara itu," ujar Kepala Desa dengan nada keluhan.
"Apa anda tahu suara apa itu?" tanya Sonu.
"Ya," sahutnya.
Didepan perapian mereka berkumpul untuk mendengar cerita Kepala Desa, ditemani jeritan yang tak pernah berhenti.
"Namanya Cally, dia adalah gadis termanis di Desa ini. Gadis yang selalu tersenyum, periang dan baik hati. Suatu hari dia bermain entah kemana dan tak pulang sampai malam, kami semua mencarinya dan menemukan tubuhnya terbaring dibawah pohon ek di tepian hutan. Semenjak itu dia menjadi sangat pendiam, sering melamun dan pada malam harinya dia akan terus menjerit."
"Apa kalian sudah mencaritahu penyebabnya?" tanya Sonu sementara yang lain menatap ngeri.
"Kami sudah membawa dia ke tabib terbaik di dekat Desa ini, tapi sampai sekarang tak pernah ada yang tahu penyebabnya."
"Mungkinkah... dia terkena kutukan?" tanya Patricia mengingat dirinya.
"Entahlah, tak ada yang tahu pasti."
"Boleh aku memeriksanya?" tanya Sonu.
Kepala Desa menatap cukup panjang pada Sonu sebelum akhirnya mengangguk, saat itu juga ia membawa mereka ke rumah Cally untuk memeriksanya.
Orangtua Cally menyambut hangat niat baik mereka tanpa harapan, sebab sekian lama mereka mencoba mengobati Cally tapi tak pernah ada yang berhasil.
Di sebuah ruangan yang diduga kamar Cally mereka melihat gadis itu diikat diranjang dengan kondisi yang memprihatinkan, ia terus menjerit sambil meronta-ronta.
"Kami terpaksa melakukan ini, jika tidak dia akan menyakiti dirinya sendiri atau orang lain," ujar ibu Cally sedih.
Tak ada yang menyahut, mereka cukup mengerti kondisi yang menyakitkan itu. Sonu mulai berjalan mendekat untuk melihat lebih jelas, mencari sesuatu di tubuh gadis itu.
__ADS_1
"Jacy, lihatlah ini!" ujar Sonu sambil menyibakkan rambut kusut Cally.
Jacy mendekat, melihat sebuah memar yang membentuk pola. Mengetahui apa yang menimpa Cally Jacy pun memeriksa anggota tubuh yang lain sampai ia menemukan sebuah tanda kecil di punggung gadis itu.
"Patricia! tebakan mu benar!" ujar Jacy setelah selesai memeriksa.
"Ja-jadi... dia... terkena kutukan?" tanya Emily gugup.
"Lebih tepatnya sihir hitam, sedikit berbeda dengan kutukan tapi masih satu kategori."
"Kau bisa menyelesaikannya?" tanya Sonu.
"Kita coba saja!" jawabnya.
Jacy pun melakukan persiapan, dengan garam ia membuat pentagram tepat di samping ranjang.
"Patricia aku minta obatmu," ujar Jacy.
"Baiklah," sahut Patricia segera pergi untuk mengambilnya.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Kepala Desa sambil memperhatikan Jacy.
"Mencoba menyembuhkan gadis itu," jawab Sonu.
"Jacy bisa melakukannya?" tanya Emily.
Patricia kembali untuk memberikan obatnya, setelah persiapan selesai Jacy memberikan obat itu kepada Cally. Perlahan gadis itu mulai tenang dan setelah ia berhenti menjerit Jacy meminta ikatannya di buka, awalnya mereka ragu. Tapi setelah Sonu berhasil meyakinkan mereka ikatan itu pun di buka, Jacy meminta Cally dipindahkan ke dalam pentagram untuk memulai pengobatan.
"Mungkin ini akan sedikit sulit, tolong lindungi aku!" pinta Jacy penuh harap.
"Percayakan padaku," sahut Sonu.
Hhhhhhhhh
Menghembuskan nafas panjang Sonu duduk bersila tepat dihadapan Cally yang terbaring diatas pentagram, dengan kedua tangan yang bersilang di dada ia mulai menutup mata dan membaca mantra.
......................
Whuuuuusss
Angin berhembus dengan kencang, seolah menyambut kedatangannya di dimensi lain waktu. Berjalan perlahan Jacy melihat bagaimana pohon pohon menari, melambaikan dahannya seolah mengajak ia untuk ikut menari.
Langkahnya terhenti di dekat pohon ek tepat di pinggir sungai, disana Cally berdiri dan asik mengobrol dengan seorang pria bertudung merah.
Tiba-tiba sepasang mata merah milik pria itu menatap tajam padanya, dan dalam waktu satu kedipan mata pria itu kini berdiri di hadapan Jacy.
__ADS_1
Ia membuka tudungnya, memperlihatkan bagian rusak di sebelah wajahnya seperti bekas terbakar.
"Siapa kau?" tanya pria itu dengan suara parau.
"Lepaskan gadis itu, dia terlalu menderita," sahut Jacy.
"Kau tidak mengerti! aku dan Cally saling mencintai! kami akan hidup bersama selamanya!" bentak pria itu.
"Kau tidak bisa egois, kau bukan makhluk yang memiliki darah ataupun daging," sahut Jacy.
Mata pria itu semakin memerah, memancarkan kemarahan yang siap meremukkan tulang Jacy.
......................
Uhuk Uhuk Uhuk
"Jacy!" seru Emily cemas mendapati dia terbatuk.
"Sudah dimulai," ujar Sonu melihat gambar pentagram itu mengeluarkan cahaya.
"Apa yang terjadi?" tanya Kepala Desa bingung.
Sebingung orangtua Cally dan yang lain, sementara Sonu hanya fokus pada Jacy. Pada saat ini yang sedang menantang bahaya adalah Jacy, karena itu ia harus tetap waspada sebab jika ia lengah sedikit nyawa Jacy dapat terancam.
Beberapa menit berlalu dengan tubuh Jacy yang kian lama semakin berkeringat banyak, dibarengi dengan cahaya dari pentagram yang semakin terpancar kuat.
......................
Pria itu adalah petarung yang hebat, di dimensi miliknya tentu ia sangat diuntungkan hingga bisa bergerak dengan sangat cepat. Tapi Jacy juga cukup berpengalaman, Madam adalah guru sekaligus wanita pertama dalam perjalanan pujangganya telah mengajari banyak hal dalam dunia sihir.
Oleh karena itu ia tidak akan kalah, satu dua serangan baginya sudah cukup untuk mengalahkan pria itu. Yang terpenting adalah serangannya tepat mengenai sasaran.
......................
Menit demi menit terus berjalan, mereka hanya bisa menonton dengan perasaan khawatir yang penuh harap. Saat ini Jacy tengah berjuang sendiri, dan itu membuat Patricia membenci dirinya sebab tak ada yang bisa ia lakukan untuk membantu.
"Apakah dia baik-baik saja?" tanya ibu Cally.
"Dia tidak menunjukkan tanda-tanda kalah, teruslah berdoa karena itu satu-satunya jalan untuk membantu Jacy," sahut Sonu.
Brrrruuuuhhhh Uhuk Uhuk Uhuk
Tiba-tiba Jacy memuntahkan darah mulutnya yang membuat semua orang kaget sekaligus khawatir.
"Kau baik?" tanya Sonu menghampiri.
__ADS_1
"Yeah... sekarang... terserah padanya.. " sahut Jacy terbata sambil menatap Cally yang masih memejamkan mata.