
Gadis kecil itu tak bisa berhenti tertawa sebab rumput terus menggelitiknya saat ia berjalan, sampai seekor kumbang menarik perhatiannya untuk berlari mengejar.
Penuh semangat ia pun berlari seraya melompat-lompat, mencoba meraih kumbang yang terbang itu dengan kedua tangannya yang mungil.
Tapi kumbang terbang terlalu tinggi, dan menghilang dibalik dahan yang dipenuhi daun.
Gadis kecil itu terdiam, memperhatikan bagaimana angin menggoyangkan dahannya seperti lambaian tangan yang mengajak menari.
Lalu matanya tanpa sengaja menangkap basah seseorang yang sedang mengintip.
"Siapa disana?" tanyanya dengan lantang.
Seseorang atau sesuatu yang mengintip itu segera bersembunyi dibalik pohon, membuat gadis kecil itu penasaran hingga mendekatinya.
"Jangan takut, keluarlah.. " ujar gadis kecil itu.
Awalnya dia ragu, tapi bujukan gadis kecil itu akhirnya membuatnya berani menampakkan diri. Namun ia masih tak berani memperlihatkan wajahnya, ia hanya berdiri sambil diam-diam menatap gadis kecil itu dari balik tudung merahnya.
"Hai, aku Cally. Siapa namamu?" tanyanya ramah.
"Um... Xavier," sahutnya ragu.
"Hai Xavier, kau mau bermain dengan ku?" tanya Cally sambil tersenyum penuh.
Untuk pertama kalinya Xavier merasa hatinya terasa hangat, dari balik tudung ia tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Kalau begitu kejar aku!" teriak Cally segera berlari seraya tertawa.
Xavier pun ikut tertawa, di bawah cuaca cerah dengan angin sejuk mereka terus berlari sambil tertawa. Mengendap-endap untuk menangkap serangga dan bermain air hingga pakaian mereka basah kuyup.
"Xavier ini sudah sore, aku harus pulang! jika tidak orangtua ku akan menghukumku!" ujar Cally.
"Baiklah," sahut Xavier kecewa.
Cally tersenyum dan melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan.
"Cally!" panggil Xavier menghentikan langkah gadis itu.
"Apa... besok kita bisa bertemu lagi?" tanyanya ragu.
"Tentu! aku akan datang membawakanmu roti kismis!" seru Cally.
Xavier tersenyum dan mengangguk, membiarkan gadis kecil itu pulang. Sementara ia juga pulang ke gubuk yang disebut rumah, baru saja ia membuka pintu tiba-tiba.
Prang
Seorang wanita melemparkan panci kecil kepadanya, beruntung panci itu hanya mengenai pintu di belakangnya.
"Kau baru kembali? kemana saja kau? apa kau membawa apa yang kuminta?" teriaknya.
Xavier berjalan perlahan mendekati wanita itu, menyerahkan sebuah tas kecil untuk kemudian diperiksa.
"Bagus! sekarang kemari dan coba ini!" ucap wanita itu sambil menarik tangan Xavier.
Dengan paksa ia menyuruh Xavier meneguk sebuah cairan hijau yang diambil dari kuali, rasanya sangat pahit dengan sensasi panas di mulut.
"Bagaimana? kau merasakan sesuatu?" tanyanya penuh harap.
Tapi Xavier menggeleng yang membuat wajahnya tak senang.
"Mungkin tidak ada efeknya," sahutnya sambil berjalan ke perapian.
Diambilnya sebatang besi dengan ujungnya yang telah lama dibakar, tanpa ancang-ancang ia menempelkan ujung batang besi itu ke tangan Xavier.
Jeess..
Argh
Sekuat tenaga Xavier meredam rasa sakit dengan mengencangkan seluruh otot dalam tubuhnya, sampai wanita itu mengangkat tongkat besinya.
"Sial! tidak bekerja!" gerutu wanita itu melihat bekas luka bakar ditangan Xavier.
"Oh mungkin itu meningkatkan sihirmu, cepat! hancurkan vas itu dengan sihirmu!" perintahnya.
Belum pulih tenaga Xavier ia sudah harus bersiap, disekanya keringat yang mengalir dari kening sebelum mengambil langkah.
Berdiri tepat di samping wanita itu ia mencoba memfokuskan diri pada vas bunga di atas meja, tangannya terulur dengan nafas yang sudah mulai normal.
"Dari langit dan bumi, serta semesta pemilik segala ilmu. Ikuti perintah tuanmu sebagaimana dia membuat perjanjian, pecahlah!" teriak Xavier merapal mantra.
Sebuah kilatan cahaya muncul dari tangannya, mengarah pada vas itu tapi.
Tuk
Vas itu hanya terjatuh.
__ADS_1
"Sial! kenapa kau sangat lemah? kenapa tidak berhasil? aku sudah mengajarkan semuanya padamu kan?" teriak wanita itu kecewa.
Xavier hanya bisa diam, menerima semua hujatan yang ditujukan padanya.
"Cepat lakukan lagi! jangan bergerak dari tempat mu sampai kau bisa menghancurkan vasnya!" perintah wanita itu.
Semalaman tanpa makan dan minum, meski Xavier merasa lelah dan kakinya sudah mati rasa tapi ia tetap berdiri disana untuk terus merapal mantra. Mencoba menghancurkan vas itu meski terus gagal, hingga akhirnya pagi tiba wanita itu menyuruhnya pergi untuk mencari beberapa jenis tanaman.
Terseok-seok Xavier menarik kakinya agar mau terus melangkah pergi, meninggalkan neraka sejenak hanya untuk menarik nafas.
Ia pergi ke pinggir sungai tempat dimana kemarin ia bermain dengan Cally, tempat itu sunyi meski sebenarnya ada beberapa hewan yang menyerukan nyanyian pagi.
Bersandar pada pohon ek Xavier menikmati suasana damai yang selalu ia dambakan, sampai matanya terlelap begitu saja.
Namun saat rasanya baru terlelap tiba-tiba ia mendengar sebuah tawa, perlahan matanya terbuka dan mendapati Cally sedang mengejar kupu-kupu dengan riangnya.
"Oh kau sudah bangun!" teriak Cally saat melihat Xavier bangkit.
"Kau membangunkan ku," sahut Xavier pelan.
"Maaf aku tak sengaja, lagi pula kau sudah tidur cukup lama jadi tidak apa-apa kan?"
"Sungguh? apa aku tidur cukup lama?" tanya Xavier tak percaya.
Cally mengangguk yang membuat Xavier heran, tapi setelah melihat matahari yang sudah meninggi sadarlah ia bahwa memang ia sudah tidur sejak tadi.
"Ini roti yang ku janjikan, cobalah!" ujar Cally sambil menyerahkan sebuah bungkusan kertas.
Begitu Xavier membuka bungkusan itu aroma manis seketika menyeruak, membuat perutnya yang keroncongan berdemo. Dengan lahap ia segera memakan roti itu, meski sudah dingin tapi ia masih bisa merasakan kismis yang manis sementara Cally hanya diam memperhatikan.
"Xavier, kenapa kau selalu memakai tudung?" tanya Cally.
"Itu... karena wajahku jelek," jawabnya pelan.
"Memang kenapa kalau wajahmu jelek? kau tidak boleh malu pada dirimu sendiri."
"Tidak! hanya saja... wajahku akan membuatmu takut," sahut Xavier.
"Teman tidak boleh seperti itu, tidak peduli bagaimana rupa mu aku akan tetap berteman dengan mu."
"Sungguh?" tanya Xavier.
Cally mengangguk yakin, meski ragu tapi akhirnya secara perlahan ia menurunkan tudungnya. Memperlihatkan wajahnya yang memiliki bekas luka, dengan ragu ia menatap Cally tapi wajah gadis itu terlihat tak takut padanya.
"Tidak, aku melakukan kesalahan dan dia menyiram ku dengan air mendidih."
"Apa masih sakit?" tanya Cally lagi.
"Tidak," jawabnya.
"Kalau begitu selama dengan ku kau tidak boleh menyembunyikannya," ujar Cally yang membuat air mata Xavier jatuh begitu saja.
Untuk pertama kalinya ia merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, setiap hari mereka bertemu di tepi sungai dan bermain bersama. Meski saat pulang Xavier harus menerima berbagai hukuman yang semakin lama semakin sadis hingga membahayakan nyawanya.
Hari berganti Hari, minggu berganti minggu, tahun demi tahun pun telah berganti. Kini Cally adalah remaja yang cantik sementara Xavier adalah pemuda yang tak berubah.
Menghabiskan tahun demi tahun bersama Cally akhirnya menempati hati Xavier secara utuh, sementara Cally telah nyaman dengan Xavier.
Di musim salju pertama untuk tahun-tahun penuh kebahagiaan itu Xavier ingin memberikan sebuah hadiah kecil, hanya kalung yang ia buat sendiri menggunakan kerang dan batu.
Tapi hari itu Xavier tak bisa keluar, ia harus membuat tanaman tumbuh dengan cepat menggunakan sihirnya. Meski malam itu telah berganti pagi ia tidak diijinkan untuk pergi, kesal sekaligus lelah membuat amarahnya memuncak di ubun-ubun.
Cahaya matahari yang masuk lewat celah jendela membuat hatinya kacau tak karuan, berbagai kenangan bersama Cally membuat sisa tenaganya tak berarti.
Putus asa ia menurunkan tangan, dalam hati meminta maaf kepada Cally sebab ia akan datang terlambat.
"Angkat tanganmu! dasar tidak berguna! selesaikan tugasmu atau ku cabik dagingmu?" teriak wanita itu.
Dengan sangat terpaksa Xavier kembali mengangkat tangannya, kembali merapal mantra meski tak ada hasilnya.
Syuut Buk
Aaargh
Satu cambukan itu membuat Xavier tersadar.
"Sudah kubilang lakukan dengan benar! kenapa kau sangat tidak berguna?" teriak wanita itu.
Syuut Buk
Setiap kali Xavier gagal satu cambukan mendarat di punggungnya, membuat goresan luka yang memberi rasa pedih dan sakit. Waktu terus berjalan, matahari semakin meninggi dan Xavier masih saja gagal.
Ia sudah lelah, sudah putus asa dan sudah menyerah. Tapi cambukan itu tak pernah berkurang kekuatannya, membuat amarahnya kembali memuncak di ubun-ubun. Setiap cacian yang terlontar dari mulut wanita itu akhirnya tak ia dengar, hanya suara tawa Cally yang ada.
Syuut Set
__ADS_1
Untuk pertama kalinya tangan itu ia gunakan untuk menghentikan hukuman, wanita itu terdiam kaget sebab ini adalah kali pertama Xavier memandangnya dengan berani.
Bahkan ia bisa melihat kebencian dimata itu, begitu besar bagai api yang siap melahapnya.
"Sudah cukup, biarkan aku pergi," ujar Xavier pelan tanpa melepaskan cambukan itu.
"Oh kau sudah berani padaku rupanya, kau ingin hukuman yang lebih berat hah?" sahut wanita itu dengan nada keras.
Itu bukanlah jawaban yang Xavier inginkan, karena itu ia menarik cambuknya menyebabkan wanita itu jatuh terjungkal.
"Kau... berani sekali!" teriak wanita itu murka.
Diambilnya sebuah pisau dan mulai menyerang Xavier, tapi Xavier berhasil mengelak. Wanita itu semakin murka hingga ia mengganti pisau dengan pedang, terus menyerang Xavier hingga berhasil menorehkan beberapa luka sayatan.
Kali ini Xavier tak bisa tinggal diam, ia harus membalas dan mengakhiri penderitaannya. Maka ia pun juga mengambil pedang, meski ia tak mahir menggunakannya tapi Xavier berusaha dengan keras.
Pertarungan sengit terjadi, sayangnya wanita itu lebih unggul dari Xavier. Ia mendapat satu kesempatan besar setelah menumbangkan Xavier, tanpa ampun ia menusuk perut Xavier dan merobeknya sebelum menarik kembali pedangnya.
Ugh
Ini bukanlah kali pertama Xavier merasa sakit, hanya saja mengetahui ia tak lagi memiliki kesempatan bertemu dengan Cally membuat ketidak ikhlasan membangkitkan kheos dalam dirinya.
Dengan mata yang hanya tertuju pada wanita itu ia merapalkan sebuah mantra.
"Wahai pemilik bara dengan panasnya, berikan sedikit kehangatan pada jiwa yang kedinginan. Ijinkan dia menjadi bagian dari bara itu, hingga seluruh jiwanya berbaur dengan panasnya."
Perlahan api kecil muncul dibawah telapak kaki wanita itu, semakin lama semakin besar yang melahap seluruh tubuhnya.
Aaaaaaaaaargghh
Jeritan pertama menandai panasnya api yang tak mau padam meski telah ia basuh dengan air, semakin lama jeritan itu semakin kencang saat kulitnya hampir habis terbakar.
Ada senyuman kecil diwajah Xavier melihat bagaimana api itu akhirnya mengbungkam jeritan dan menghanguskan tubuh itu menjadi debu.
"Akhirnya... aku bisa merapalkan mantra dengan benar," gumam Xavier.
Dengan sisa darah yang masih mengalir ditubuhnya Xavier mencoba merangkak keluar, menikmati butiran salju yang turun ke bumi.
Menutup noda darah ditubuhnya akibat aliran darah yang tak mau berhenti, menutup mata Xavier mencoba menemukan Cally. Mengingat bagaimana gadis itu tersenyum padanya, memberi kebahagiaan hingga meski hidupnya dipenuhi penderitaan tapi ia bersyukur telah lahir kedunia.
Untuk terakhir kalinya, sebelum ia benar-benar harus pergi. Xavier merapalkan sebuah mantra untuk menandai cintanya.
"Dari penguasa langit, pemilik jiwa yang bersemayam didalamnya. Wahai sang pembolak balik hati, biarkan aku menempati benaknya."
...----------------...
Whuuuuusss
Bersama dengan hembusan angin kesadaran Cally kembali pada benaknya, meski belum menempati raganya. Kini ia bisa berfikir dengan sehat, bertanya mengapa dia berada disana.
Tapi yang ada didepannya adalah sebuah pemandangan mengerikan, sekali lagi Xavier kalah di tangan musuhnya. Namun Jacy tidak mengakhiri hidupnya atau menarik paksa Cally agar pergi dari sana, justru dengan lembut ia berkata.
"Cinta tidak boleh egois, kau membahagiakan hatinya tapi membuat raganya menderita. Jika kau ingin memilikinya maka biarkan dia datang padamu tanpa paksaan, tunggulah dia sampai takdir mempertemukan kalian."
Jacy telah memutuskan sisanya akan ia serahkan kepada Cally, oleh sebab itu ia pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Xavier.... kau... mengutuk ku?" tanya Cally tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat Xavier kaget, tapi kemudian air mata penyesalan berlinang di wajahnya.
"Maafkan aku.... aku hanya ingin terus bersama mu," ujar Xavier.
Cally terdiam, tapi kemudian ia berjalan menghampiri Xavier dan memeluk tubuhnya dengan erat.
"Tidak apa-apa, aku mengerti," sahut Cally yang membuat deraian air mata Xavier semakin deras.
Cally memang selalu seperti itu, begitu perhatian dan pengertian sehingga hati Xavier merasa ikhlas. Perlahan ia biarkan Cally pergi dari dirinya, sementara ia akan tetap disana untuk menunggu.
...----------------...
"Cally.." panggil ibunya saat melihat mata Cally perlahan terbuka.
"Oh Cally! akhirnya kau sadar juga!" sorak ayahnya.
Cally yang belum sadar sepenuhnya hanya menatap setiap orang tanpa kata, masih bingung dengan apa yang terjadi. Tapi meski begitu saat ia melihat Jacy ia tahu apa yang harus ia katakan, "Terimakasih telah menunjukkan jalan pada kami."
Jacy mengangguk, ini bukanlah masalah besar baginya yang telah banyak melihat berbagai kisah.
Sisa malam yang ada mereka gunakan untuk beristirahat, anehnya malam itu Patricia tak demam juga tak mimpi buruk. Ia dapat tidur dengan nyenyak dan bangun dengan badan yang bugar, karena tak ingin memperlambat perjalanan Sonu mengajak yang lain untuk segera meninggalkan desa itu.
Mereka tak keberatan, meski cukup susah untuk pergi sebab orangtua Cally ingin menjamu mereka sebagai ucapan terimakasih.
Dengan sopan Jacy menolak, memberi pengertian bahwa mereka memiliki misi penting yang tak boleh ditunda.
Akhirnya sebagai gantinya mereka di beri beberapa koin untuk bekal selama perjalanan, dengan senang hati Jacy menerimanya dan mereka pun pergi.
__ADS_1