Sonu : Legenda Telah Kembali

Sonu : Legenda Telah Kembali
Bab 24 Kunai


__ADS_3

Tiga hari sudah berlalu semenjak mereka meninggalkan desa terakhir setelah pertarungan melawan monster ular, tiga hari berkeliaran dihutan tanpa mandi adalah sebuah penyiksaan untuk gadis.


Di hari keempat akhirnya mereka menemukan sumber mata air, tak terlalu besar tapi cukup untuk digunakan mandi.


"Silahkan mandi duluan, kami akan berjaga di sekitaran sini," ujar Jacy sambil mengikat kuda mereka pada sebatang pohon.


"Untuk apa kau berjaga?" tanya Patricia.


"Tentu saja demi keselamatan kalian, kita tidak tahu apa yang akan terjadi. bagaimana jika orang jahat tiba-tiba datang?" sahut Jacy.


"Maksud mu kau?!" tanya Patricia penuh tudingan.


"Aku? kenapa denganku?" tanya Jacy merasa tersinggung.


"Satu-satunya bahaya yang ada hanya kau," ucap Patricia lebih jelas.


"Aaa... terimakasih atas perhatiannya, kami akan beritahu setelah selesai jadi kalian bisa pergi sekarang," ujar Emily cepat mengakhiri pertengkaran yang belum terjadi.


"Baik," sahut Jacy dengan wajah kesal.


Sementara Sonu hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil, menatap Patricia yang telah kembali menjadi dirinya sebelum pergi.


"Kenapa kau?" tanya Emily setelah para pemuda pergi.


"Apa?" tanya Patricia merasa tak berdosa.


"Ucapan mu itu! sungguh itu tidak sopan Patricia! kau tidak boleh bicara seperti itu apalagi kepada orang yang menyelamatkan hidupmu," tukas Emily.


"Jacy tidak menyelamatkan hidupku! sonu yang melakukannya, dia hanya ikut dalam perjalanan ini karena patner Sonu."


"Tetap saja kau tidak boleh bicara seperti itu," tegas Emily.


"Kenapa kau sangat membelanya?" tanya Patricia yang membuat Emily bungkam.


Jelas Patricia mudah menebak alasannya, mereka telah bersama dan itu adalah hal yang wajar tapi Patricia tidak setuju.


"Sebaiknya kau lupakan mata keranjang itu," tukasnya.


"Apa? kenapa? kenapa kau mengatainya seperti itu?" tanya Emily kesal.


"Karena pria seperti dia tidak bisa bertahan dengan satu wanita, aku sangat mengenalmu Emily dan aku tidak bisa biarkan pria seperti dia mendapatkan mu. Aaargghh...andai aku punya kakak laki-laki aku pasti sudah menjadikan mu kakak ipar," ketus Patricia merasa jengkel.


Emily hanya tertawa, senang bisa melihat Patricia ceria yang selalu melindungi lagi.


Tapi ia tak mau mengakali hati, ia sudah terlanjur tertarik magnet yang ditebar Jacy. Dalam perjalanan itu ia selalu mencari alasan agar bisa berjalan disamping Jacy, banyak berinteraksi dengannya sampai Patricia merasa jengkel.


"Sungguh biarkan aku membunuhnya," ujar Patricia dengan tatapan benci.


Sonu menatap arah pandang Patricia yang tertuju pada Jacy, menyadari apa yang membuatnya kesal.


"Aku mohon jangan, dia satu-satunya rekan kerjaku," sahut Sonu.


"Aku akan menggantikannya, bagaimana?" tanya Patricia.

__ADS_1


"Um... tidak terimakasih!" sahut Sonu.


"Arghh," erang Patricia yang membuat Sonu tersenyum kecil.


Akhirnya mereka sampai juga di peradaban, Patricia yang sudah rindu dengan roti langsung meminta mereka untuk singgah di kedai.


Mereka tak bisa menolak sebab Patricia sangat pandai bicara, setelah puas makan barulah mereka mencari penginapan.


"Tolong dua kamar," ujar Sonu kepada pemilik penginapan.


Pria itu mengangguk dan mengantarkan mereka, Patricia yang kekenyangan memilih untuk tidur sementara Emily akan ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan mereka.


Emily tak menyangka ternyata pasar itu lebih ramai dari yang ia pikirkan, sebagai gadis ia tergoda pada beberapa kain yang indah dan halus namun sayang uang yang ia miliki tak akan cukup untuk membelinya.


Tak boleh berlama-lama karena hatinya akan semakin tergoda ia pun cepat membeli beberapa barang penting seperti obat dan lain-lain, tapi dalam perjalanan pulang ia melihat Sonu sedang melihat-lihat senjata.


"Hai, kau belanja juga?" sapanya.


"Oh, ya," sahutnya.


"Sendiri? dimana Jacy?" tanya Emily lagi.


"Um.... entahlah, tadi kami bersama tapi kemudian dia menghilang begitu saja. Mungkin dia sudah kembali ke penginapan," sahutnya.


Sebenarnya Emily ingin pergi untuk menemui Jacy, tapi ia terlalu malu kepada Sonu sehingga akhirnya ia memutuskan untuk tetap bersama Sonu.


"Kau akan membelinya?" tanya Emily


Saat bertarung melawan monster ular Sonu menyadari pedangnya rusak, hanya sebuah patahan kecil tapi bagi ksatria kerusakan kecil dapat mengakibatkan kegagalan besar. Untuk itu ia segera memperbaikinya selagi sempat.


"Begitu rupanya," sahut Emily sambil mengangguk.


"Ini pedang mu tuan, biayanya tiga koin emas," ujar pria itu sambil menyerahkan pedangnya.


Sonu merogoh sakunya untuk mengambil kantung koin, tapi sebuah kunai menarik perhatiannya. Itu sebuah kunai dengan ukiran bunga yang cantik, senjata bagus untuk seorang gadis.


"Berapa yang ini?" tanya Sonu mengambil kunai itu.


"Satu perak," sahutnya.


"Aku ambil," ujar Sonu segera membayar belanjaannya.


Selesai belanja mereka memutuskan untuk kembali ke penginapan bersama sambil asik mengobrol, baru kali ini mereka bicara banyak dan Sonu sedikit terbuka hingga mau menceritakan sedikit kisah tentang dirinya.


Tentu kisah itu hanya sebuah petualangannya membasmi monster sebagai ksatria.


"Ah ada gula-gula!" seru Emily tiba-tiba.


Tanpa pikir panjang ia segera menghampiri kedai itu dan menanyakan rasa apa saja yang dijual, itu adalah makanan manis kesukaan Patricia. Dulu saat mereka kecil Patricia sering memakannya hingga sakit gigi, selama seminggu ia tak bisa makan dan Emily terus menangis merasa bersalah sebab ia yang memberi makanan itu.


"Aku akan membelinya, kau mau?" tawar Emily.


"Um, tidak usah."

__ADS_1


"Ayolah, ini hanya gula-gula. Rasa apa yang kau suka?" tanya Emily memaksa.


"Baiklah, aku ingin strawberry."


"Tolong rasa strawberrynya, ah dan juga mangga!" seru Emily.


Sementara Emily masih memilih rasa yang lain Sonu berjalan perlahan kedepan, menunggu di depan gang untuk sedikit berteduh dari keramaian.


Tapi di ujung jalan sempit yang sedikit gelap itu ia mendengar rintihan kecil, cukup membuatnya penasaran hingga berjalan memasuki gang kecil itu.


Sonu segera termangu saat yang dilihatnya adalah Jacy dengan seorang wanita.


"Sonu, apa yang kau lakukan?" tanya Emily datang menghampiri.


Terkaget Sonu membalikkan badan, saat itulah Emily dapat melihat Jacy dengan cukup jelas. Hampir keranjang belanjaannya jatuh karena syok jika Sonu tidak dengan segera menarik tubuhnya untuk melihat dirinya saja.


"Emily... sebaiknya kita kembali sekarang," ujar Sonu pelan dengan perasaan tak karuan.


Hanya beberapa detik saja pemandangan itu Emily lihat dan hatinya telah remuk, air mata seketika menggenang namun Emily mampu menjawab dengan baik meski dengan suara gemetar.


Sepanjang jalan mereka saling terdiam, sampai tiba dipenginapan Emily hanya menyimpan barang belanjaannya dan lari keluar karena tak mau tangisannya membangunkan Patricia.


Di belakang penginapan dimana ia bisa melihat bukit yang hijau angin menerbangkan setiap bulir air kekecewaannya, sungguh ia merasa konyol karena perasaan dikhianati padahal tak ada hubungan spesial antara dirinya dan Jacy.


Srek


Suara langkah itu membuatnya terlonjak, mengetahui itu adalah Sonu ia segera menghapus air matanya.


"Aku mencarimu ke kamar tapi kau tidak ada," ujar Sonu.


"Aku takut membangunkan Patricia, setiap malam dia bermimpi buruk dan demam sampai perlahan kehilangan tenaga. Hanya tidur disiang hari ia bisa nyenyak," sahutnya.


"Kau baik?" sebuah pertanyaan bodoh yang Sonu sesalkan sebab jelas ia melihat Emily sedang kacau.


Melihat Emily seperti itu rasanya ia ingin memukul Jacy tapi itu percuma, ia tak memiliki hak untuk mengatur temannya.


"Untuk mu," ujar Sonu menyerahkan kunai yang tadi ia beli.


"Apa? ini bukan untuk Patricia?" tanya Emily kaget.


"Dia tidak cocok memakai kunai, dia lebih hebat dengan panahan."


"Tapi.... " ujar Emily ragu.


"Aku tidak pandai menghibur orang, jadi kenapa kau tidak gunakan kunai ini untuk menghabisi Jacy?" tanya Sonu yang membuat Emily terperangah.


Lagi angin berhembus, menyapa mereka yang terdiam bagai waktu berhenti disana.


Fufufu hahahahahaha


"Tidak terimakasih, dia pernah menyelamatkan hidupku jadi tentu aku tidak bisa melakukannya," ujar Emily sambil tertawa.


Sonu pun tersenyum, lega rasanya bisa mengurangi rasa sakit dihati Emily.

__ADS_1


__ADS_2