Sonu : Legenda Telah Kembali

Sonu : Legenda Telah Kembali
Bab 35 Bayaran Hutang


__ADS_3

Dibelakang Sonu Patricia menceritakan apa yang terjadi di alam bawah sadar hari itu, membuat decak kagum Jacy tak berhenti sambil menatap teman satu perjuangannya.


"Aku benar-benar tidak habis pikir ia bisa lepas begitu saja, sungguh bukan hal yang mudah menghabisi nyawa orang yang kita sayangi bahkan untuk pria brengsek seperti ku."


Kata-kata itu terus keluar dari mulut Jacy, diam-diam menambah rasa kagum dihati Emily untuk pria asing yang rela mengorbankan segalanya bagi Patricia.


"Bukankah kau sangat beruntung?" ujar Emily pada suatu malam saat harusnya mereka sudah pergi tidur.


"Apa maksud mu?" tanya Patricia tak mengerti.


"Meski pun saat ini kau sedang di kutuk tapi ada seseorang yang rela berkorban segalanya untuk mu padahal ini bukan kesalahannya, bukankah harusnya aku yang lebih berjuang untuk menyembuhkan mu? bukan dia," ujar Emily sambil menatap Sonu yang tengah tidur pulas.


"Apa gunanya? menyiksa orang lain dengan ketidakberuntungan ku bukanlah hal yang menyenangkan."


"Maksud ku apakah kau tidak menyadari bahwa kau ini spesial di matanya? seorang pria tidak akan melakukan hal sejauh ini jika menganggap mu sebagai beban," tegas Emily.


Ucapan itu telah berhasil mengetuk kebodohan Patricia, membuka matanya dengan lebar sehingga melihat ada sebuah peluang diantara hubungan mereka yang rentan.


Sebenarnya bukan dia berpura-pura bodoh, sejak pertama bertemu dia sudah tertarik dengan Sonu bukan hanya pada kehidupannya sebagai ksatria.


Seolah mereka telah ditakdirkan untuk saling mengisi hidup masing-masing, namun ia tak yakin perasaan itu adalah cinta sebagaimana milik adam dan hawa.


Tidur dengan perasaan tak nyaman, bermimpi buruk seperti malam-malam sebelumnya yang menghabiskan banyak energi dan bangun dengan mata menghitam bagai panda.


Ia mendapati semua orang semakin khawatir akan keadaannya yang memburuk, termasuk Sonu yang ingin segera sampai agar ia dapat segera ditolong.


"Kita berhasil memotong waktu! hanya tinggal melewati hutan ini dan kita akan sampai di danau Lyas," seru Jacy sambil melihat isi peta.


"Ah syukurlah," timpal Emily.


"Kalau begitu kita tidak boleh membuang waktu," ujar Sonu hendak berjalan kembali.

__ADS_1


"Tidak!" sergah Patricia yang membuat mereka terdiam.


"Kita sudah berjalan seharian, aku lelah...kita bisa melanjutkan perjalanan besok," lanjutnya.


"Tapi..." Sonu hendak memprotes tapi Jacy mencegahnya dengan memberi isyarat lewat tangan dan gelengan kepala.


Akhirnya ia pun mengangguk setuju, membiarkan Patricia duduk istirahat. Menghirup udara bebas yang terasa sejuk, membiarkan angin menerpa rambutnya hingga terasa nyaman dan tanpa sadar tertidur dengan sendirinya.


"Badannya semakin kurus, apa ini baik-baik saja?" tanya Emily khawatir.


"Kutukan itu semakin menggerogoti jiwanya," ujar Jacy dengan nada menyesal.


"Ini tidak akan lama, setelah sampai dia akan sembuh dengan bantuan djin," ucap Sonu bagai janji.


Beberapa jam yang terasa lama sebab Patricia kembali mengalami mimpi buruk meski tidur di siang hari, bangun dengan nafas yang hampir habis hal pertama yang ia lihat adalah tatapan khawatir lagi dari semua orang.


"Tidak apa-apa, kau sudah bangun... tidak apa-apa," ujar Emily pelan sambil me-lap keringatnya.


Patricia mengangguk setuju, maka mereka pun bergegas pergi. Sungai itu tidaklah jauh sehingga hanya butuh waktu beberapa menit berjalan saja mereka sudah sampai, seperti yang dikatakan Jacy segera sibuk menangkap ikan sementara Patricia menyegarkan diri dengan meredam kedua kaki dialiran sungai.


"Lebih baik?" tanya Emily menghampiri.


"Mm, duduklah bersamaku," ajak Patricia.


"Terimakasih tapi tidak, aku mau buat api untuk membakar ikan," sahut Emily sembari tersenyum lantas pergi lagi.


Memperhatikan bagaimana Emily membuat api Patricia baru sadar mereka telah terbiasa hidup berkelana, masuk keluar hutan dan memanfaatkan segala hal yang ada didepan mata.


Ia juga melihat kedekatan antara Jacy dan Emily yang kini tanpa harapan, hanya murni sebuah pertemanan dengan canda dan tawa.


"Merasa lebih baik?" tanya Sonu menghampiri.

__ADS_1


"Ya," sahut Patricia.


"Syukurlah, besok kita akan lanjutkan perjalanan pagi sekali. Aku harap tubuhmu siap untuk besok," ujar Sonu.


Patricia mengangguk, membiarkan keheningan hadir diantara mereka. Membuat suasana menjadi canggung bagi Sonu tapi sebuah kedamaian bagi Patricia, ia begitu menikmati saat-saat diam tanpa kata yang berbanding terbalik dengan sifatnya.


"Terimakasih," ujar Patricia akhirnya memecah keheningan itu.


"Tidak perlu, anggap ini sebagai bayaran karena telah menyelamatkan nyawaku waktu itu."


"Jika kau menganggapnya seperti itu maka seharusnya setelah semua ini kita berpisah tanpa memiliki hutang lagi," ujar Patricia tersenyum pahit.


Sonu menatap lekat pada mata gadis itu, menemukan ketidakrelaan yang sebenarnya ia pun merasakannya juga.


"Dengar, jika... kau butuh bantuan ku... datanglah ke serikat petualangan! aku akan membantumu jika bayarannya sesuai," ujar Sonu yang tak ingin larut dalam kesedihan.


"Fffhh.. hahahaha ya, akan kupastikan harganya sesuai dengan kemampuanmu," sahut Patricia yang tak bisa menahan tawa.


Senyum mengembang di wajah Sonu, setidaknya dalam waktu yang semakin menipis itu kebersamaan mereka ada artinya. Sebagian besar mungkin pengalaman yang tak akan pernah dilupakan dan sebagian lagi adalah hubungan yang tak akan pernah berakhir.


"Estes!" seru Emily tiba-tiba.


Menoleh kaget Patricia tak menyangka akan keberadaan Estes disana, sudah berdiri di belakang mereka dalam waktu beberapa menit. Menatap kedekatan antara dirinya dan Sonu yang membuat perasaan bahagianya berubah menjadi penyesalan, Estes yang berniat memberi kejutan justru dialah yang dikejutkan.


"Estes? kenapa kau ada disini?" tanya Patricia segera bangkit dan menghampiri.


"Hai, aku... datang sesuai janji. Sudah kubilang setelah urusan ku selesai dengan Madam aku akan menyusulmu," jawabnya dengan sedikit canggung sambil sesekali menatap Sonu.


"Oh Estes... aku senang melihatmu," akui Patricia sambil segera merangkulnya.


Mengembalikan perasaan bahagia kepada Estes sementara Emily justru khawatir karena takut hal itu akan menyinggung perasaan Sonu, tapi saat ia menatap Sonu anehnya tak ada reaksi cemburu yang ia gadang-gadang akan muncul.

__ADS_1


__ADS_2