Sonu : Legenda Telah Kembali

Sonu : Legenda Telah Kembali
Bab 7 Perburuan Monster


__ADS_3

Hhhhhh Hhhhh Hhhhh


Sonu tak menyangka ia akan kelelahan seperti ini, rupanya makhluk itu termasuk golongan pelari cepat. Dengan kurangnya pencahayaan beberapa kali ia tersandung akar hingga hampir terjatuh, medan yang licin pun membuat pergerakannya lambat.


Kini ia kehilangan jejak, makhluk itu telah berlari jauh menembus hutan tanpa tahu kemana arahnya. Tak ada pilihan lagi, ia harus kembali esok pagi untuk pemeriksaan lebih lanjut.


Hanya butuh waktu beberapa jam saja untuknya beristirahat, bangun dengan tubuh yang bugar ia keluar untuk menikmati sarapan.


"Sudah menemukan sesuatu?" tanya pria pemilik bar sambil menyimpan semangkuk sup dan roti untuk sarapannya.


"Seperti yang kau katakan, dia berlari sangat cepat hingga aku kehilangan jejak."


"Setidaknya kau berhasil mengusirnya, biasanya pagi-pagi sekali akan ada keributan akibat hewan ternak yang hilang atau seseorang yang sudah menjadi mayat."


Sonu hanya tersenyum kecil, ia cepat menghabiskan sarapannya dan pergi ketempat terakhir dimana ia kehilangan jejak.


Rupanya hutan itu cukup jauh masuk ke dalam, ia tak menyadarinya sebab semalam terlalu fokus mengejar. Kini ia bisa melihat jejak kaki yang cukup panjang dengan tiga cakar, karena tanahnya yang lembek jejak itu nampak dalam dan mudah ditemukan.


Insting berburunya muncul layaknya coyote, ia berjalan perlahan mengikuti jejak kaki itu sampai dihilir sungai. Ia menduga makhluk itu menyebrang dan masuk lebih dalam lagi ke hutan, ia harus memeriksa namun ternyata sungai itu cukup dalam sehingga hampir membuatnya tenggelam.


"Seorang perenang juga hah?," gumamnya setelah berhasil menyebrang dengan selamat.


Sayangnya jejak kaki itu hilang, ini membuatnya berfikir keras apakah mungkin makhluk itu terbawa arus sungai.


"Sial! aku benci pikiran buntu!" ketusnya.


Tak ada pilihan, ia hanya bisa memeriksa keadaan sekitar sampai puas. Namun tak ada jejak yang ia temukan hingga akhirnya ia harus pulang dengan tangan kosong, di bar yang masih sepi itu Sonu menjadi satu-satunya pelanggan. Datang dengan wajah kacau meminta segelas rum untuk menyegarkan diri.


"Pekerjaan yang sulit hah? sebelum kau datang beberapa ksatria juga pernah mencari monster itu, tapi mereka hilang dan tak pernah ditemukan lagi," ujar pria itu.


"Sungguh?" tanya Sonu.


"Mereka menginap di penginapan, saat itu masayarakat masih membuka hati untuk orang asing dan mau berbagi kisah. Tapi setelah mereka semua hilang begitu saja mereka memutuskan untuk tidak bicara dengan orang asing demi keselamatan mereka."

__ADS_1


"Maksud mu?" tanya Sonu tak mengerti.


"Ada sebuah keyakinan di sini, mereka percaya jika monster itu adalah dewa hutan yang marah sebab mereka terus merusak alam demi ternak. Siapa pun yang mencoba membasmi monster itu tidak akan pernah keliatan lagi dan mereka harus memberikan persembahan sebagai ganti rugi selama ini, mereka juga percaya bicara dengan orang asing yang berniat membunuh monster itu akan mendatangkan petaka."


"Kau baru saja mendatangkan petaka kalau begitu," sahut Sonu.


"Aku bukan asli orang sini, aku hanya pendatang yang sudah lama tinggal di sini dan tidak percaya pada cerita itu."


"Kenapa?" tanya Sonu lagi.


"Dewa tidak memakan langsung organ makhluk hidup, hanya monster yang melakukan itu dan orang-orang ini terlalu takut hingga pikiran mereka tidak murni."


Apa yang dikatakan pria itu benar, dewa tidak pernah menampakkan diri dengan wujud yang menyeramkan apalagi memangsa dengan buas.


Cerita ini membangkitkan semangat Sonu untuk kembali mencari jejak makhluk itu atau lebih tepatnya menumpaskannya. Berbekal pengalaman pertama kini setidaknya ia tahu cara tepat menghadapi makhluk pelari cepat dengan tinggi lima kaki, setelah semua persiapan selesai yang perlu ia lakukan hanya berpatroli.


Menyusuri jalan dan pinggiran hutan sampai sebuah bunyi bel terdengar, dengan cepat ia berlari ke arah sumber suara itu. Tepat setelah ia sampai makhluk itu sedang mencoba membawa seekor babi keluar dari kandangnya.


Syuuuutt


Hnggiikk Hnggiikk Hnggiikk


Belati yang ia lempar membuat makhluk itu terpaksa melepaskan babi itu hingga terjatuh, merasa terancam dia segera berlari menuju hutan. Tapi Sonu sudah menduga hal ini akan terjadi maka ia hanya perlu mengejar sebisanya sebab pada akhirnya makhluk itu pasti tertangkap.


Groooaaarrrrr


Teriakan yang menggema itu adalah sebuah tanda bahwa perangkap yang Sonu buat telah berhasil menjeratnya, bergegas ia pergi dan menemukan makhluk itu terkurung dalam jaring.


"Hahahahaha, ternyata kau tidak sepintar yang ku pikirkan. Tapi itu bagus," ujar Sonu senang.


Di udara makhluk yang tergantung itu mencoba melepaskan diri dengan meronta-ronta, Sonu memperhatikan ia memiliki tangan yang cukup unik dimana salah satu dari tiga jarinya berbentuk seperti pisau yang ia yakin fungsinya untuk merobek kulit mangsanya.


"Percuma saja, itu bukan jaring biasa jadi kau tidak akan bisa merobeknya begitu saja!" ujar Sonu masih sambil memperhatikan.

__ADS_1


Sepanjang malam itu ia hanya memperhatikan, sebab ini adalah kali pertama ia melihat monster semacam itu. Saat matahari muncul baru ia memanggil penduduk desa untuk menunjukkan makhluk yang selama ini mereka takuti, tak ada yang tak terkejut melihat wujudnya yang jelas terlihat dibawah matahari.


"Aarrrhh... " tiba-tiba erang seseorang dari kerumunan.


Sonu yang penasaran menemukan seorang kakek tua nampak begitu kaget melihat mahkluk itu, tapi ekspresi kagetnya sangat berbeda dari yang lain.


"Kau tahu dia makhluk apa?" tanya Sonu menerka.


"Mengapa.. dia masih ada?" gumam kakek itu.


"Apa maksud mu?" tanya Sonu lebih penasaran.


"Sraic, dia makhluk yang sudah di musnahkan sekitar lima puluh tahun yang lalu," jawabnya.


Sonu semakin penasaran lagi, maka ia pun meminta kakek itu untuk menjelaskan lebih rinci.


"Orangtuaku adalah seorang pedagang, saat aku kecil suatu hari kami terjebak di Kerajaan Amsy. Tidak ada yang boleh masuk atau keluar dari Kerajaan itu sebab saat itu sedang dilakukan perburuan gila-gilaan terhadap Sraic, monster itu adalah makhluk asli penghuni danau Sybra dimana letaknya masuk kedalam wilayah kerajaan Amsy."


Jika memang seperti itu maka Sonu dapat menyimpulkan bahwa dia adalah makhluk yang berhasil lolos, pergi menyelamatkan diri hingga tiba di daratan Sylary.


"Kenapa kau diam saja selama ini?" tanya Sonu sarat akan tuduhan.


"Makhluk itu telah dinyatakan musnah, apa yang kau harapkan dari seorang kakek yang hanya ingin hidup damai?" balasnya.


Yah Sonu tak bisa mengalahkan juga atas sikap diam kakek itu, saat dalam posisi ketakutan siapa pun akan kehilangan akalnya.


Syuuuuuttt...


Bruk


Groooaaarrrrr


Aaaaaaaaaaa

__ADS_1


Dalam sekejap mata tiba-tiba semua orang berlarian, mencoba menyelamatkan diri dari maut. Sementara Sonu yang baru sadar tentang apa yang baru saja terjadi, terjebak dalam kerumunan orang-orang yang ketakutan.


__ADS_2