Sonu : Legenda Telah Kembali

Sonu : Legenda Telah Kembali
Bab 8 Sekelompok Pria Misterius


__ADS_3

Grrroooaaaarrr..


Aaaaaaa...


Drap Drap Drap Drap


Bruk Bruk


Seakan terjadi kiamat, setiap orang mencoba menyelamatkan diri mereka sendiri tanpa memikirkan orang lain. Jeritan demi jeritan terdengar riuh mengalahkan suara alam, kaki saling menginjak dan tubuh saling bertabrakan.


Dalam kekacauan itu Sonu mencoba melepaskan diri, matanya mencari kemana makhluk itu pergi. Dengan mengandalkan pendengaran ia harus tenang dan fokus hanya pada satu suara, instingnya kemudian memapahnya pada sisi lain dari hutan.


Akhirnya ia berhasil mengetahui kemana larinya monster itu, dengan cepat ia pergi menyusul hingga berhasil meluncurkan satu anak panah untuk memperlambat pergerakannya.


Grooooaaarrrrr


Teriakan kesakitan itu menandai kelihaian Sonu dalam memanah, kini ia juga berhasil menyusul hingga bertatap muka dengan monster itu.


Sriiiinggg


Pedang yang ia tarik dari sarungnya bergemerincing saat bergesekan dengan udara, teriknya sinar matahari terpantul dari bilah pedang yang telah diasah.


Hhhhhhhh Hhhhh Hhhhh


Nafas monster itu berat dan ternyata dipenuhi lendir, saat melihat kakinya yang tergores anak panah cairan berwarna hijau keluar yang ia terka adalah darah.


Grrraaa..


Whuuss


Tangannya yang panjang mencoba meraih Sonu, beruntung ia berhasil mengelak hingga bagian pisau dari jari monster itu hanya membelah udara.


Kemarahan nampak begitu besar ada padanya, Sonu dapat mengerti. Meski terlahir sebagai monster tapi Sraic juga makhluk hidup, seperti binatang meski daya pikirnya rendah tapi ia memiliki insting dan naluri.


Whuuss Whuuss Whuuss


Brak


Monster itu ternyata juga memiliki kemampuan bertarung yang baik, ia lincah meski dalam keadaan kaki terluka. Tak heran jika ia sempat menjadi monster yang di buru hingga dimusnahkan.


Sring Trak


Tak bisa hanya menghindar Sonu mulai membalas serangan itu, pedangnya tepat beradu tajam dengan jari pisau monster itu. Dari suara yang ditimbulkan Sonu mengambil kesimpulan bahwa bagian itu adalah kuku, seperti cakar setajam pisau namun dengan bentuk panjang lurus dari pangkal tangannya.


Whuuss


"Uh!" pekik Sonu saat hampir saja kepalanya kena sambit.


Srek Srek Srek


Sring Trak


Kini ia mengubah ritme pertarungan menjadi lebih cepat, menyesuaikan dengan kemampuan berlari dan pergerakan monster itu. Meski kakinya tak sepanjang milik monster itu tapi Sonu juga bisa berlari dengan cepat, bahkan ia tak meninggalkan jejak pada tanah sebab setiap langkahnya begitu diperhitungkan hingga hanya menapak pada permukaan yang keras seperti batu dan akar.


Pada sesi ini Sonu banyak menggertak hingga berhasil memojokkan, satu dua serangannya berhasil melukai tubuh kurus monster itu yang membuat teriakan kesakitan menggema di sepanjang hutan.


Srek Srek Srek


Whuuss


Jleb

__ADS_1


Berakhir sudah, tak ada waktu untuk bermain dalam pertarungan. Satu tusukan tepat mengenai jantung monster itu, kini tak ada teriakan pilu atau marah. Serangan fatal itu langsung menggiring nyawanya terbang menuju alam baka, meninggalkan bangkai yang Sonu bawa ke desa sebagai bukti pekerjaannya telah selesai.


Penduduk bersorak menyambut pahlawan mereka, mengucapkan banyak terimakasih bahkan menawarkan segala makanan dan arak. Dengan sopan Sonu menolak itu semua, yang ia butuhkan saat ini hanya mandi tidur sebentar untuk memulihkan tenaga.


Ia terbangun tepat saat senja mulai berganti malam, riuh tawa dan musik membuatnya cukup penasaran hingga turun untuk melihat.


"Hei! pahlawan kita sudah bangun dari tidur cantiknya!" teriak seseorang yang pertama kali melihat Sonu.


Uuuuuuu.....


Prok Prok Prok


Sambutan yang meriah itu cukup membuatnya malu, ia hanya dapat menundukkan kepala sebagai tanda terimakasih. Untuk membangunkan pikiran sepenuhnya pemilik bar memberinya segelas anggur terbaik yang ia miliki.


"Aaaahhh... ini sungguh menyegarkan" ujar Sonu.


"Aku sengaja menyimpannya untuk perayaan besar, sekarang nikmatilah."


"Bar mu berubah dalam waktu beberapa jam saja, ini sempat membuatku berpikir tidur di tempat yang salah," ujar Sonu sambil melihat berkeliling bar yang kini telah ramai.


"Hehe, kau tidak hanya menyelamatkan masa depan desa kami tapi juga perekonomian ku. Sekarang orang tidak akan takut lagi pulang larut malam dalam keadaan mabuk" sahutnya.


"Bersulang untuk keberhasilan mu!" lanjut pria itu sambil mengangkat gelasnya.


"Bersulang!" balas Sonu.


Truk


Dalam satu tegukan ia menghabiskan seluruh air dalam gelasnya, senyum penuh kemenangan mengembang di wajah hingga malam yang larut datang.


Meski ini adalah pesta untuk merayakan keberhasilannya tapi Sonu tidak ingin mabuk, ia harus segera pergi tidur agar esok hari bangun dengan tubuh yang bugar.


Satu pekerjaan telah selesai, setelah berkemas dan berpamitan dengan pria pemilik bar ia pulang dengan membawa tanduk Sraic.


"Kau memang seperti yang dirumorkan, ksatria tangguh yang selalu berhasil membunuh semua jenih monster" ujar Marcus.


"Terimakasih, maaf aku tidak bisa berlama-lama," balasnya.


"Aku mengerti," sahut Marcus.


Ia memberikan satu kantung berisi koin emas sesuai perjanjian mereka, Sonu hanya menimbang berat dan memastikan itu koin asli sebelum berpamitan.


Karena hari sudah gelap ia harus memapah kudanya melewati hutan agar cepat sampai dirumah, setidaknya ia hanya butuh waktu kurang lebih tiga jam untuk sampai.


Namun dalam perjalanan itu tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki tepat dibelakangnya, tanpa menoleh Sonu mempercepat langkahnya untuk memastikan suara langkah siapa itu.


Saat suara langkah itu semakin cepat bersamaan dengan langkahnya ia sadar seseorang tengah membuntutinya, diam-diam ia mengambil belati dan meleparnya ke belakang.


Whuuss


Jleb


"Ah!" teriak seseorang dari kegelapan.


Hiyyaaaaa...


Khhhiiiikkkk


Segera ia menunggangi kudanya, kabur secepat mungkin sebab meski sekilas ia melihat ada banyak orang yang bersembunyi di kegelapan itu.


Tapi rupanya orang-orang itu dapat mengejarnya, dalam situasi itu Sonu harus menarik pedangnya demi keselamatan.

__ADS_1


Jleb


Khhhiiiikkkk


Bruk


"Ah.."


Satu anak panah berhasil melukai kudanya hingga terjatuh, tentu ia ikut terjatuh juga dan sempat menghantam pohon dengan keras yang membuat pergelangan tangannya ngilu.


Srek Srek Srek Srek Srek


Ia baru bangkit dan lima orang dengan pakaian serba hitam sudah berdiri didepannya, meski wajahnya tertutup topeng tapi ia tahu mereka ekpresi kedengkian timbul diraut wajahnya.


Mengambil kuda-kuda ia harus siap untuk pertarungan yang tak adil, matanya siaga menatap satu demi satu musuh untuk memperkirakan siapa yang akan maju duluan.


"Hiyaaaaaa... " teriak satu orang dari samping sambil berlari ke arahnya.


Trang Trang Trang


Pedang mereka saling beradu, bergesekan dan menekan satu sama lain dengan penuh kekuatan.


Buk Buk Buk


Pukulan dari yang lain melayang kearahnya dan sempat mengenai rusuknya, itu teramat sakit tapi tak ada waktu bahkan untuk meringis. Satu lawan lima adalah hal yang merepotkan, ia harus melawan lima senjata sekaligus dengan kecepatan lawan yang seimbang.


Diawal ia berhasil memukul mundur dan itu memberinya waktu untuk kabur, tapi lari mereka sangat cepat sehingga ia mudah terususul.


Pertarungan kembali terjadi, meski berat tapi setidaknya ia harus bisa bertahan dan kembali melarikan diri. Hingga sampai disatu titik ia terkepung dan tak memiliki kesempatan untuk kabur lagi, satu-satunya jalan hanya bertahan.


Trang Trang Trang


Jleb


Ah!


Pedang mereka kembali beradu, sayangnya satu dari lima orang itu berhasil menusuk perutnya dengan cukup dalam. Itu membuat luka yang parah, yang menguras energinya dengan cepat sebab darahnya banyak keluar.


Meski begitu dengan kekuatan terakhirnya ia berhasil kabur dengan bantuan bubuk obat yang ia tabur untuk melukai mata mereka, dikegelapan malam sisa tenaganya terus memaksa kakinya terus berlari tanpa melihat kebelakang sampai tiba-tiba.


Sruuk


"Aaaarhh!" teriaknya saat kakinya terperosok dalam jurang.


Bruk


"Uh!" pekiknya menahan rasa nyeri akibat benturan yang membuat luka diperutnya semakin parah.


Hhhhh Hhhhh Hhhhh


Nafasnya kian memburu, tubuhnya sulit untuk digerakkan karena terjebak pada akar-akar pohon yang melintang. Percuma saja, ia kehabisan darah dan energi.


"Sial! robekannya terlalu besar, jika begini...mungkin ini akan menjadi misi terakhir ku," gerutunya menahan sakit yang tiada tara.


Srak Srak Srak


Sayup-sayup ia mendengar suara lari dari kejauhan, sudah bisa dipastikan itu adalah sekelompok orang misterius yang mengincar nyawanya.


"Cari disana! dia terluka berat pasti tidak akan bisa lari jauh!" teriak salah satu dari mereka tepat diatas jurang, tempat dimana Sonu terjatuh.


Hhhhhh Hhhhh Hhhhh

__ADS_1


"Cih! masih mencoba mencari mayatku hah? apa yang akan kalian lakukan? melemparnya ke orc...atau serigala?" gumamnya di detik-detik terakhir sebelum kehilangan kesadaran.


"Uh... kepalaku mulai berdenyut, mengapa... rasanya sangat ngantuk sekali?."


__ADS_2