
Puas main Jacy memutuskan untuk kembali ke penginapan dan beristirahat, baru saja ia hendak membuka pintu suara tawa Emily menarik perhatiannya untuk menoleh.
Bertatap mata dengannya Emily seketika menutup tawa, sisa rasa kecewanya membuat ia menundukkan kepala.
"Sampai nanti," ujar Emily pelan kepada Sonu.
Sementara Sonu membalas dengan senyum simpul, berjalan melewati Jacy tanpa menyapa membuat Jacy mengerutkan kening bingung.
"Jadi kau berpaling padanya atau mencoba meraih keduanya?" tanya Jacy sambil menunjuk dengan ibu jarinya setelah Emily masuk ke kamarnya.
"Arghh.." erang Sonu sambil memutar bola mata.
Tanpa mau menjawab ia masuk lebih dulu ke kamar, Jacy yang masih penasaran mengikuti dari belakang dan berkata "Tidak buruk."
"Hentikan Jac! kau telah menyakiti hati seorang gadis lugu, aku tidak peduli pada kebiasaan mu karena bagian dari karakter mu. Tapi tolong jangan hancurkan hati seorang gadis seperti Emily!" hardik Sonu.
"Apa maksud mu?" tanya Jacy merasa sedikit tersinggung.
"Jangan pura-pura bodoh! kau tahu Emily menyukai mu dan tanpa merasa bersalah kau bermesraan dengan wanita lain."
"Aku menyadarinya," sahut Jacy pelan.
"Kalau begitu kenapa kau masih berhubungan dengan wanita lain?" tanya Sonu hampir meluap amarahnya.
"Karena gadis seperti Emily tidak cocok untuk ku! lagi pula aku tidak menyukainya, aku bisa saja mengikuti keinginannya tapi itu justru akan semakin melukainya! kau tahu aku tidak bisa hanya dengan satu wanita!" jelas Jacy dengan nada tinggi.
Sonu terdiam, ia tak menyangka Jacy telah memikirkan hal ini dengan cukup baik.
"Maaf," ujar Sonu pelan.
"Tidak apa-apa, kau memang sudah biasa memarahiku."
"Tidak, bukan itu. Aku memberi Emily kunai untuk membunuhmu," sahut Sonu.
"Apa? sialan kau!" hardik Jacy sementara Sonu hanya tersenyum.
Harusnya mereka melanjutkan perjalanan setelah cukup beristirahat, tapi Sonu menundanya esok pagi sebab terlalu berbahaya melewati hutan di malam hari.
"Patricia!" panggil Emily sambil mengepak barang-barang.
Tapi Patricia hanya menggeliat di ranjang, membuat Emily akhirnya harus bergerak membantunya bangun.
"Patricia! Patricia!" panggilnya lagi kini dengan cemas sebab suhu tubuh Patricia cukup tinggi.
Tok Tok Tok
__ADS_1
"Emily! Patricia! kalian sudah siap?" seri Sonu dari luar.
Berlari Emily segera membuka pintu, wajahnya yang cemas segera membuat Sonu sadar ada yang tidak beres.
"Patricia demam! padahal semalam dia sudah membaik tapi entah mengapa badannya demam lagi," lapor Emily.
Tanpa membuang waktu Sonu segera memeriksa dan mengetahui bahwa Patricia memang demam, bahkan saat ini ia antara sadar dan tidak.
"Apa obatnya masih ada?" tanya Sonu.
"Aku sudah memberinya tapi itu tidak bekerja."
"Kalau begitu kompres saja dulu, aku akan keluar mencari obat."
Emily mengangguk sementara Sonu segera pergi keluar, mencari beberapa rempah ke pasar. Tapi yang ia temukan justru sebuah tenda warna ungu yang begitu mencolok, tak ada waktu untuk bingung segera ia menghambur masuk.
"Madam!" panggilnya.
Tapi yang ia temukan justru seorang pemuda yang sangat ia kenal.
"Sonu?" tanya Estes.
"Kenapa kau ada disini?" balas Sonu bertanya.
"Madam, aku butuh bantuan mu!" ujar Sonu mengingat ada hal yang lebih penting.
"Apa ini tentang Patricia?" tanya Madam.
"Patricia? ada apa dengannya?" tanya pula Estes seketika menjadi cemas.
Tak ada waktu untuk menjelaskan, Sonu segera membawa mereka ke penginapan untuk melihat keadaan Patricia.
Saat tiba tentu saja Emily cukup kaget akan kedatangan Estes, tapi saat ini mereka lebih fokus pada Patricia dulu yang belum sadarkan diri.
"Sudah aku bilang kutukan itu akan merenggut jiwanya secara perlahan, semakin lama ia akan semakin lemah dan sering mengalami mimpi buruk yang menyebabkan demam," ujar Madam setelah selesai memeriksa.
Mereka hanya bisa meratap sedih, begitu juga dengan Estes yang sudah mengetahui kebenarannya dari Emily.
"Kita tidak punya banyak waktu, Emily siapkan Patricia! aku akan mencari gerobak," ujar Sonu memutuskan.
"Apa kau gila? keadaan Patricia saat ini tidak memungkinkannya untuk perjalanan!" hardik Estes melarang.
"Kau tidak dengar apa yang dikatakan Madam? semakin banyak waktu yang terbuang dia akan semakin menderita!" balas Sonu.
"Aku tahu itu, tapi..." entah mengapa semua kata itu tak mau keluar dari tenggorokannya.
__ADS_1
Melampiaskan emosi Estes memukul tembok dengan cukup keras hingga permukaan tangannya lecet, sementara yang lain hanya diam tanpa berani mengambil keputusan.
"Estes benar Sonu, tidak ada artinya melanjutkan perjalanan jika Patricia tidak menyanggupinya. Itu juga berbahaya bagi kesehatannya," ujar Madam.
"Tapi... "
"Aku sudah memberinya obat, tunggu hingga demamnya turun dan kau boleh membawanya," ujar Madam memotong.
Akhirnya Sonu setuju, mengambil emosinya ia keluar untuk meraih kembali kewarasannya.
"Sebaiknya kita keluar, biarkan Patricia beristirahat," ajak Madam yang disetujui oleh mereka.
Tak bisa meninggalkan Patricia begitu saja Estes memilih menunggu di depan, ditemani Emily dan segelas anggur untuk masing-masing.
"Kau belum memberitahuku apa yang terjadi padamu, kenapa kau bisa bersama Madam?" tanya Emily.
"Dia menyelamatkan hidupku," jawab Estes.
"Bagaimana?" tanya Emily bingung.
Cerita itu bermula dimalam pengkhianatan Jendral dan teman-temannya, Estes tidak sepenuhnya tidur saat Billy menghunuskan belati diatas dadanya. Dan saat belati itu turun dengan kecepatan tinggi untuk menghujam jantungnya Estes reflek melindungi diri dengan tangan, alhasil tangannya lah yang tertusuk.
Tentu hal itu membuat mereka kaget, tapi tak butuh waktu lama untuk akhirnya membuat mereka menarik pedang dan mulai menyerang Estes.
Sebisa mungkin dengan satu tangan ia mempertahankan diri sambil mencoba membujuk mereka untuk berhenti menyerang, terlebih kepada Billy yang masih membeku karena kaget.
Andai kata-katanya tak berhasil meraih rasa kemanusiaan Billy sudah dapat dipastikan saat ini ia adalah jasad tanpa jiwa.
Didetik-detik sebelum sebuah mata pedang memotong lehernya Billy menghentikan mereka semua, memberi keputusan berat untuk mereka.
"Demi kebaikan semuanya aku akan memalsukan kematian mu, tapi tolong jangan muncul lagi dihadapan kami."
"Aku berjanji," sahut Estes setuju.
Akhirnya Billy melepas Estes yang sudah terluka, dalam pelariannya itu Madam tak sebagai menemukan Estes sudah tak sadarkan diri di pinggiran hutan saat ia dalam perjalanan.
Karena kasian akhirnya Madam mengobatinya, untuk membalas kebaikan Madam Estes menawarkan diri sebagai asisten yang disetujui Madam.
"Aku turut berduka," ujar Emily menanggapi cerita itu.
"Terimakasih, tapi jujur justru aku merasa senang sebab terlepas dari ikatan menyeramkan itu. Aku berencana akan hidup damai tanpa ikatan mulai saat ini," sahut Estes.
"Apa pun keputusan mu kami pasti akan mendukungnya, kau tahu Patricia juga selalu di pihak mu."
"Yeah," jawab Estes sambil mengangguk.
__ADS_1