Sonu : Legenda Telah Kembali

Sonu : Legenda Telah Kembali
Bab 21 Kaki Besar


__ADS_3

Memasuki musim hujan langkah mereka sedikit terhambat, dengan curah hujan yang cukup tinggi mengakibatkan medan menjadi licin bahkan akses jalan terputus karena longsor.


"Kita mungkin bisa melewatinya tapi tidak dengan kuda," ujar Jacy melihat tumpukan tanah dan pohon yang ambruk.


"Apakah ada jalan lain?" tanya Emily.


Jacy segera membuka peta, melihat dimana posisi mereka berada.


"Ada, kita harus pergi ke barat sampai menemukan sungai dan menyebranginya. Bagaimana?" tanyanya.


"Kita coba saja," sahut Sonu.


Karena kapten telah mengambil keputusan maka mereka pun kembali berjalan, sayangnya saat mereka tiba sungai itu meluap sehingga terlalu berbahaya untuk disebrangi.


Menghadapi jalan buntu membuat Sonu sedikit kesal, ia terdiam menatap aliran sungai yang deras.


"Sonu, sebaiknya kita kembali saja. Mungkin kita bisa menemukan jalan lain," ujar Patricia.


"Sepertinya memang harus seperti itu," sahutnya pelan.


Kembali pada jalan utama mereka memutuskan untuk beristirahat sambil memikirkan cara untuk melewatinya, sementara Sonu terus berjalan disekitar untuk memeriksa.


"Mau minum?" tawar Jacy kepada Emily.


"Terimakasih," sahut Emily mengambil botol air itu dari tangan Jacy.


"Ada yang tidak beres?" tanya Jacy sadar akan perhatian Emily yang hanya tertuju pada Patricia.


"Sejak perjalanan ini dimulai aku merasa Patricia telah berubah, dia menjadi lebih pendiam dan penurut."


"Sungguh? memangnya dia seperti apa dulu?" tanya Jacy.


"Sangat keras kepala dan tak bisa diam, dia sangat suka berpetualang."


"Jadi itu baik atau buruk?" tanyanya lagi.


"Baik, mungkin buruk, entahlah... ini seperti bukan dirinya dan itu membuatku khawatir!" sahut Emily bingung.


Jacy tersenyum, memperhatikan wajah Emily yang akhirnya membuat gadis itu tersipu.


"Ada apa?" tanyanya seraya tersenyum.


"Tidak ada, hanya saja aku kagum padamu. Kau sangat perhatian pada Patricia, kau seperti kakak yang takut adiknya akan terluka."


"Sungguh?" tanya Emily menahan tawa.


"Yeah!."


"Mungkin begitu, kami sudah bersama sejak kecil dan aku memang sudah menganggapnya sebagai saudara ku sendiri," ujarnya.


Jacy mengangguk mengerti, sementara Emily tak bisa menghentikan keinginannya untuk tersenyum.


"Tidak ada, sepertinya kita terjebak di sini!" ujar Sonu sambil berjalan menghampiri.


"Lalu bagaimana?" tanya Patricia.


"Hari sudah sore, sebaiknya kita bermalam disini saja dulu dan mencari jalan esok hari lagi."


"Baiklah, aku akan mengumpulkan kayu bakar," ucap Jacy segera pergi.


Sementara yang lain menyiapkan tempat yang aman untuk tidur, sekalian mereka juga menyiapkan makan malam.


Dikolong langit buram satu-satunya cahaya hanyalah api unggun yang juga merupakan sumber kehangatan bagi tubuh mereka yang kedinginan, tanpa kata mereka membenamkan benak pada pikiran masing-masing.


Hingga Patricia bangkit dari tempat duduknya barulah Sonu bertanya, "Kau mau kemana?."


"Buang air," sahutnya.

__ADS_1


"Oh..." balas Sonu kembali pada kesibukannya menghangatkan diri.


Jacy segera menyenggol kaki Sonu untuk memberikan kode, tapi Sonu terlalu polos hingga tak mengerti maksud Jacy. Ia hanya diam menatap mata Jacy yang melotot padanya sampai Patricia pergi.


"Ada apa?" tanyanya bingung.


"Apa kau juga tidak ingin buang air?" tanya Jacy pelan.


"Tidak," sahut Sonu singkat.


Terpaku akan jawaban Sonu ia hanya memalingkan wajah, menyesal telah bertanya bahkan memberi kode.


Aaaaaaaaaaarrrgghh


Sebuah jeritan tiba-tiba terdengar dari kegelapan.


"Patricia!" panggil Sonu seketika.


Tanpa pikir panjang lagi ia segera menerjang kegelapan malam itu, mencari sumber jeritan disusul Jacy dan Emily. Dalam kegelisahan akhirnya mereka menemukan Patricia tak sadarkan diri ditengah hutan, segera Emily berlari untuk memeriksa keadaannya.


"Patricia!" panggilnya.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Sonu cemas.


"Entahlah, tapi tak ada luka di tubuhnya," sahut Emily setelah selesai memeriksa.


"Sonu! lihatlah ini!" teriak Jacy tanpa memalingkan pandangannya dari tanah.


Sonu segera ikut memeriksa dan menemukan sebuah jejak kaki besar, jejaknya yang cukup dalam menandakan bahwa makhluk itu tak hanya besar tapi juga berisi.


"Menurutmu jejak kaki apa ini?" tanya Jacy.


"Bisa apa saja," sahutnya.


"Aku akan memeriksanya, kau pergilah dengan Emily."


Sonu mengangguk, menyerahkan tugas itu kepada Jacy sementara ia membawa Patricia ke tempat mereka membuat api unggun.


"Kau menemukan sesuatu?" tanya Sonu.


"Sungguh itu bukan monster yang perlu kau lirik," sahut Jacy.


"Maksud mu?" tanya Emily.


"Itu kaki besar!" jawab Jacy hampir tertawa.


"Sungguh?" tanya Sonu.


"Ya, aku menemukannya dan memberinya sedikit pelajaran. Dia mengaku telah membuat Patricia ketakukan tapi sungguh dia tidak sengaja, mereka hanya tak sengaja bertemu dan karena kaget dia juga melarikan diri. Dia bahkan tidak tahu kalau Patricia pingsan," jelasnya.


Jika Jacy berkata seperti itu maka Sonu percaya, Kaki Besar adalah monster pemalu yang tak pernah menampakkan diri. Mereka hanya keluar malam hari untuk mencari makan dan beraktivitas, mereka memiliki kaki dengan ukuran yang dua kali lebih besar dari pria biasa sementara tubuh mereka kecil seperti kurcaci.


Masuk akal jika Patricia tak sengaja bertemu dengan makhluk itu, hanya saja Sonu masih bingung mengapa Patricia sampai pingsan padahal setahunya gadis itu tak mengenal rasa takut.


"Beruntung yang ia temui adalah makhluk pemalu yang tak berbahaya, lain kali dia belum tentu tak seberuntung itu. Mulai sekarang kau harus mengerti akan kode yang kuberikan," ujar Jacy pelan.


"Lain kali jangan memakai kode, kau bukan wanita," balas Sonu ketus.


Sebenarnya dalam hati Sonu benar-benar menyesal, seharusnya ia mengantar Patricia walaupun ada kemungkinan gadis itu menolak.


Sayangnya nasi telah menjadi bubur, sekarang ia hanya bisa berharap tak ada luka dalam yang Patricia dapatkan. Harapan yang Emily pinta juga, melihat bagaimana Patricia pingsan hati mereka seketika cemas tak beraturan.


* * *


Dug


Sebuah suara yang entah apa itu menyelamatkan Patricia dari mimpi buruknya, terbangun dengan perasaan tak nyaman ia melihat semua orang tengah tertidur lelap.

__ADS_1


Api masih menyala terang tepat dihadapannya, menerangi benaknya yang sempat runyam. Kini ia ingat apa yang telah terjadi padanya, sesuatu dengan bentuk yang aneh membuatnya kaget hingga berteriak.


Ia hendak berlari namun tanah yang licin membuatnya jatuh menghantam akar pohon, mengakibatkannya pingsan seketika.


Mengetahui dimana ia terbaring sekarang membuat perasaannya sangat tak nyaman, lagi-lagi ia merepotkan yang lain.


Memutuskan untuk bangun dan menghirup udara segar Patricia berjalan ke arah longsor yang menutup akses, ditelitinya tumpukan tanah dan pohon itu sambil mencari jalan keluar.


Dugh Dugh


Sebuah suara bak langkah raksasa membuatnya waspada, menatap sekeliling ia memutuskan untuk bersembunyi. Saat itulah makhluk yang tadi membuatnya kaget keluar dari tempat persembunyian, sesosok Kaki Besar yang nampak ramah.


"Hai..." sapa Patricia memutuskan untuk menyapa.


Dugh Dugh Dugh


"Tunggu!" teriak Patricia menghentikan makhluk itu yang hendak kabur.


Ia terdiam, bersembunyi di balik pohon sambil menatap takut pada Patricia.


"Aku tidak bermaksud jahat, apa kau yang tadi berpapasan dengan ku?" tanyanya.


Makhluk mengangguk pelan.


"Namaku Patricia, maaf karena aku telah membuatmu kaget. Sebenarnya kau juga membuat ku kaget," akuinya.


Makhluk itu tiba-tiba menyodorkan tangannya, dari kepalan tangan kecilnya Patricia menerima sebuah bunga lotus. Bagi kaum Kaki Besar bunga ini mengartikan penyesalan, sederhananya bunga itu tanda permintaan maaf kepada Patricia.


"Oh kau sangat baik sekali, terimakasih. Ini sebagai balasanku," ujarnya sambil menyerahkan gula-gula.


Meski gelap tapi Patricia bisa melihat senyum diwajah makhluk itu.


"Siapa namamu?" tanya Patricia.


"Max," jawabnya pelan.


"Hai Max, apa kau mau menghabiskan malam dengan ku? aku terbangun karena mimpi buruk dan tidak mau tidur lagi," tawarnya.


Terlihat Max berfikir, tapi kemudian ia perlahan keluar untuk menampakkan diri. Patricia tersenyum ramah menyambutnya, merasa aman Max juga tersenyum.


"Apa kau sengaja datang kembali untuk meminta maaf?" tanya Patricia.


Max mengangguk pelan.


"Untuk makhluk seperti mu kau cukup pemberani, aku senang kau datang. Setidaknya aku punya teman bicara, ada banyak sekali hal yang membuat perasaan ku tak nyaman dan sayangnya aku tidak bisa membicarakannya dengan mereka," ujar Patricia bercerita.


Max menatap panjang pada Patricia, seakan bertanya hal apa yang menganggu gadis itu.


"Aku merasa sangat konyol, dengan penuh percaya diri aku menyatakan siap menjadi ksatria dan menantang bahaya. Tapi bahkan sebelum aku menjadi ksatria aku sudah kena kutukan, membuat semua orang khawatir dan merepotkan mereka. Heh bahkan aku sampai pingsan hanya karena bertemu dengan mu," keluh Patricia.


Max hanya diam, mendengarkan tanpa bertanya.


"Lihatlah! gunukan tanah ini telah menghambat perjalanan kami dalam misi penyelamatan ku. Sejak tadi mereka tak berhenti mencari jalan lain karena tak ingin aku semakin menderita, sementara aku hanya diam bak patung."


Hhhhhhhhh


Patricia menghembuskan nafas kesal, menendang-nendang tumpukan tanah itu sambil menunduk putus asa.


Brruussssshhh


Ia mengangkat kepala, melihat Max ikut menendang tanah itu hingga dahan pohon yang patah jatuh ke jurang. Sejenak Patricia menatap Max sampai ia akhirnya menemukan sebuah ide.


"Kau jenius! benar Max! kakimu adalah sebuah anugrah, kau bisa menendang terus sampai tumpukan tanah ini jatuh," soraknya.


Max tersenyum, rupanya ia sudah lebih dulu memikirkan ide itu. Dengan kekuatan penuh Max terus menendang sementara Patricia ikut melemparkan dahan-dahan pohon itu ke jurang, sedikit demi sedikit ia juga memindahkan tanah itu.


Semalaman mereka terus bekerja, saling membahu sampai akhirnya jalan itu bisa di lewati. Dengan kekuatan kaki Max ia meratakan sisa tanah yang ada, tentu dibantu oleh Patricia.

__ADS_1


"Terimakasih, berkat mu kami bisa melanjutkan perjalanan," ujar Patricia saat mereka beristirahat dibawah pohon.


Max tersenyum dan mengangguk, saling terdiam karena lelah tanpa sadar Patricia tertidur.


__ADS_2