Sonu : Legenda Telah Kembali

Sonu : Legenda Telah Kembali
Bab 22 Prajurit Terhormat


__ADS_3

Jumlah anak-anak yang hilang semakin banyak, membuat rakyat mempertanyakan kekuatan Raja yang digadang-gadang sekuat benteng. Kerusuhan mulai terjadi di beberapa ibu kota, para prajurit yang tak boleh melawan rakyat khususnya wanita hanya mampu bertahan dibalik perisai mereka.


Sementara para petinggi kerajaan pun tak henti berdebat tentang rumor sekutu mereka yakni Raja dari Kerajaan Merdesh, terlebih lagi seorang pangeran datang menawarkan hadiah untuk meredam rumor yang sedang beredar.


Estes yang tanpa sengaja mendengar jendralnya berdiskusi tentang hal ini ketahuan dan disumpah untuk menjaga rahasia sebagaimana prajurit setia.


"Kita akan menghukum seseorang, seorang perompak yang telah dijatuhi hukuman mati. Dengan begini setidaknya rakyat akan merasa aman dan kerusuhan akan reda," jelas Jendral.


"Tapi penculik itu tetap berkeliaran," ujar Estes.


"Karena itulah aku mengatakan semua ini padamu, aku akan membentuk tim khusus yang bergerak secara rahasia untuk tetap melakukan penyelidikan. Dan aku menunjuk mu sebagai kepala divisi Satu yang akan memimpin tim ini."


"Sungguh suatu kehidupan besar dapat mengemban tugas sebesar ini," jawab Estes berbangga hati.


Jendral tersenyum seraya menepuk pundak Estes, membiarkan dia pergi sambil membusungkan dada. Tapi senyum itu tak bertahan lama, menatap dingin ia memberi isyarat kepada tangan kanannya untuk mendekat.


"Beri karangan bunga kepada keluarganya, setidaknya untuk dedikasinya yang luar biasa kita harus memberi penghormatan terakhir yang pantas," ucapnya pelan.


Tangan kanannya mengangguk, segera pergi untuk melaksanakan tugas.


...----------------...


Tim khusus itu hanya beranggotakan lima orang sudah termasuk Estes sebagai pemimpin, saat sinar matahari akan muncul itulah tanda bahwa mereka harus segera pergi.


Estes baru saja selesai menulis surat saat ia diberitahu untuk berkumpul, dengan cepat ia melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam kantung.

__ADS_1


Di sebuah ruangan yang tak lebih besar dari kamarnya Jendral memberi sedikit pidato untuk membakar semangat mereka, diakhir pidato itu ia mengacungkan tangan Estes sebagai bentuk penghargaan atas posisi barunya sebagai pemimpin.


Sorak serta tepuk tangan riuh membahana di seluruh ruangan, menyambut pemimpin baru mereka dan pidato luar biasa dari sang Jendral.


Tanpa membuang waktu Estes pun segera pamit undur diri dan membawa pasukannya untuk memulai penyelidikan, karena mereka adalah pasukan rahasia maka setelah keluar dari istana mereka mengganti pakaian.


Sebelum keluar dari kota Estes menyempatkan diri untuk mengirim surat yang telah ia tulis untuk Patricia, berharap mereka akan bertemu kembali dalam keadaan baik-baik saja.


Sayangnya harapan itu tak akan terwujud, satu hari telah berlalu dan kini mereka berjalan melewati hutan. Saat malam tiba Estes memberi perintah untuk menyiapkan tempat tidur yang aman dan menyalakan api, semua melakukan tugas masing-masing dengan sangat terampil hingga tak butuh waktu lama mereka bisa duduk dengan santai sambil menikmati kudapan malam.


"Entah mengapa tiba-tiba aku teringat saat pertama kali masuk ke istana, malam itu kita berkumpul dikamar sambil berkenalan satu sama lain," ujar Estes.


Mereka tertegun, merasa tak nyaman akan ucapan Estes yang bagai kata-kata terakhir.


"Sialan kau! ingatlah suatu hari nanti kau juga pasti akan merasakannya," gerutu Billy sementara yang lain hanya tertawa.


"Yeah, sialnya sekarang aku sedang merasakannya," ujar Estes sambil melempar ranting kecil ke dalam api.


Entah mengapa tiba-tiba suasana menjadi hening, mereka semua menatap Estes seakan dia adalah bunga layu yang siap jatuh.


"Kau memiliki kekasih?" tanya Billy.


"Hanya teman masa kecil, dia seorang gadis yang tangguh dan pemberani. Saat kami masih kecil dia selalu berdiri di depan ku untuk melindungi ku, itu membuat ku muak sebab membuatku sadar betapa pengecutnya diriku. Saat akhirnya kami berpisah aku pun memutuskan untuk berubah, dialah alasan ku untuk masuk ke istana sebagai prajurit."


"Kau ingin menjadi sepertinya," terka Billy.

__ADS_1


"Yeah, aku ingin kuat, berani dan membalas kebaikannya. Aku ingin suatu hari nanti aku yang akan berdiri di depannya dan menampilkan punggung lebar ku padanya," sahut Estes.


"Aah ini sudah larut, sebaiknya kita tidur sekarang!" seru Estes sambil mengambil posisi untuk tidur.


Tapi tak ada satu pun dari mereka yang ikut berbaring, justru mereka tetap terjaga sampai Estes benar-benar terlelap.


Billy menatap satu persatu rekan satu timnya, bicara lewat matanya dan ketika yang lain mengangguk barulah ia mengeluarkan belati dari balik punggungnya.


Diacungkannya belati itu tepat diatas Estes, dengan gemetar ia berbisik, "Maafkan aku, kau tidak bersalah. Hanya saja Jendral akan menghabisi kami semua jika tidak melakukannya, lagi pula kau mati secara terhormat."


Rupanya sebelum mereka memulai perjalanan ini Jendral telah mengumpulkan beberapa prajurit yang ia rasa siap mengemban tugas berat ini, itu termasuk dengan Billy.


Teman pertama yang Estes kenal saat ia memasuki istana, bahkan mereka berbagi kamar dan tempat tidur sehingga setiap malam sebelum beristirahat Estes terbiasa mendengar keluhan Billy tentang kerinduannya kepada kekasihnya.


Saat Billy diberi tugas untuk menghabisi Estes tentu ia menolak, tak ada alasan yang mengharuskannya melakukan hal itu kepada temannya sendiri.


Terlebih tak ada kesalahan yang Estes perbuat, tapi Jendral tak mau keadaan genting istana bocor sehingga meski dia adalah prajurit biasa maka Estes harus dibungkam untuk selamanya.


Terpaksa, Akhirnya Billy menerimanya. Siap menanggung dosa itu seumur hidup dengan menutup mata ia menarik tangannya keatas sebelum kemudian ia ayunkan kebawah dengan cepat dan.


Jleb


Aaaaaaaaaaarrrgghh


Itu adalah sebuah jeritan memilukan di tengah malam yang sunyi.

__ADS_1


__ADS_2