
Ada yang aneh, pria itu menggunakan topeng ditengah umum. Merasa ada yang janggal Patricia memutuskan untuk mengikuti kemana pria itu membawa pergi anak-anak, mengambil jarak aman agar tak ketahuan ia melihat bagaimana pria itu pandai bercengkrama hingga anak-anak itu tertawa.
Namun apa yang kemudian dia lihat adalah sesuatu yang lebih mencurigakan, pria itu membawa anak-anak ke hutan dan terus berjalan tanpa henti.
Setelah melihat berbagai kejanggalan ia pun teringat akan kasus penculikan anak-anak yang belum terpecahkan, dan kemungkinan besar yang sedang ia saksikan adalah satu kasus yang sama.
Tak bisa tinggal diam Patricia segera mengambil tindakan, meski anak-anak itu adalah pemulung yang tak pernah dihargai tapi bukan berarti mereka tak berharga.
"Hei!" teriak Patricia menghentikan langkah mereka.
"Oh, bukakah kau kakak yang tadi?" tanya salah satu anak tersebut.
"Kau akan membawa mereka kemana?" tanya Patricia tegas.
Alih-alih menjawab pria itu justru mengeluarkan pedangnya, membuat anak-anak itu ketakutan hingga berlari kepinggir. Sementara Patricia yang baru sadar kalau dia tak memiliki senjata mulai panik, tak ada pilihan ia mengambil sebatang kayu untuk pertahanan.
"Anak-anak cepat lari!" teriaknya.
Drap Drap Drap Drap
Sret
Bersamaan dengan anak-anak yang melarikan diri pria itu pun juga berlari kearah Patricia, menyerangnya dengan cepat dan berhasil memotong sepotong kayu ditangan Patricia.
Tak mau kalah, meski berbekal sepotong kayu Patricia tetap maju untuk menyerang. Mengerahkan kemampuannya bertarung yang ia latih sendiri, tapi pria itu bukanlah lawan yang seimbang sehingga dengan mudah nyawa Patricia terancam.
Cukup dengan satu tendangan saja ia sudah jatuh tersungkur, tanpa ada kesempatan untuk bangkit pria itu telah berdiri tepat diatasnya dengan ujung pedang yang mengarah pada wajahnya.
Apakah ini akhir dari hidupnya? tidak! Patricia tidak akan menyerah meski dewa kematian telah menempelkan celurit pada lehernya. Meski menggunakan topeng tapi Patricia dapat melihat bola mata pria itu, menatapnya tanpa ada rasa kemanusiaan.
Patricia membalasnya dengan sebuah tatapan api, sementara tangannya perlahan menggengam tanah.
Bruuuhhhh
Buk
Aargh
Melemparkan tanah tepat pada wajah pria itu Patricia berhasil membuat celah, dengan cepat ia bangkit dan menendang pria itu hingga jatuh.
Satu kesempatan itu ia gunakan untuk kembali melancarkan serangan berupa tendangan lain yang mengarah tangannya, dengan sekuat tenaga ia menginjak tangan itu hingga teriakan kesakitan menggema di seluruh penjuru hutan.
__ADS_1
"Kurang ajar!" bentak pria itu emosi sambil mencoba untuk bangkit.
Sadar keadaan akan segera berbalik lagi Patricia memutuskan untuk lari meski hatinya masih ingin bertarung, untuk saat ini ia harus mencari senjata yang bagus dulu sebelum kembali bertarung.
Tepat di depan ia melihat rumah penduduk yang artinya ia kembali ke kota, itu bagus karena disana ada banyak barang yang bisa ia gunakan sebagai senjata tapi.
Bruk
Pria itu berhasil mengejarnya, menabraknya untuk menghentikan langkah kakinya. Diatas hamparan rumput yang lembut mereka bergelut saling mengunci pergerakan satu sama lain hingga berguling-guling, sayang Patricia kalah dalam tingkat kekuatan.
Saat Patricia mencoba kabur dengan merangkak ia menarik kakinya dan mencekik lehernya dengan begitu kuat, semakin lama semakin kuat hingga perlahan Patricia merasa sesak.
Dengan sisa kekuatan yang ia miliki satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya menggapai bagian wajah pria itu, menjauhkan tubuhnya walaupun hal itu tak berhasil sebab ia telah kehilangan kekuatan.
"Itu dia!" teriak seorang anak tiba-tiba.
Kaget pria itu menatap kedepan yang ternyata anak-anak tadi kembali bersama penduduk, panik ia melepaskan tangannya dari leher Patricia.
Uhuk Uhuk Uhuk
Kembali menghirup udara dengan keras tentu membuatnya terbatuk, meski butuh waktu untuk mengembalikan setengah kesadarannya yang hilang tapi reflek tubuhnya bekerja dengan cepat.
Saat pria itu mencoba kabur sebab penduduk mengejarnya Patricia dengan cepat meraih bajunya, menahannya sekuat tenaga meski ia harus mendapat pujulan beberapa kali.
* * *
Begitu mendengar tentang adanya kasus penculikan yang baru Jacy dan Sonu segera pergi bersama dengan Rebecca dan Charlie, hanya butuh waktu setengah hari bagi mereka untuk sampai meski hari itu telah gelap.
"Saksi mata itu seorang gadis yang bekerja di penginapan ini," ujar Rebecca begitu mereka tiba.
"Kalau begitu ayo masuk!" ajak Sonu.
Mereka pun turun dari kuda dan menggiringnya masuk ke kandang terlebih dahulu sebelum masuk ke penginapan.
Tring
Bel diatas pintu itu berdenting saat Sonu membuka pintu, ia berjalan masuk diikuti oleh yang lain.
"Halo... apa ada orang?" teriak Jacy.
"Ya, selamat datang di penginapan kami!" sahut Emily yang datang dari koridor dengan setumpuk seprai di tangannya.
__ADS_1
Susah payah ia berjalan dengan hati-hati agar tak menabrak meja, menumpahkan semua seprai itu kedalam keranjang ia pun berbalik untuk menyambut tamunya.
"Oh! kau! Sonu!" ujar Emily saat matanya beradu pandang dengan Sonu.
"Kau mengenalnya?" bisik Jacy heran.
"Kau saksi mata itu?" tanya Sonu tanpa memperdulikan pertanyaan Jacy.
"Jika maksud mu tentang penculikan itu maka jawabannya adalah Patricia."
"Dia disini?" tanya Sonu kaget.
"Ya, dia membantuku mengurus penginapan."
"Bisakah kau memanggilnya?" tanyanya.
"Tentu, dengan syarat kalian akan menginap dengan satu kamar untuk satu orang."
Sring
Rebecca segera menaruh sekantong uang diatas meja, membuat senyum Emily mengembang.
"Duduklah dulu, akan segera ku siapkan kamarnya. Tentu juga menyuruh Patricia untuk menemui kalian," ujarnya.
Emily bergegas pergi sementara mereka mengambil tempat duduk, sambil menunggu kedatangan Patricia dalam hati Sonu bergelut dengan dirinya tentang apa yang harus ia katakan kepada gadis itu.
Ia pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan atau pun salam perpisahan, ia tahu Patricia pasti akan marah besar. Pada akhirnya tak ada sepatah kata pun yang ia ucapkan begitu bertatap muka, Patricia pun hanya menatapnya sekilas dan acuh seolah mereka tak pernah bertemu.
"Kau yang melihat kasus penculikan itu?" tanya Rebecca.
Tuk
"Itu adalah topeng yang digunakan pria itu," ujar Patricia menaruh topengnya diatas meja.
Rebecca segera mengambil topeng itu untuk melihat lebih dekat, secara bergiliran mereka meneliti struktur topeng yang terbuat dari kayu sementara Sonu hanya memperhatikan sikap Patricia yang dingin.
"Bisa kau jelaskan dengan rinci bagaimana peristiwa itu terjadi?" tanya Charlie.
"Mereka adalah komplotan bulan sabit yang bernaung pada satu pemimpin, mereka hanya mengincar anak-anak yang mengalami kekerasan, tidak dipedulikan dan anak-anak yang tidak memiliki orangtua," jawab Patricia.
"Bagaimana kau bisa tahu sebanyak itu?" tanya Jacy.
__ADS_1
"Libatkan aku dalam penyelidikan, ajari aku bagaimana caranya bertarung sebagai gantinya akan ku beritahu semua informasi yang kalian butuhkan," sahut Patricia tegas sementara Sonu melongo tak percaya.