Sonu : Legenda Telah Kembali

Sonu : Legenda Telah Kembali
Bab 29 Dejavu


__ADS_3

Ia menjalani rutinitas seperti biasa, pergi ke pasar untuk menemani ayahnya berdagang. Setiap pengunjung yang datang ia tatap dengan seksama, begitu juga dengan para pedagang lain hingga anak jalanan yang meminta sedikit makanan.


Dengan murah hati ayahnya memberikan masing-masing anak itu selembar roti dan buah apel, membuatnya merasakan dejavu.


Menatap ke arah kiri dimana jalanan itu mulai lenggang ia menebak kereta panglima akan lewat beserta pasukannya, dan tak lama kemudian hal itu benar-benar terjadi.


Ini membuatnya merinding, terlebih saat ia menyadari ini adalah hari dimana orangtuanya meninggal di bunuh monster.


Gugup serta cemas diam-diam Patricia menyimpan senjata di balik pakaiannya, jika hal itu sampai terjadi maka kali ini ia memutuskan untuk melawan.


Perubahan matahari yang menandakan waktu terus berjalan membuatnya semakin gugup, terlebih saat matahari itu berwarna jingga yang menyatakan waktu makan malam hampir tiba.


"Patricia! bisa kau bantu bereskan mejanya?" teriak ibunya dari dapur.


Patricia segera masuk dan merapikan meja sesuai permintaan.


"Dimana ayahmu?" tanya ibunya sambil meletakkan piring.


"Dia bilang mau memeriksa ladang," sahutnya pelan.


"Baiklah."


"Ah sial, sesuatu merusak tanaman kentang kita," keluh ayahnya sambil masuk ke dalam.


"Sungguh? lalu bagaimana? apa semua kentangnya hancur?" tanya ibunya cemas.


"Ya, sebagian. Di lihat dari jejaknya aku rasa itu segerembol hewan yang kebetulan lewat," jawabnya.


"Tapi bagaimana bisa? selama ini tanaman kita selalu aman."


"Aku juga tidak tahu, sudahlah! lebih baik kita makan malam dulu. Aku sudah terlalu lapar," sahutnya.


Ibunya pun mengangguk, segera menuangkan tumis sayuran hasil tanam sendiri. Mereka mulai melahap makanan itu tapi Patricia tidak, matanya tajam mengawasi pintu sementara tangannya menggenggam pisau di balik meja.


"Kenapa sayang? kau tidak makan?" tanya ayahnya heran sebab Patricia belum juga menyentuh makanannya.


"Tidak, maksud ku... aku akan memakannya," sahutnya segera merubah ekspresi dengan senyuman.


Satu tangannya mulai menyendok sementara tangan yang lain masih memegang senjata, baru satu suapan tiba-tiba terdengar sebuah suara gaduh dari arah luar.

__ADS_1


"Apa itu?" tanya ibunya penasaran sementara Patricia semakin kencang memegang senjatanya.


"Biar ku periksa," ujar ayahnya bangkit.


Suara gaduh itu semakin jelas terdengar saat ayahnya berjalan menuju pintu, detik-detik itu semakin menegangkan sebab ayahnya cukup ragu melakukan hal itu.


Bruk


Belum sempat ayahnya memegang gagang pintu tiba-tiba para monster menghambur masuk ke dalam ruangan.


Aaaaaaaaaaaaa


Jeritan pertama dari ibunya menyadarkan Patricia untuk mulai merubah nasib, berjalan cepat ke arah para monster itu ia mengibaskan pisaunya dengan lihai seolah itu pedang.


Sret Sret Syaaat


Buk


Banyak luka yang di torehkan Patricia, darah segar mulai menetes di sertai pekikan ringan. Patricia terus menyayat dan memukul demi mempertahankan posisinya, berdiri tegak di hadapan ibunya demi melindunginya.


Sementara ayahnya yang jatuh tertindih mulai bangkit dan mengambil senjata, dari balik lemari ia mengambil sebuah pedang panjang dan mulai menyerang.


"Ibu! cepat pergi dari sini!" teriak Patricia menyadarkan ibunya yang bengong karena syok.


Patricia mulai bergeser, memberi jalan keluar untuk ibunya. Setelah ibunya berhasil menyelamatkan diri barulah ia membantu ayahnya yang terkepung.


Pertarungan itu terus berlangsung sampai beberapa tetangga datang untuk membantu, akhirnya monster itu pun dapat di kalahkan dan mereka selamat.


"Patricia... oh.. mutiara ku.. " panggil ayahnya dengan penuh rasa syukur.


Patricia menghapus darah yang menodai wajahnya, tersenyum penuh kebahagiaan ia pun memeluk ayahnya untuk kemudian menangis dalam dadanya.


Butuh waktu beberapa menit sampai mereka bisa tenang, atas peristiwa tak terduga ini kepala desa pun mengajukan permohonan kepada Raja untuk lebih memperhatikan keselamatan rakyatnya.


Hanya dalam waktu beberapa hari saja prajurit pun berdatangan untuk menyisir area itu, mencaritahu alasan di balik penyerangan monster itu dan menambah penjagaan untuk rumah yang lebih dekat ke hutan.


Hari bahagia bagi Patricia kembali berlanjut, ia yang merasa senang sebab berhasil menyelematkan kedua orangtuanya memanfaatkan momen itu untuk terus menghabiskan waktu dengan mereka.


Sampai benaknya kembali memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi, di satu sisi ia terlalu bahagia hingga tak mau peduli tapi di sisi yang lain ada rasa cemas sebab jelas ia ingat bahwa kedua orangtuanya telah meninggal.

__ADS_1


Tak bisa hanya diam saja Patricia memutuskan untuk menyelidikinya, kepada orangtuanya ia mengatakan ingin bertemu kakeknya dan minta diantar ke sana.


Karena memang mereka sudah terlalu lama tak bertemu akhirnya orangtuanya pun setuju, pagi sekali mereka sudah berangkat agar bisa tiba saat matahari masih bersinar terang.


"Kakek.... " teriak Patricia melihat kakeknya sibuk membelah kayu bakar di luar.


"Oh cucu ku!" balas Benjamin menatap tak percaya pada tamu yang datang.


Patricia segera melompat dari gerobaknya yang membuat ibunya menjerit kaget sementara ayahnya hanya tertawa, berlari Patricia menghampiri Benjamin dan memeluknya.


"Oh Patricia... lihat betapa cantiknya kau, terakhir kali kita bertemu adalah saat kau pergi meninggalkan ku dan sekarang kau adalah buah yang siap di panen," ujar Benjamin seraya mengelus rambutnya.


Senyum Patricia berubah getir, belum sempat ia bertanya Benjamin telah menjelaskan bahwa kematian orangtuanya tak pernah terjadi dan ini adalah kali pertama mereka bertemu lagi.


"Aku sangat merindukan kakek, bagaimana kabar kakek?" tanya Patricia kembali mengikuti alur.


"Baik, oh Emily pasti senang melihat mu."


"Benar.. aku akan menemuinya!" ujar Patricia segera berlari pergi.


"Oh sungguh anak itu tak pernah merasa lelah," keluh ayahnya menatap bagaimana Patricia berlari dengan cepat.


"Hehe begitulah cucuku, ah ayo masuk! kalian pasti sangat lelah," ujar Benjamin.


Satu hal yang perlu ia pastikan adalah sebuah buku sihir milik keluarga Emily, harusnya buku itu ada yang menjadi penyebab perjalanannya.


Tiba di rumah Emily ia melihat sahabatnya itu baru kembali setelah dari sungai, terlihat jelas dari pakaiannya yang basah dan keranjang berisi ikan yang ditentengnya.


"Emily!" serunya sambil melambaikan tangan.


Emily yang mendengar panggilan itu menoleh dan terkejut melihat Patricia sampai ia menjatuhkan keranjangnya, secara bersamaan mereka berlari saling menghampiri kemudian berpelukan dengan erat.


"Ini kau? Patricia?" tanya Emily dalam pelukan itu.


"Yeah, apa kabar mu?" balasnya.


"Baik, oh aku tak menyangka akan bertemu dengan mu lagi. Berapa lama kau pergi?" ujarnya.


"Beberapa tahun, oh tapi lupakan dulu hal itu. Ada sesuatu yang ingin ku pastikan," jawabnya.

__ADS_1


"Apa itu?" tanya Emily penasaran.


Tak ada waktu untuk menjelaskan, lagi pula Emily tak akan percaya pada ceritanya. Karena itu ia langsung mengajak Emily pergi ke gudangnya, mencari dimana buku itu disimpan.


__ADS_2