
Tiba di istana membuat Estes sedikit gugup, walau pun ini bukanlah wilayah kerajaannya tetap saja ia merasa takut ketahuan. Harusnya ia benar-benar menghilang, tapi apa boleh buat ia terikat pada Madam.
"Gunakan ini, mereka akan mengerti saat ku beritahu kau asisten ku," ujar Madam memberinya topeng.
Estes menurut, sebelum keluar dari kereta ia memakai topeng itu. Bersikap layaknya kaki tangan Estes membantu Madam keluar dari kereta, begitu juga saat menaiki tangga.
"Oh Madam, selamat datang di istana ku," ujar Raja menyambut kedatangan mereka.
"Hormat kami Yang Mulia, sungguh seharusnya anda menunggu di kursi saja."
"Aku ingin menyambutmu secara langsung," sahut Raja.
Madam tersenyum dan membiarkan Raja itu mengecup punggung tangannya, mereka pun masuk untuk bertemu anggota kerajaan yang lain seperti Ratu.
"Salam hormat kami Ratu," ujar Madam sambil sedikit menurunkan tubuhnya.
Ratu hanya mengangguk tanpa senyuman, jelas sekali ia cemburu kepada Madam yang menerima perhatian lebih dari Sang Raja. Bahkan Raja langsung membawa Madam ke ruangan khusus dimana mereka sering bicara berdua.
"Tunggu di sini sampai kami selesai," bisik Madam kepada Estes.
Estes mengangguk dan berdiri tepat di samping pintu untuk berjaga, sebenarnya ia sedikit penasaran tentang apa yang mereka lakukan di dalam. Tapi sungguh itu tidak sopan bahkan untuk di pertanyakan, cukup lama mereka di dalam sekitar tiga jam sampai akhir Madam membuka pintu.
"Aku akan pergi sekarang, sampai ketemu lagi Yang Mulia," ujar Madam berpamitan.
Tak lupa Estes juga memberi hormat, diantar oleh prajurit mereka pergi ke luar istana. Setelah masuk ke dalam kereta barulah Estes membuka topengnya, membiarkan angin menerpa wajahnya yang berkeringat.
"Sekarang kita akan pergi kemana?" tanya Estes.
"Kita akan mendirikan tenda di dekat sini, ada sebuah lapangan khusus yang Raja berikan untuk ku membangun tenda."
"Jadi... kau sering datang kemari?" tanyanya mulai tak tahan untuk tak bertanya.
"Kami selalu bekerja sama, hubungan timbal balik."
Estes cukup mengerti maksud Madam dan tak bertanya lagi, saat tiba di tempat yang di maksud ia kembali mengenakan topeng dan membantu yang lain membangun tenda.
Dengan beberapa prajurit dalam waktu setengah hari saja tenda besar bewarna ungu itu telah selesai di bangun, kelelahan Estes memilih beristirahat.
Tapi ia tak bisa, benaknya sangat kacau dengan terus memikirkan Patricia. Ia takut gadis itu mengalami masalah yang membahayakan nyawanya.
"Tak bisa tidur huh?" tanya Madam.
"Oh, mm.. aku memikirkan Patricia," ujarnya.
Raut wajah Madam tiba-tiba serius, itu membuat Estes curiga.
"Ada apa?" tanyanya.
__ADS_1
"Ada sesuatu dengannya."
"Apa maksud mu?"
"Jelas dia terkena kutukan, tapi aku rasa ini lebih dari sekedar itu. Saat mencoba membaca alam bawah sadarnya aku menemukan banyak hal mengerikan yang lebih dari sekedar kutukan penyihir," jawabnya.
"Apa yang kau lihat?" tanya Estes lagi.
"Darah, pisau, cairan aneh dan masih banyak lagi. Tapi yang paling membuatku cemas adalah 'sesuatu yang harusnya sudah musnah dari bumi ini'."
...----------------...
"Apa kau berpikir seperti yang ku pikirkan?" tanya Jacy sambil menatap Patricia dan Emily yang berjalan tepat di depan mereka.
Sonu hanya diam tanpa kata, beberapa waktu yang lalu ia kembali dengan keadaan utuh bahkan senyum cerah. Saat ditanya apa yang terjadi ia hanya menjawab sebuah kesalahpahaman kecil terjadi, tentu itu sangat aneh sebab nyatanya Emily terluka.
Karena semua baik mereka melanjutkan perjalanan tanpa membahasnya lebih lanjut, tapi Jacy dan Sonu kini benar-benar tak melepaskan pandangan dari Patricia.
Semenjak terkena kutukan mereka merasa Patricia menjadi magnet bagi monster, kemana ia pergi seorang diri disanalah monster datang menghampiri.
"Lihat! ada rumah disana!" seru Patricia sambil menunjuk.
"Ayo kita pergi dan minta sedikit bantuan," ujarnya.
"Tidak!" tahan Jacy sambil menarik tangan Patricia.
"Seharusnya kita masih ada di wilayah hutan Tresy, tidak mungkin ada rumah di tengah hutan seperti ini."
"Oh sial! tutup hidung kalian!" seru Sonu seketika.
Dengan panik mereka menutup hidung sambil saling mendekat satu sama lain, tapi mereka terlambat. Tiba-tiba kabut tebal menghampiri mereka, semakin cepat hingga mengaburkan pandangan sehingga tak ada apa pun yang bisa mereka lihat.
"Sonu! Jacy! Emily!" panggil Patricia namun tak ada yang menyahut.
Ketakutan Patricia menerawang di balik kabut tebal, berjalan perlahan mencari jalan keluar sambil tetap menyerukan nama teman-temannya.
Sssssshhhhhhh
Sebuah suara desisan tiba-tiba terdengar begitu dekat, berhenti melangkah Patricia mencoba mengumpulkan segenap keberanian hanya untuk menengok kebelakang.
"Oh... tidak... " gumamnya menatap sebuah bayangan yang semakin melebar dan.
Aaaaaaaaaaaaa....
"Patricia!"
Hhhhhhhhh Hhhhhhh Hhhhh Hhhh
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa?"
"Ibu?" tanya Patricia menatap seorang wanita yang memandangnya cemas.
"Ada apa? kenapa berteriak?" tanya seorang pria sambil menghambur masuk.
"Ayah?" seru Patricia lebih kaget.
"Ah jangan bilang kau bermimpi buruk!" tukas ayahnya.
Termangu, Patricia tak bisa percaya pada apa yang ia lihat. Dengan sengaja ia pun mencubit tangannya sendiri.
"Aw!" pekiknya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya ibunya.
"Sakit..." gumamnya keheranan.
"Tentu saja sayang, kau mencubit dirimu sendiri! sepertinya kau belum bangun sepenuhnya," tukas ayahnya sambil menggelengkan kepala.
Patricia tak menyahut, ia masih butuh waktu untuk mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Baiklah jika kau sudah siap segera keluar dan sarapan, bukankah kau ingin ikut ke pasar di kota?" tanya ibunya.
Mereka pun pergi, membiarkan Patricia sampai benar-benar bangun. Turun dari ranjangnya Patricia menatap sekeliling secara seksama, mencoba mencari sesuatu yang ia sendiri tak tahu di kamarnya.
Masih dengan kebingungan akhirnya ia pun berganti pakaian dan menemui kedua orangtuanya.
"Ini dia putri ayah, kemari sayang! ibumu membuat sup kambing yang sangat lezat," seru ayahnya menyanbut.
Dengan ragu Patricia menghampiri dan duduk di kursinya, memperhatikan wajah kedua orang tuanya yang tersenyum dan bercengkrama seperti biasa.
Ia sangat ingat apa yang terjadi dalam hidupnya, kedua orangtuanya mati di bunuh monster dan dia terkena kutukan yang mengharuskannya melakukan perjalanan bersama teman-teman.
"Ada apa sayang? apa kau sakit?" tanya ibunya sebab Patricia begitu pendiam tak seperti biasanya.
"Tidak apa-apa," sahutnya pelan.
Entah mengapa tiba-tiba air mata menetes di pipinya, jika benar ini hanya mimpi betapa ini adalah mimpi terindah setelah sekian lama.
"Hei! kenapa kau menangis?" tanya ayahnya lembut.
"Tidak apa-apa ayah, mataku hanya kelilipan."
"Oh kalau begitu cepat selesaikan sarapannya, kita sudah terlambat."
Patricia mengangguk, mimpi atau bukan ia telah memutuskan akan mencaritahu. Untuk itu ia akan mengikuti dulu alurnya, bertindak seperti biasa di dunia yang ia sebut kenangan.
__ADS_1