
Harusnya ia sudah memulai pekerjaannya sejak tadi, tapi sebuah surat datang mengguncangkan hatinya. Tak bisa bergerak selama beberapa menit Benjamin masih terduduk hanya untuk melamunkan nasib cucunya.
"Salam sejahtera,
Saat surat ini sampai kepadamu itu artinya satu-satunya yang bisa kau lakukan hanya percaya pada kami, tolong jangan salahkan Patricia atas hal ini sebab akulah yang bodoh. Aku hanya ingin sedikit menyenangkan Patricia dengan bermain sihir, tapi kesalahan ku adalah tak mengerti cara mainnya sehingga membuat kami terjebak dalam lingkaran setan.
Patricia harus menanggung sakit karena salah ku, oleh karena itu kami pergi untuk menyembuhkannya.
Kau tak perlu khawatir, aku akan tetap disampingnya dan aku berjanji akan membawa pulang Patricia dengan selamat.
Maaf karena telah membuatmu khawatir, maaf juga karena aku tidak berhati-hati.
Emily Patterson."
Sekali lagi Benjamin menghembuskan nafas setelah membaca surat itu untuk yang kedua kalinya, seperti yang dikatakan Emily dalam suratnya ia hanya bisa memaafkan dan berharap mereka akan pulang dengan selamat.
...----------------...
Satu hari telah berlalu dan kini mereka memasuki sebuah pedesaan kecil setelah keluar dari hutan, untuk pertama kalinya Patricia merasa gugup saat akan memasuki pedesaan. Jantungnya terus berdegup dengan kencang seolah akan loncat keluar bila tidak ia tahan, dan senyum diwajahnya tak bisa ia sembunyikan.
Karena telah sampai di pedesaan Sonu memilih untuk mencari tempat istirahat, namun desa itu terlalu kecil hingga ia tak menemukan penginapan.
"Permisi, apa ada penginapan disekitar sini?" tanyanya pada penduduk lokal.
"Oh kalian mencari penginapan? maaf tapi di desa ini tak ada penginapan, tapi kau bisa pergi ke kepala desa."
"Kau bisa tunjukkan dimana rumahnya?" tanya Sonu.
"Tentu!" sahutnya.
Sambil menuntun kuda mereka pun pergi, setibanya disana melihat rumah kepala desa yang cukup besar membuat mereka saling menatap satu sama lain.
Tok Tok Tok
"Aku datang!" teriak seseorang dari dalam.
Ceklek
"Clark! ada apa?" tanya seorang pria gembul.
"Pak! orang-orang ini mencari penginapan," sahutnya sambil menunjuk.
Mereka mengangguk sambil tersenyum saat kepala desa menatap.
__ADS_1
"Oh, kau bisa pergi!" sahutnya.
Pria itu mengangguk dan pergi, sementara kepala desa menyambut kedatangan mereka.
"Namaku Edward, aku kepala desa di sini."
"Senang bertemu dengan anda, saya Sonu dan mereka teman-teman saya," jawab Sonu sambil menyambut tangan Kepala Desa.
Secara bergiliran merema memperkenalkan diri sambil menyalami tangan Kepala Desa.
"Maaf karena desa kami tidak memiliki penginapan, sangat jarang orang asing yang datang ke desa ini sehingga kami tak butuh penginapan. Tapi jarang bukan berarti tidak ada, sebagai ganti penginapan aku membebaskan tamu untuk tinggal dirumah ku tanpa sewa," jelasnya.
"Terimakasih tuan, kami hanya mampir dan akan pergi besok pagi," ucap Jacy menerima keramahtamahan sang Kepala Desa.
"Tidak masalah, kalian bisa tinggalkan kudanya di kandang."
Mereka mengangguk, menyerahkan tugas itu kepada Jacy sementara yang lain masuk untuk segera pergi ke kamar mereka.
Perjalanan dihari pertama rupanya membuat Emily sudah merasa lelah, ia merasa sakit pinggang dan butuh tidur beberapa menit. Sementara Patricia yang antusias akan pergi melihat-lihat desa, dengan pengawasan Sonu karena ia tak mau gadis itu berbuat hal aneh lagi.
"Aku hanya berkeliling desa, kenapa kau pikir aku akan mengacau?" gerutu Patricia merasa tersinggung.
"Pertama kali kita bertemu kau ingin berburu, kedua kali kita bertemu kau dikutuk. Menurut mu aku bisa membiarkan mu sendiri?" balas Sonu.
Patricia mendengus kesal, tapi entah mengapa ia senang diperhatikan seperti itu. Rasanya seperti memiliki pelindung, untuk beberapa saat ia bahkan merasa melihat ayahnya dalam sosok Sonu.
Kembali ke rumah Kepala Desa mereka disambut hangat dengan disuguhi makan malam yang mewah, terakhir kali merema hanya makan roti karena itu Jacy sangat berterimakasih atas suguhan daging yang diberikan.
"Tanah di desa ini kurang subur, karena itu penduduknya banyak yang memilih menjadi peternak. Untungnya ternak kami menghasilkan daging dengan kualitas bagus sehingga kami bahkan bisa menjualnya ke istana," ujar Kepala Desa.
"Um, ini memang daging terenak yang pernah aku makan!" sahut Jacy menikmati setiap gigitannya.
"Hahahaha aku senang kalian menyukainya," balas Kepala Desa.
Meski belum mengantuk tapi Patricia dipaksa tidur oleh Sonu, sebenarnya alasan Patricia tak ingin tidur bukan karena benar-benar belum mengantuk. Tapi karena ia tak mau bermimpi buruk dan mengalami demam lagi, ia tak mau merepotkan Emily setiap malam.
Akhirnya ia hanya diam dikamar bersama Emily, membicarakan masa lalu dimana mereka masih anak kecil yang suka membuat onar.
"Satu lagi yang tak bisa ku lupakan, itu adalah saat Estes dirundung hingga membuatnya mengalami memar di pundak. Aku benar-benar takut sampai menangis waktu itu," ujar Emily sembari tersenyum geli.
"Ah aku juga ingat! Itu membuatku kesal sampai sekarang," sahut Patricia.
"Dan setelah itu kita bermain peran, kalian menjadi ratu dan raja sementara aku putrinya. Itu adalah kenangan yang manis," timpal Emily sambil mengenang.
__ADS_1
Sejenak mereka terdiam, mengingat kembali setiap detik itu dimana semuanya terasa sangat sempurna.
"Aku tidak mengira Estes akan berubah, dulu dia sangat menggemaskan hingga membuatku ingin terus mencubit pipinya. Sekarang aku tidak bisa melakukannya," ujar Patricia.
"Itu mengingatkan ku bagaimana caramu membelanya, saat kau di olok-olok menyukai Estes dengan lantang kau mengatakan Estes sebenarnya tampan hanya saja dia sedikit berisi dan itu bukanlah kekurangan. Kau tahu? sejak kecil semua pembelaan mu terhadapnya membuat dia menyukaimu."
"Aku tahu, aku tidak bodoh Emily! aku sadar kalau dia menyukai ku lebih dari sekedar sahabat," sahut Patricia.
"Lalu bagaimana dengan mu?" tanya Emily penasaran.
"Entahlah, aku suka menghabiskan waktu dengannya. Tapi aku tidak tahu apakah itu perasaan suka," jawabnya jujur.
"Apa kau menyukai Sonu?" tanya Emily.
"Jangan konyol! dia tak lebih dari ksatria bayaran," sergahnya.
"Tapi kau..."
Aaaaaaaaaaa
Belum selesai Emily mengucapkan kalimatnya sebuah jeritan tiba-tiba terdengar, seketika mereka terdiam. Melebarkan telinga untuk memastikan yang tadi itu bukanlah hanya perasaan saja.
Aaaaaaaaaaargh
Jeritan itu kembali terdengar, kini lebih kencang dari yang awal. Emily dan Patricia saling menatap ngeri, entah mengapa teriakan itu terdengar begitu menyedihkan dan menakutkan.
"Siapa itu?" tanya Emily sambil beringsut mendekati Patricia.
"Entahlah, sebaiknya kita memeriksanya!" sahut Patricia.
Drap Drap Drap Drap
Ceklek
Tiba-tiba Sonu menghambur masuk bersama Jacy, wajah mereka pucat dengan ekspresi khawatir.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Jacy.
"Ya, apa kalian mendengarnya juga?" tanya Patricia.
"Itu bukan kau?" tanya Sonu heran.
Patricia menggeleng yang membuat Sonu lebih keheranan sebab ia pikir teriakan itu berasal dari Patricia.
__ADS_1
Aaaaaaaaaaargh
Jeritan itu kembali lagi, membuat Sonu percaya bahwa itu bukan Patricia.