
Sulur api bergoyang menjilati udara malam yang dingin, membuat sekeliling tumpukan kayu bakar itu cukup hangat. Pesta masih berlangsung dengan meriah meski beberapa orang sudah tak sanggup bangun karena mabuk, bahkan Jacy sudah terkapar di bawah pohon sejak tadi.
Sonu yang sudah menantikan kesempatan itu akhirnya dapat duduk di samping Patricia, jelas matanya menagih penjelasan.
"Aku terkesan pada penampilan mu tadi, dimana kau mempelajarinya?" tanyanya memulai.
"Setelah perpisahan kita Estes kembali ke Madam, awalnya aku berniat pulang dengan Emily setelah berpisah dengan Estes tapi Madam tidak mengijinkan. Dia melihat Dermadeus dan Maesa jadi dia menyuruhku untuk tinggal dan belajar mengendalikan mereka," sahutnya.
"Siapa mereka?" tanya Sonu yang merasa asing dengan dua nama itu.
Patricia tak dapat merangkai kebohongan, ia akhirnya menceritakan apa yang telah ia pelajari di Madam.
Tentu ia memberitahu siapa Dermadeus dan Maesa yang membuat Sonu terbelalak, ia tak menyangka ada dua kekuatan besar dalam tubuh Patricia.
Madam yang lebih mengetahui hal ini cukup khawatir pada Patricia, takut ia tak mampu mengendalikan kekuatan itu sehingga berimbas pada keselamatannya sendiri. Karena itu ia mengajari Patricia cara mengendalikannya, Emily yang awalnya hanya menemani akhirnya ikut juga belajar sihir setelah ditawari.
Tak disangka hanya dalam waktu sebulan mereka sudah mampu menguasai kekuatan masing-masing, mendapat pelajaran berharga Patricia telah memutuskan ia akan menjadi Ksatria.
Niat ini dia beritahukan kepada kakeknya, tentu awalnya Benjamin tidak setuju sebab Patricia pasti akan mendapat banyak kesulitan dan marabahaya. Tapi Estes berada di sana dan berjanji akan menjaga Patricia, Emily pun akhirnya turut serta sehingga mereka sepakat untuk membentuk satu kelompok ksatria.
Sebagai pemula mereka hanya mengambil tugas-tugas kecil, meski imbalannya sedikit tapi itu sepadan dengan pengalaman mereka yang belum seberapa.
"Aku menyuruh mu untuk pulang," ujar Sonu yang masih tak terima akan keputusan Patricia.
"Kau sendiri kagum pada kemampuan ku, ini adalah hidupku Sonu. Aku berhak memutuskan apa pun yang aku inginkan, aku tidak minta kau untuk terus melindungi ku!" tegas Patricia kesal.
Tak ingin tersulut emosi terus Patricia memilih untuk pergi meninggalkan Sonu, baginya tak ada gunanya berdebat.
"Kenapa kau begitu keras kepala?" tanya Sonu sambil menarik tangan Patricia.
"Kau yang keras kepala, siapa kau sampai aku harus mengikuti ucapanmu? sejak perpisahan itu kita tidak memiliki hubungan apa pun lagi," ujar Patricia memperjelas.
"Sonu!" seru Estes menghampiri.
Ia berjalan mendekat dan melepaskan genggaman Sonu dari tangan Patricia, matanya yang tajam seolah memberitahu tidak sepatutnya Sonu bersikap demikian.
"Tolong hormati keputusan orang lain, terlebih dia orang asing," ujar Estes dingin.
__ADS_1
Sonu tak dapat berkutik, ia pun cukup sadar diri bahwa di bukan siapa-siapa. Tapi hatinya tak dapat berdusta, ia sangat peduli pada Patricia dan enggan gadis itu dalam marabahaya.
"Aku hanya ingin memastikan kau tahu keputusan apa yang telah kau buat," ucap Sonu pelan sebelum ia pergi.
Estes masih mengawasi kepergian Sonu, ia merasa benar-benar tak suka pada cara Sonu yang memperlakukan Patricia seolah Patricia miliknya.
"Terimakasih," ujar Patricia.
"Ah ya, kau tidak apa-apa kan?" tanya Estes.
Patricia menggeleng sembari tersenyum, sementara Sonu yang kesal pergi ke kedalaman hutan. Ia melampiaskan amarahnya pada sebatang pohon hingga kulit tanganya mengelupas dan berdarah.
"Hentikan Sonu!" seru Emily dari belakang.
Ia berjalan cepat dan menarik tangan Sonu yang terluka cukup parah, di suruhnya Sonu duduk dan biarkan Emilt mengobati dengan sihirnya.
"Pendarahannya sudah berhenti," lapor Emily sambil membungkus tangan Sonu dengan kain.
"Terimakasih," sahut Sonu merasa canggung.
"Jangan bercanda!" gerutu Sonu hampir tertawa.
"Kenapa? kau mencintainya kan?" tanya Emily.
"Tidak Emily, aku sama sekali tidak memiliki perasaan itu!" bantahnya.
"Lalu kenapa kau begitu protektif kepadanya? hanya orang yang jatuh cinta yang memiliki perasaan itu," tegas Emily.
Sonu membuang muka, bingung bagaimana menjelaskan hal itu pada Emily.
"Sayang," ujarnya.
"Apa?" tanya Emily.
"Aku menyayangi Patricia seperti dia adalah adik ku, satu-satunya keluarga yang aku miliki. Aku sendiri bingung tapi saat kami hanya berdua saja jujur sebagai pria aku sama sekali tidak tergoda untuk menyentuhnya, tapi aku sangat menyayanginya sampai ingin mengurungnya dalam genggaman ku."
Emily mengerut, ia tak percaya ada pria yang dapat memiliki perasaan aneh semacam itu.
__ADS_1
"Dengar, kau hanya punya dua pilihan. Jadikan Patricia istrimu atau biarkan dia melakukan apa pun yang dia mau tak peduli meski itu berbahaya," tegas Emily.
Sonu membatu, tak bisa mengambil keputusan yang mudah tapi tentu saja dia harus.
Semalaman ia berfikir dan menimbang sampai akhirnya matahari muncul menunjukkan cahayanya, setelah kepala desa menjamu mereka terakhir kalinya dengan sarapan Sonu tahu ia harus segera mengambil keputusan.
Para ksatria itu berpamitan dengan kepala desa dan penduduk baru melanjutkan perjalanan, memasuki hutan yang rimbun kicauan burung terdengar seolah berlomba nyaring dengan Jacy yang terus berceloteh.
Dalam persimpangan jalan Sonu tiba-tiba berhenti, membuat mereka semua ikut berhenti sambil mengawasi sekitar.
Tiba-tiba Sonu berjalan menghampiri Estes di belakang yang membuat mereka bingung.
"Aku akan memegang janjimu," ujar Sonu.
Awalnya mereka bingung, tapi segera Estes sadar apa yang Sonu bicarakan maka ia pun mengangguk. Kini Sonu berjalan ke arah Patricia dan berkata "Jangan menyesali apa yang telah kau putuskan."
"Kau tidak perlu khawatir," sahut Patricia yakin.
Sonu menatapnya lekat, mencari keraguan dimata gadis itu tapi justru yang ia temukan adalah tekad yang kuat. Maka keputusannyalah yang tidak boleh goyah, menyerah Sonu menatap mereka bergantian dan saat matanya beradu padang dengan Emily mereka saling tersenyum.
"Baiklah kalau begitu kita berpisah di sini, Jac kita akan mengambil jalur kiri," serunya.
"Tak masalah bagiku," komentar Jacy.
Dalam perpisahan kedua ini Sonu memilih untuk pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan atau pun berjabat tangan, ia rasa itu tak perlu sebab kini mereka juga seorang ksatria dimana mungkin dimasa depan nanti mereka akan bertemu lagi.
"Semoga kalian beruntung, sampai jumpa!" seru Jacy sambil melambaikan tangan.
Mereka membalas lambaian tangan Jacy sampai ia hilang diantara pepohonan.
"Huuuuhh... aku kira Sonu akan melamarmu," celetuk Emily kelepasan.
"Apa?" tanya Estes.
"Eh tidak, aku pergi! misi selanjutnya sudah menanti," ajak Emily.
Ia melangkah lebih dulu dan memimpin jalan, di belakang Estes mengikuti sambil menggandeng tangan Patricia.
__ADS_1