Sonu : Legenda Telah Kembali

Sonu : Legenda Telah Kembali
Bab 31 kehidupan Bahagia


__ADS_3

Patricia menoleh, menatap Estes yang tersenyum senang kepadanya. Pemuda itu segera berlari menghampiri, masih dengan senyum yang mengembang lebar ia menyapa "Hai, apa kabar?."


"Baik, bagaimana denganmu?" balas Patricia.


"Seperti yang kau lihat, hehe."


"Hei jagoan! kau tidak bertanya kepada ku?" tanya Emily.


"Owh Emily, jujur sebenarnya meskipun sudah lama aku tidak pulang tapi aku sama sekali tidak merindukan mu," gurau Estes.


"Apa? berani sekali kau!" hardik Emily yang segera mengejarnya.


Estes belarian sambil tertawa begitu juga dengan Patricia, walaupun terasa aneh tapi ia merasa beruntung bisa berkumpul bersama orang-orang yang ia cintai.


Kepada Emily ia meminta untuk merahasiakan semuanya termasuk apa yang di katakan Madam, tentu Emily akan bungkan karena kalaupun ia bicara tidak akan ada yang percaya.


Untuk beberapa hari Patricia tinggal di rumah Benjamin, setidaknya sampai Estes kembali pergi untuk menjalankan tugas sebagai prajurit.


Hari-hari yang ia lewati disana bagai mengulang masa kecilnya, semuanya damai, semuanya baik dan semuanya bahagia.


"Patricia berapa usiamu?" tanya Benjamin tiba-tiba saat mereka makan malam.


"Tujuh belas, kenapa?" sahutnya.


"Benar, kau sudah mencapai usia yang cukup untuk menikah. Apa kau punya pemuda pilihan mu sendiri?" tanya Benjamin.


"Apa? tidak! maksud ku ayolah kek... hidup bukan berarti harus menikah kan?" erang Patricia menolak.


"Apa maksud mu? teman ayah sudah banyak yang memiliki cucu sementara kau masih saja seperti ini," tukas ayahnya.


Patricia hanya memutar bola matanya, ia benar-benar tidak suka akan pernikahan. Bukan berarti dia tidak ingin, hanya saja dia belum siap melayani seorang suami dan hidup sebagai ibu rumah tangga yang membosankan.


"Kami tidak akan memaksa, tapi sebaiknya kau pikirkan mulai dari sekarang," ujar ibunya.


Patricia semakin mendengus kesal, tapi entah mengapa sekarang ia mau menerima saran keluarganya. Bahkan ia memikirkan pemuda yang sekiranya pantas untuknya, dan jawabannya hanya Estes.


Esoknya dengan pikiran gila yang untuk pertama kalinya ia miliki Patricia menemui Estes, dan untuk pertama kalinya juga Estes menyadari kegilaan Patricia lebih dari sekedar suka berpetualang.


"Kapan kau akan pergi?" tanya Patricia sebelum pada inti topik.


"Mungkin lusa, ada apa?" sahut Estes.


"Um... boleh aku bertanya sesuatu?"

__ADS_1


"Katakan!" ujar Estes.


"Apa kau sudah memiliki kekasih?" tanpa terduga Patricia segera bertanya secara gamblang, membuat Estes sedikit melotot karena kaget.


"Kenapa kau menanyakan hal itu?" balas Estes bertanya.


"Maukah kau menikah denganku?" tanya Patricia tiba-tiba.


Estes membeku, menatap wajah polos Patricia yang sangat manis. Berkali-kali pertanyaan itu terngiang ditelinganya, berdengung hingga membuat Estes tak bisa mendengar apa pun.


"Estes!" panggil Patricia.


Seketika Estes membuang muka, takut Patricia akan sadar betapa senangnya ia mendengar hal itu.


"Bodoh! cara mu bercanda tidak lucu tahu!" hardiknya.


"Aku tidak bercanda! aku bersungguh-sungguh," protes Patricia membela diri,


Perlahan Estes menengok dan terkejut melihat ekspresi Patricia yang serius.


"Kau bersungguh-sungguh?" ulangnya.


"Mm! aku sudah berusia tujuh belas tahun, orangtua ku mulai mendesak agar aku segera menentukan pria yang cocok kalau tidak mereka akan mencarikannya untuk ku."


"Tidak, aku mengatakannya karena aku menyukaimu!" seru Patricia.


Lagi, Estes merasa seluruh wajahnya terbakar hingga memerah. Tapi kali ini ia memberanikan diri untuk menatap gadis itu, mereka saling tersenyum dalam diam hingga Patricia kembali mengajukan pertanyaan yang sama.


"Jadi bagaimana? apakah kau mau menikah dengan ku?"


"Tunggu kepulangan ku berikutnya, saat itu aku yang akan datang kepadamu untuk melamar."


Patricia termangu, ia tak menyangka akan diterima dengan begitu mudah. Kini dengan leluasa ia mengekspresikan rasa sukanya dengan memegang tangan Estes sepanjang jalan, bahkan saat Estes harus pergi demi tugas ia merasa berat melepaskan genggaman tangan pemuda itu.


Orangtuanya yang telah mengetahui hubungan mereka bergembira akan hal itu, bukan hanya karena Patricia mau menikah tapi juga sebuah kebanggaan tersendiri mendapat calon menantu seorang prajurit istana.


Tak ketinggalan Emily memberi ucapan selamat kepada mereka, mendoakan agar semuanya lancar sampai mereka menikah.


Patricia beserta orangtuanya pun pulang, kembali pada rutinitas mereka sambil menunggu kepulangan Estes selanjutnya.


Di pagi yang cerah itu seperti biasa Patricia ikut membantu ayahnya berdagang di pasar, setelah merapihkan barang dagangan ia meminta ijin untuk pergi sebentar padahal ia ingin melihat cincin pernikahan.


Toko itu tidak ramai tapi tidak juga sepi, pengunjung datang dan pergi setelah beberapa menit sekali.

__ADS_1


Perhatian Patricia tertuju pada satu set cincin pernikahan polos tanpa ukiran sama sekali, penasaran ia pun bertanya "Berapa harga yang ini?."


"Tergantung kau ingin ukiran yang seperti apa, itu di buat polos sengaja agar kau bisa memilih sendiri ukirannya."


"Begitu rupanya," sahutnya.


Matanya kembali menatap satu persatu cincin yang ada, ia juga melihat-lihat perhiasan lain seperti kalung dan gelang.


"Permisi! aku ingin menjual ini," ujar Jacy yang baru datang.


"Biar ku lihat dulu barangnya," sahut pemilik toko sambil membawa perhiasan yang Jacy bawa.


Saat menatap berkeliling perhatian tertuju pada Patricia yang asik sendiri, cukup lama ia menatap sampai Patricia sadar sedang di perhatikan.


Ketika Patricia menoleh dan mata mereka beradu pandang seketika Patricia ingat semua petualangan mereka, membuatnya rindu akan masa itu namun ia harus ingat di dunia ini mereka tidak saling mengenal.


Patricia memilih untuk mengacuhkannya, tapi Jacy adalah orang yang ramah sehingga ia bertanya lebih dulu "Apa yang kau butuhkan?."


"Ah tidak, aku hanya sedang melihat-lihat."


"Begitu rupanya, apa kau tinggal disekitar sini?" tanyanya lagi.


"Tidak, tapi ayah ku sedang berdagang di pasar ini."


"Kalau begitu setidaknya kau tahu daerah sini, apa kau bisa merekomendasikan penginapan yang bagus?" tanya Jacy tanpa bosan.


"Semua penginapan sama, permisi!" tegas Patricia yang kesal terus diberi pertanyaan.


"Astaga... Patricia di semua dimensi sepertinya membenciku," gumam Jacy yang membuat Patricia berhenti melangkah.


Ia menoleh, menatap Jacy yang kembali sibuk melihat sekeliling sambil bersiul.


"Apa kau baru saja mengatakan dimensi?" tanya Patricia.


Jacy tertegun, menghentikan siulannya seketika dan menatap Patricia.


"Kau ingat tentang petualangan kita?" balas Jacy bertanya.


"Ya! aku terkena kutukan dari buku sihir karena itulah kita melakukan perjalanan demi kesembuhan ku," sahut Patricia.


"Owh... syukurlah akhirnya aku menemukan mu!" sorak Jacy tak bisa menahan kegembiraannya.


"Jacy... apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Patricia tak mengerti.

__ADS_1


"Akan ku jelaskan," jawabnya.


__ADS_2