Sonu : Legenda Telah Kembali

Sonu : Legenda Telah Kembali
Bab 38 Ksatria Baru


__ADS_3

Bau apek bercampur dengan busuknya bangkai menusuk hidung hanya dengan satu tarikan nafas, siapa pun tidak akan pernah tahan berlama-lama disana.


Langit-langitnya yang tinggi membuat tempat itu bagai memasuki dunia hitam tanpa ada sedikit pun cahaya, kedalamannya yang entah sejauh mana dengan banyak lorong tak hanya menciutkan nyali tapi juga memotong kejernihan pikiran.


Entah sudah berapa lama mereka disana, yang jelas bukan hitungan jam lagi. Beruntung sebelum memutuskan untuk masuk mereka sudah terlebih dahulu menyiapkan perbekalan.


Sejauh ini tak ada suara yang mereka dengar kecuali langkah yang menggema dan nafas mereka sendiri, namun noda darah ditanah dan bebatuan memberitahu sesuatu menempati tempat itu.


Menyadari betapa mengerikannya tempat itu mereka mulai berfikir para korban mati dengan ketakutan yang mengenaskan, pantas saja imbalan untuk pekerjaan ini cukup mahal.


Setelah beristirahat cukup lama perjalanan kembali dilanjutkan sampai tercium aroma busuk yang lebih menyengat, semakin melangkah maju bau busuk itu lebih tajam yang mengartikan sebuah bangkai besar berada dekat dengan mereka.


Memutuskan untuk berlari dari cahaya obor yang mereka bawa pemandangan mengerikan itu begitu memanjakan mata yang terlalu lama menatap kegelapan.


Entah senjata macam apa yang digunakan mereka tak dapat membayangkannya, sebab satu tebasan panjang mampu menggorok leher monster laeec yang bahkan ukuran lehernya saja mencapai delapan meter.


Monster yang dikenal perayap cerdik itu memiliki tubuh seperti kadal dengan panjang leher yang seperempat dari panjang tubuhnya, mereka hibernasi di musim panas dan baru akan bangun di musim hujan untuk mencari makan dan kawin.


Mendapati sisik dibagian dadanya hilang sudah bisa dipastikan monster itu mati di tangan seorang ksatria pemburu, tak ada pilihan. Mereka pulang dengan tangan kosong.


"Yah.... sayang sekali, padahal aku sudah berniat akan pergi ke tempat dek Eri," keluh Jacy.


"Mungkin jika niat mu bukan itu kita sudah berhasil menyelesaikan misi ini," tukas Sonu.


Jacy hanya mendengus, dengan langkah gontai mereka pun pulang. Setibanya di serikat petualangan Sonu melihat lembaran misi itu telah di cabut dari papan pengumuman yang artinya memang seseorang telah menyelesaikan misi mereka.


Penasaran Sonu bertanya mengenai hal ini kepada Siren.


"Oh ya, aku mendapatkan kabar dari serikat petualangan di wilayah Timur seorang Ksatria wanita menyelesaikan tugas itu," ujar Siren memberitahu.


"Benarkah? siapa dia?" tanya Sonu lebih penasaran.


"Um... tunggu, Rebecca. Namanya Rebecca," jawab Siren.


Sonu mengerutkan kening, selama hidupnya menjadi ksatria bayaran baruk kali ini ia mendengar nama itu. Saat ditanya lebih lanjut rupanya memang ksatria wanita itu masih baru, namun mengingat misi yang dia ambil bisa dipastikan dia sudah lama menjadi pemburu.


"Ah ada misi baru yang datang, kau mau mengambilnya?" tawar Siren.

__ADS_1


"Tentu, apa itu?" tanya Sonu.


"Seorang kepala suku menawarkan hadiah tujuh koin emas untuk siapa pun yang mau membunuh monster danau," jawabnya.


"Tujuh koin?" tanya Sonu sebab itu adalah jumlah yang tidak sepadan.


"Yeah, masayarakat di desa sekitaran danau cukup miskin. Sehari-hari mereka bergantung pada danau untuk mencari ikan yang kemudian di jual dengan harga murah, tidak ada yang mau mengambil misi ini jadi kuharap kau bisa mengesampingkan harganya."


"Baiklah aku terima," sahut Sonu yang tak bisa menolak permintaan tolong.


Tanpa mau beristirahat Sonu segera mengajak Jacy memulai perjalanan, tentu Jacy mengeluh lelah ditambah imbalannya yang sedikit membuat langkahnya terasa berat.


Tapi Sonu tak peduli dan ia terus memaksa Jacy untuk melangkahkan kakinya.


Hujan deras menyambut kedatangan mereka di desa itu, seperti yang dikatakan Siren desa itu memang miskin sesuai dengan penampakan yang mereka lihat.


Rumah-rumah kayu berdiri tak kokoh dengan banyak penopang di sana sini, hanya dengan satu tiupan angin kencang suara berderit menandakan rumah-rumah itu siap roboh kapan saja.


Sonu mencoba mengetuk salah satu pintu warga, berteriak memberi salam agar suaranya dapat mengalahkan amukan alam yang keras.


Pintu terbuka, menampakkan seorang wanita setengah baya dengan pakaian sedikit basah.


"Permisi bu, aku kami ksatria bayaran yang hendak mengambil tugas membunuh monster danau. Apa kau bisa memberi kami tumpangan tidur untuk malam ini?" tanyanya.


"Oh aku tak menyangka akan ada ksatria lain yang datang, ayo masuk!" ujar wanita itu.


Sonu sedikit bingung akan ucapannya tapi ia hanya masuk, memperhatikan isi rumah yang sedikit berantakan dengan banyak ember untuk menampung air hujan dari atap yang bocor.


"Maaf, rumah ini sudah terlalu tua dan butuh banyak perbaikan. Aku harap kalian tidak keberatan," ujar wanita itu sambil menggeser kursi agar tidak terkena tetesan air hujan.


"Tidak apa, kami bisa tidur dimana saja."


"Apa kalian sudah makan malam? aku akan hangatkan sup kentang jika kalian mau," tawarnya.


"Apa pun yang anda sajikan, terimakasih," sahut Sonu sopan.


Wanita itu pun pergi ke dapur, sementara Sonu ikut membantu membereskan isi rumah agar memiliki ruang untuk mereka duduk.

__ADS_1


"Ini dia," ujar wanita itu kembali dengan dua mangkuk sup panas.


Sonu dan Jacy berterimakasih sebelum mereka menyantap hidangan itu, rasanya kurang enak tapi cukup baik untuk memberi energi.


"Maaf, kau bilang tadi ada ksatria lain yang datang sebelum kami," ujar Sonu.


"Oh ya, mereka datang kemarin dan sekarang sedang menginal di rumah kepala desa."


"Jika kami boleh tahu siapa ksatria itu?" tanya Sonu.


"Um... aku lupa namanya."


"Apa dia perempuan?" tanyanya lagi.


"Ya, dua diantaranya seorang gadis."


"Maksudnya mereka berkelompok?" tanya Sonu memperjelas.


"Benar, satu pria dan dua wanita."


Sonu mengangguk mengerti, rupanya itu bukan Rebecca yang telah membuatnya penasaran.


"Apa ada masalah?" tanya Jacy dengan suara pelan.


"Kau ingat monster gua yang sudah mati? seorang ksatria wanita bernama Rebecca yang menyelesaikan misi itu, dia masih pemain baru tapi sudah berani mengambil misi besar. Itu membuat ku penasaran siapa dia sebenarnya," sahutnya.


"Setelah kau cerita aku juga penasaran, jarang ada ksatria wanita yang hebat," tukas Jacy sambil membayangkan bagaimana rupanya.


"Ah permisi.. apa monster danau itu masih ada disana?" tanya Sonu.


"Oh ya, kelompok ksatria itu belum berhasil membunuhnya. Besok saat cuaca sudah cerah kalian pasti akan bertemu dengan mereka," sahutnya.


Sonu mengangguk, mungkin kelompok ksatria itu masih baru mengingat mereka mau mengambil misi dengan bayaran murah.


Biasanya mereka melakukan ini dengan tujuan lebih untuk memperdalan ilmu dan pengalaman, berbeda dengan dirinya yang hanya berniat membantu warga miskin.


Ia sudah memutuskan akan memberikan misi ini pada kelompok ksatria itu, kecuali mereka tidak bisa menanganinya ia baru akan turun tangan.

__ADS_1


__ADS_2