
Madam terus membuka setiap peti kayu yang ada, mencari-cari dimana ia menyimpan benda itu. Sementara yang lain hanya menatap dengan penuh harap dan cemas, sesekali Emily mengeratkan genggaman tangannya pada Patricia demi meredam kekhawatiran.
"Ini dia!" teriak Madam sambil mengacungkan sebuah gulungan.
Ia pun menyuruh yang lain mendekat ke meja sementara ia membuka gulungan, rupanya itu merupakan sebuah peta.
"Di sini!" tunjuk Madam.
"Danau Lyas tidaklah luas dan tidak berbahaya, tapi didalamnya ada sebuah botol yang berisi Djin. Ambil botol itu dan keluarkan Djin untuk meminta bantuannya, dia pasti bisa menyingkirkan kutukan di gadis itu," jelasnya.
"Tunggu! untuk sampai disana kita harus melewati hutan Agra," ujar Jacy sambil ikut menunjuk.
"Ya," sahut Madam sementara Emily dan Patricia hanya menatap bingung.
"Oh tidak," keluh Jacy.
"Memangnya ada apa dengan hutan itu?" tanya Patricia penasaran.
"Itu hutan gelap yang tak terjamah manusia, disana adalah surganya monster. Tempat tinggal berbagai macam monster yang bukan tandingan kami lagi," jawab Sonu.
"Sebaiknya kita pilih jalan memutar saja," ucap Jacy.
"Tapi itu akan menghabiskan waktu sebulan lamanya," timpal Madam.
Mereka saling melirik satu sama lain hingga berakhir pada Patricia, sebab ini adalah misi menyelamatkan dirinya maka Patricia yang harus mengambil keputusan.
"Apakah ada masalah serius jika kutukan ini taka segera dilenyapkan?" tannyanya.
"Kau akan kesakitan sayang, setiap malam kau akan demam dan bermimpi buruk hingga kengerian itu memakan semangat hidup mu," jawab Madam.
"Kalau begitu kita pilih jalan memutar."
"Kau yakin?" tanya Sonu.
"Apa gunanya pilih rute cepat jika pada akhirnya mati di hutan itu!" jawabnya.
Keputusan yang tepat, Jacy berterimakasih atas pilihan Patricia yang telah memikirkan keselamatan yang lain. Maka sebelum memulai perjalanan Madam memberinya sebuah obat agar Patricia tak terlalu menderita saat demam itu menyerangnya, selesai dengan Madam merema kembali ke penginapan untuk mulai bersiap.
Ini akan jadi petualangan pertama bagi Patricia, sayangnya meski keinginannya untuk berpetualang terwujud di sini dia adalah pasien yang harus dijaga.
__ADS_1
Sonu sudah memutuskan akan memulai perjalanan esok hari, karena itu malam ini ia meminta Patricia agar beristirahat sebab perjalanan mereka tak mudah.
Seperti yang dikatakan Madam, begitu Patricia menutup mata ia memimpikan hal buruk. Itu adalah saat dimana kedua orangtuanya meninggal, tak hanya itu ka juga bermimpi dikejar monster yang tak bisa ia lawan.
Keringat mengalir deras dari keningnya, nafasnya memburu tanpa bisa membuka mata. Emily yang melihat hal itu hanya bisa mengompres dengan handuk kecil, me-lap setiap keringat yang tak berhenti keluar hingga pagi tiba.
Melihat Emily tidur disampingnya membuat Patricia cukup kaget, tapi setelah melihat sekeliling tahulah ia bahwa semalaman Emily sudah merawatnya.
Tak mau membangunkan Emily ia bergerak perlahan turun dari ranjangnya, kemudian dengan cepat membereskan semua barang dan meninggalkan pesan singkat untuk Emily sebelum pergi.
"Mana Emily?" tanya Jacy sebab Patricia keluar sendirian.
"Dia tidak ikut."
"Sungguh? sayang sekali," ujar Jacy cukup kecewa.
"Itu bagus Jac, setidaknya kita hanya perlu menjaga satu orang," ucap Sonu yang membuat Patricia sedikit tersinggung.
Tak bisa membantah Patricia memilih diam, naik ke kudanya dan memulai perjalanan yang di pimpin oleh Sonu.
"Hei, apa dia selalu seperti itu?" tanya Patricia kepada Jacy sambil menatap Sonu yang berjalan tepat didepan mereka.
"Begitulah, dia sulit berteman dengan orang lain. Bahkan dia hanya akan bicara masalah pekerjaan saja."
"Dia tidak suka diusik apalagi masalah pribadi seperti keluarga."
"Tapi dia menceritakannya padamu kan?" tanya Patricia.
"Butuh waktu lima tahun sampai dia mau membuka hatinya, percayalah bahkan aku sendiri kaget saat tahu ada seorang gadis yang dia pedulikan," sahut Jacy sambil mengedipkan mata.
Bukannya malu Patricia malah mengerutkan kening, entah mengapa sejak pertama bertemu dengan Sonu ia merasa sudah terhubung dengan pria itu cukup lama.
Jika harus jujur ia pun sangat peduli pada Sonu, untuk itulah ia memilih rute yang panjang ini. Tak peduli jika ia harus kesakitan setiap malam, ini adalah konsekuensi yang harus ka terima akibat kebodohannya sendiri. Itu lebih baik daripada membahayakan nyawa Sonu yang telah menolongnya, apalagi Jacy yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Set
Larut dalam pikiran sendiri tiba-tiba Sonu memberi isyarat untuk berhenti, Patricia terpaku kebingungan sementara Jacy turun dari kudanya. Berhati-hati agar tak menimbulkan kecurigaan ataupun suara keras, ia berjalan ke arah semak-semak.
"Ada apa?" tanya Patricia.
__ADS_1
"Tidak ada, Jacy hanya butuh buang air," sahut Sonu tapi matanya tajam mengawasi sekitar.
Aaaaaaaaaaa
Teriak sebuah suara dari belakang mereka, dengan cepat Sonu dan Patricia berlari kearah sumber suara. Saat tiba mereka menemukan Jacy menghunuskan pedangnya pada seseorang yang terjatuh ke tanah.
"Siapa kau?" tanya Jacy sebab wajahnya tersembunyi di balik tudung.
Perlahan orang itu menarik tudungnya untuk memperlihatkan jati diri.
"Emily!" panggil mereka serentak.
"Hehe Hai!" sapa Emily sambil nyengir.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Patricia.
"Pantaskah kau bertanya seperti itu? diam-diam pergi dan hanya meninggalkan pesan singkat untuk ku," balas Emily dengan nada kesal.
"Oh Emily.. aku tidak mau kau terluka, kau tidak seharusnya ikut dalam perjalanan ini."
"Apa maksud mu? aku sangat-sangat-sangat terlibat, gara-gara aku kau terkena kutukan. Jadi aku harus ikut bertanggung jawab," ujarnya.
"Tapi bukan berarti kau harus ikut, ini bukan perjalanan mudah," timpal Sonu.
"Aku harus ikut! setiap malam Patricia akan demam dan jika bukan oleh ku siapa yang akan membuka pakaiannya dan me-lap semua keringatnya? jangan bilang kau akan menggantikan aku!" tuduh Emily.
"Jangan konyol!" sergah Sonu.
Emily dan Sonu pun terlibat dalam pertikaian sengit dengan kedua mata yang terus beradu tajam, mereka sama-sama tak mau mengalah sampai Jacy harus bertindak.
"Sudahlah, Emily benar! dia harus ikut untuk menjaga Patricia, bertambah satu lagi bukan berarti dia beban. Jika kau tidak keberatan biar aku yang menjaga Emily saat dalam bahaya," ujar Jacy.
"Dengan senang hati kuberikan tugas itu untuk mu," sahut Sonu dingin.
Akhirnya Emily resmi masuk ke dalam kelompok mereka.
"Terimakasih telah memihak ku," ujar Emily dengan senyum malu.
"Tak masalah, saat kau dalam bahaya jangan sungkan untuk berdiri di belakang ku," balas Jacy.
__ADS_1
Sementara Patricia hanya menggelengkan kepala, tak tahu harus bicara apa lagi sebab Emily terlalu keras kepala jika menyangkut masalah sahabatnya.
Perjalanan pun dilanjutkan, mereka memiliki waktu tiga puluh hari untuk sampai jika tak ada hambatan.