Sonu : Legenda Telah Kembali

Sonu : Legenda Telah Kembali
Bab 32 Sihir


__ADS_3

Sadar ada yang harus segera mereka bicarakan Jacy dan Patricia pun pergi ke tempat yang lebih sepi, tanpa menundanya lagi Jacy segera menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Apa maksud mu kita terkena sihir?" tanya Patricia semakin bingung.


"Kau ingat kan bahwa terakhir kali kita bersama saat di hutan, waktu itu tiba-tiba kabut tebal datang. Saat itulah kita terkena sihir," jelas Jacy.


Patricia memang ingat jelas peristiwa itu, tapi ia sudah menemui Madam dan diberi penjelasan bahwa semua itu terjadi di dimensi lain.


"Jika kenyataan yang benar adalah kita terkena sihir kenapa Emily tidak ingat apa pun? Sonu juga nampak tidak mengenalku," tanyanya.


"Itu karena mereka bukanlah Sonu dan Emily yang asli."


"Apa maksud mu?" tanya Patricia bingung.


"Saat kau terkena sihir kau akan masuk ke alam bawah sadar dimana penyesalan dan ambisimu berada, dalam dunia ini kau akan memperbaiki semua hal yang kau sesali dan mewujudkan apa yang menjadi harapanmu. Karena itu semua orang yang ada hanyalah interpretasi dari khayalan mu semata," jelas Jacy.


"Tapi kau nyata!" tukasnya.


"Karena aku masuk ke alam bawah sadar mu untuk menyadarkan mu, sama seperti waktu itu yang membuat mu terkena kutukan."


Entah mana yang harus ia percayai, penjelasan Jacy sangatlah masuk akal sama seperti penjelasan madam yang membuatnya percaya.


Jika harus memilih ia ingin memilih penjelasan Madam, melanjutkan hidup bersama orang tuanya. Namun jika Jacy yang benar maka mereka dalam bahaya besar, dengan banyak pertimbangan akhirnya Patricia memutuskan.


Mereka berpisah, Patricia akan kembali kepada ayahnya untuk membantu berdagang dan diam-diam membeli cincin pernikahan.


......................


Hari cerah selalu membawa kebahagiaan bagi anak kecil untuk mengantarkan mereka bermain tiada henti, tapi tidak bagi seorang anak laki-laki gemuk itu.


Ia berjalan lesu dengan pakaian kotor yang dipenuhi lumpur, wajahnya yang bulat kemerahan habis menahan tangis dan amarah.


"Estes!" panggil seorang anak perempuan.


Estes kecil menoleh, menatap anak itu berjalan ke arahnya dengan wajah heran.


"Kau dari mana saja?" tanyanya.


"Sungai, aku mencoba menangkap ikan tapi tidak berhasil."

__ADS_1


"Lalu kenapa kau sangat berlumpur? keranjang mu mana?" tanyanya lagi.


Estes justru membuang muka sambil tersenyum pahit, enggan membicarakan hal yang tidak dia sukai. Anak perempuan itu seketika sadar apa yang telah menimpa Estes, dengan wajah geram ia berjalan menuju sungai.


"Emily tunggu!" teriak Estes yang tak indahkan.


Di sungai sekelompok anak laki-laki tengah asik memanggang ikan sambil bercanda, Emily kecil yang amarahnya telah mencapai ubun-ubun sekonyong-konyong menyiram ikan panggang itu dengan pasir sampai apinya padam.


"Hei! apa yang kau lakukan?" ujar mereka kaget sambil bangkit menjauhi api.


"Membalas apa yang telah kau lakukan kepada Estes," sahutnya masih dengan tatapan tajam.


"Kau... kau berani padaku hah?" tanya salah satu anak laki-laki itu sambil mendekati Emily.


"Kenapa tidak? kau hanya anak ibu yang so kuat dihadapan teman-teman mu, aku ingat kau menangis seperti bayi saat jatuh dan tanganmu lecet."


Anak itu terkesiap, tak menyangkan Emily tahu kejadian itu padahal seingatnya tak ada siapa pun disana waktu itu.


"Apa itu benar?" tanya temannya.


"Ti-tidak! dia hanya mengarang cerita!" bantahnya.


"Yaiks, ternyata kau lemah! aku tidak menyangka kau lebih pecundang dari si gemuk Estes," tukas temannya.


"Ya, sebaiknya kita pergi saja!" timpal yang lain.


Mereka segera berjalan pergi meninggalkan anak laki-laki itu yang mencoba meyakinkan mereka bahwa itu hanya omong kosong Emily, tapi ia tak berhasil yang membuat Emily tersenyum puas penuh kemenangan.


"Emily!" panggil seseorang.


"Patricia!" serunya menatap anak perempuan yang sebaya dengannya.


Patricia kecil bersama Estes berlari menghampirinya dan bertanya "Ku dengar kau membalas perbuatan anak-anak nakal itu?."


"Ya, mereka baru saja pergi."


"Apa yang kau lakukan?" tanya Patricia sebab ia tak melihat bekas perkelahian.


"Aku hanya memprovokasi mereka, itu lebih efisien untuk membalas dendam."

__ADS_1


"Bagus Emily! kau memang pintar! kau satu-satunya gadis terpintar di negri ini," puji Patricia.


"Kau berlebihan," ujar Emily merasa malu.


Tapi Patricia tak mau berhenti memuji, ia sangat bangga pada Emily hingga terus menyanjungnya.


......................


Malam telah larut tapi mata Patricia tak mau terpejam, mengintip dari celah jendela ia tahu Jacy menunggunya diluar sana.


Hhhhhhh


Hembusan nafas yang panjang itu adalah penyesalan tentang hatinya yang bimbang, semenjak berpisah dengan Jacy tadi siang ia terus memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan.


Mencoba menutup mata yang ia lihat justru berbagai petualangan yang telah ia lewati bersama teman-temannya, akhirnya itu menyadarkannya akan satu hal yang penting.


Keinginan terbesarnya adalah menyelamatkan kedua orangtuanya dari kematian, tapi yang paling ia nikmati adalah petualangan yang sudah mendarah daging.


Tak ingin melakukan perpisahan yang menyakitkan Patricia hanya membawa pakaian yang menempel di badannya, berjalan keluar rumah untuk menembus kegelapan pekat.


Di dalam hutan yang tak jauh dari rumahnya Jacy sudah menunggu sejak tadi, tersenyum senang melihat gadis itu akhirnya mau keluar dari mimpi terindahnya untuk menghadapi kenyataan pahit.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyanya.


"Kita harus menemukan yang lain dan meyakinkan mereka bahwa ini hanya sihir belaka," jawab Jacy.


"Bagaimana caranya?" tanyanya lagi.


"Melompati setiap dimensi."


Jacy berjalan kedepan, dengan pedangnya ia membuat sebuah pentacle diatas tanah.


"Genggam tanganku, apa pun yang terjadi jangan pernah melepaskannya," ujarnya.


Patricia menurut, menyadari apa yang akan mereka lakukan cukup berbahaya ia pun menelan ludah untuk menyiapkan hatinya.


Jacy mulai membaca mantra yang membuat sebuah titik hitam diatas pentacle melebar hingga terbentuk lubang hitam tanpa dasar, menatap Patricia ia bertanya "Kau siap?".


Patricia mengangguk yakin, mengeratkan genggaman tangannya mereka pun berjalan kearah pentacle dan terjun ke lubang tak berdasar itu.

__ADS_1


__ADS_2