Stitch

Stitch
Richard's Dairy


__ADS_3

(Richard Pov)


Ini adalah kali pertama aku membuat sebuah dairy tentang kehidupanku yang cukup kelam.


Tidak banyak yang kuketahui tentang ibuku.


Ibuku meninggal 24 Januari 1993 setelah melahirkan aku ke dunia ini. Terima kasih bu, aku sangat mencintaimu.


Ayahku lah yang menghidupiku selama ini, dia sanggup menjadi single parent sambil mengurus segala keperluan di perusahaannya.  Ayahku bernama Alan Fitzgerald, salah satu CEO ternama di Rusia.


Perusahaannya, Fitzgerald Co.Ltd, pernah masuk dalam majalah Forex sebagai perusahaan trading bitcoin dan cryptocurrency terbesar didunia.


Ia memiliki banyak sekali teman diluar sana, juga musuh. Tidak heran jika ia merasa kesulitan untuk bekerjasama dengan orang lain.


Sampai suatu ketika, ayahku bertemu dengan seseorang yang berbadan tinggi, menggunakan tuxedo berwarna hitam dan kemeja putih, di sebuah katedral. Saat itu hari minggu, hari biasa bagi kami berdua untuk berdoa meminta keselamatan, juga mendoakan yang terbaik untuk ibu disana.


Ayah terlihat sangat santai bercengkrama dengan orang lain yang baru dikenalnya, tidak seperti biasa, aku merasakan firasat aneh saat itu, apa yang terjadi dengan ayah?


"Ayah akan pergi nak, kesuatu tempat untuk mengurus pekerjaan ayah," ucap ayah.


      


"Tapi yah, ini sudah malam, sudah jam delapan, aku harus bagaimana?" Aku bertanya.


  


"Kau sudah berumur lima belas tahun nak, belajarlah untuk tidur sendiri, nanti juga kau akan hidup sendiri, ayah tidak akan selamanya disini, ada saatnya nanti ayah akan dipanggil oleh Tuhan," jawab ayah sambil mengelus-elus kepalaku.


"Jangan bilang begitu ayah, aku menyayangimu, jangan biarkan apapun terjadi padamu! Ingat itu!"


"Hei tenanglah, suatu saat, perusahaan ayah akan menjadi milikmu, oleh karena itu, mulai dari sekarang kamu harus belajar mandiri, kuat, berjuanglah anakku."


"Baiklah ayah, hati-hati dijalan."


Esok pagi, ayah baru pulang kerumah dengan keadaan tak sadarkan diri, bersama dengan pria yang kemarin ditemuinya di katedral itu.


"Ada apa dengan ayah!?" Richard kebingungan saat melihat ayahnya tergolek lemas.


     

__ADS_1


"Tidak apa, dia hanya terlalu banyak minum di Club semalam, dia hanya ingin berpesta melepaskan penat bersama wanita, teman kecil. Kau tidak akan mengerti betapa menyiksanya jadi seorang single parent sambil mengurus perusahaan besar, hahaha." jawab pria itu sambil tertawa.


Aku yakin, ayah tidak pernah seperti ini, dalam batinku bermonolog. Aku meminta tolong pada pria tadi untuk membaringkan ayahku di kasurnya, kemudian pria tersebut berpamitan pergi padaku.


Sejak saat itulah, ayah berubah yang semula sangat menyayangiku tetapi tetap tegas dan disiplin, menjadi sesosok orang yang suka memanjakanku, diusiaku yang sudah lima belas tahun ini, banyak sekali pertanyaan aneh yang keluar dari mulutnya seperti "apakah kamu ingin kusuapi makanan?" Atau "apakah kamu ingin kumandikan nanti?" Sesuatu telah berubah, mungkin terlalu banyak, ayah tidak pernah seperti ini, ayah tidak pernah tidur dengan wanita lain walaupun kematian ibu membuatnya sangat depresi, dia tetap mencintai ibu, dia sangat menghormatinya, tubuhnya hanya untuk ibu. Dan sekarang perilakunya terhadapku juga berubah, ada apa ini?


"Ayah sudah memiliki teman bisnis, dia sudah menanamkan tiga puluh persen sahamnya pada perusahaan ayah," kata-kata ayah memulai pembicaraan pagi itu di meja makan.


"Siapa ayah!? Kenapa ayah mudah sekali mempercayai orang!?" Richard merasa aneh. Ini adalah sesuatu yang baru.


"Dia teman ayah, yang pernah ayah temui di katedral, apa kau ingat?" Ayahku bertanya


"Dia yang mengantar ayah pulang saat ayah pingsan karena mabuk berat?"


"Tidak, ayah tidak pernah mabuk, apa yang sedang kau bicarakan, nak?"


"Apa kepala ayah terbentur? Seminggu yang lalu ayah berpamitan untuk menemui teman jam delapan malam dan meninggalkanku sendiri dirumah? Kemudian pulang keesokan harinya dengan kondisi tak sadarkan diri?"


"Ayah tidak merasa begitu, nak. Ayah sama sekali belum pernah meninggalkanmu semalaman seperti itu, kau merupakan kesayangan ayah, harapan ayah."


Aku yang jengah terhadap perilaku memanjakannya sekarang berlari masuk ke kamar, dan menghempaskan diriku ke atas kasur meninggalkan ayah dengan sarapan yang dibuatnya sendiri, hari-hari mulai bergulir, aku yang sangat jengah dan malas akan perilaku sangat memanjakannya semakin hari semakin ingin mencoba untuk mengerti keadaannya.


24 Januari 2010, aku merayakan hari ulang tahun yang ke tujuh belas bersama ayahku, juga teman ayah yang dari katedral, dan beberapa teman ayah lain.


"Kenalkan, namaku adalah Luminaire, panggil saja aku tuan Lumi, dan ini semua yang datang adalah temanku, juga teman ayahmu, kemana temanmu?" tanya pria itu.


"Aku adalah seorang introvert, aku jarang bercengkrama dengan orang lain di bangku sekolah. Lebih baik aku membaca buku daripada aku bercengkrama dengan topik yang tidak penting." Richard membalas pertanyaam pria itu dengan sikap yang dingin.


"Anakmu sama sekali sepertimu, Alan! Hahaha." Pria itu menyenggol ayahku sambil tertawa.


20 hari setelah hari ulang tahunku, aku merasakan ada kejanggalan, saat aku melihat ke bawah dari jendela kamarku, banyak sekali manusia berjubah hitam dibalik pepohonan sedang memandang kesini, diriku was was, kemudian berlari turun untuk melihat keadaan diluar rumah.


Dukdukduk suara langkah kakiku saat berlari, kemudian sleepptt, aku terjatuh dari tangga, punggungku sakit sekali, aahh


ada seseorang yang telah menaburkan minyak ke tangga ini, tapi siapa? Ayah!? Ini tidak mungkin, mengapa ayah menuangkan minyak ke tangga?


Untunglah kepalaku tidak kenapa napa hanya pinggang dan bokong saja yang sakit karena terduduk


"Ternyata kau belum mati!" Muka ayahku sangat mengerikan, berteriak seperti itu sambil menyeret kakiku.

__ADS_1


"Ayaahh!! Apa yang kau lakukan!"


"Kau harus mati nak, bukankah kau selalu ingin bertemu dengan ibumu!? Pergi tengoklah ibumu" kata ayahku yang masih menyeret kakiku.


"Ayah!! Ibu sudah mati!! Ibu tidak lagi disini bersama kita!! Apa yang akan kau lakukan!!" Sambil memukul mukul tangan ayah yang sangat kuat memegang kakiku.


"Kau harus diam disini!" Ayah menyeretku ke gudang kemudian mengurungku didalamnya.


"Kita akan mati bersama, nak, bukankah kau merindukan ibumu? Sama, aku juga ingin tinggal di surga Tuhan agar bisa bertemu dengannya!"


Aku tidak semudah itu menuruti perintahnya, di gudang itu aku mencari cara untuk keluar, tapi aku tidak menemukan satupun cara, gudang ini tidak memiliki pintu keluar, aku terus berpikir, sampai akhirnya aku melihat jendela diatas! Yess, dihatiku kegirangan, dengan cepat aku mengambil batu bata di rak bagian bawah gudang itu, kemudian memanjati rak itu dan berusaha memecahkan jendela menggunakan batu, tapi sayang sekali jendela sangat sulit dipecahkan.


Sampai akhirnya suhu ruangan terasa semakin panas, membuatku berkeringat, ada apa ini.


Setelah berhasil memecahkan jendela tak lama dari suhu ruangan yang meningkat tadi, aku akhirnya keluar gudang itu melewati celah kecil jendela dan terjatuh ke tanah.


Sukurlah, aku tidak mengalami cidera atau luka yang serius, hanya kakiku saja yang terkilir, tapi aku melihat rumah, dan api yang sangat besar telah berkobar.


Aku berlari menuju depan rumah, tapi aku mundur setelah melihat rumah yang sebagian telah termakan kobaran api, aku kemudian menelpon pemadam kebakaran.


Aku menengok kebelakang, orang orang berjubah hitam itu sudah tidak ada lagi, sukurlah.. sebenarnya siapa mereka?


Wooo Wooo Wooo suara sirine mobil tim pemadam kebakaran yang datang ke lokasi, mereka berusaha memadamkan api yang semakin ganas berkobar.


"Ayahku, ayahku, ayah disana! Apa dia tertolong?" teriak Richard pada salah satu pemadam kebakaran itu. Dengan cekatan gerombolannya masuk ke dalam rumah.


"Tidak nak, maafkan kami, kami tidak dapat menolongnya," jawab salah satu pemadam kebakaran.


Tiga orang dari tim pemadam kebakaran terlihat membawa keluar mayat dari rumah menggunakan kantong berwarna oranye khusus membungkus jasad untuk kemudian diautopsi di rumah sakit.


Ayah!!! Semoga kau tenang disana bersama ibu, kenapa kau lakukan semua ini...


●●●


"Selamat! Tuan muda Richard! Anda berhak memegang kekuasaan di perusahaan ini, setelah kepergian ayahmu," kata salah satu sekretaris ayah.


"Aku juga turut berduka cita atas apa yang menimpa ayahmu," tambah sekretaris itu.


"Semoga kau bisa menjalankan bisnis ini selayak dan sebijaksana ayahmu, tuan muda! Tujuh belas adalah usia yang cukup dewasa untuk menentukan masa depan. Kau pasti bisa!" Semangat sekretarisku.

__ADS_1


__ADS_2