
Maria baru saja pulang dari butiknya, dan langsung disambut oleh kedua anaknya Ruben dan Rosie dengan pelukan hangat. Mereka terlihat sangat senang setelah ibunya pulang dari butik.
"Kami merindukan ibu, bagaimana butik ibu?" Ruben yang tumbuh menjadi remaja tampan bertanya pada ibunya, diikuti oleh Rose yang tumbuh jadi gadis kecil yang cantik, "apa ibu kelelahan? Ingin kupijiti?"
"Tidak nak... ibu baik-baik saja, ibu hanya mengantuk ibu ingin tidur," jawab Maria sambil mengelus-elus kepala mereka dan berlalu meninggalkan mereka menuju kamar.
Kami sudah lelah kehilangan kedua kakak kami... ayah kami... jangan dirimu juga, ibu.
●●●
Apa yang tadi dikatakan oleh pria itu? Semua seperti ada yang salah, kemampuan? Kemampuan apa? Kenapa bisa... aku merasakan ia berbicara padahal dia tidak membuka mulutnya sedikitpun? Batin Maria bermonolog karena masih memikirkan kejadian di butik siang tadi.
Merasa semuanya telah melantur dam mulai tidak masuk akal, Maria memutuskan untuk melucuti semua pakaiannya, mandi, dan memakai piyama, kemudian berbaring diatas kasurnya. Maria berusaha memejamkan matanya, tapi saat ia hampir tertidur, terdengar suara-suara aneh ditelinganya, seperti bisikan dari pria yang siang tadi membeli tas dibutiknya.
Jangan kebingungan sayang, aku melupakan sesuatu, aku ingin menjelaskannya sebelum aku benar benar pergi dari hidupmu dan tidak akan lagi mengganggumu...
"Me-menjelaskan apa?" tanya Maria yang ketakutan dan ingin berteriak tapi ia berusaha menahan ketakutannya tersebut karena anak-anaknya sudah tertidur sekarang.
Bagus.. kau tidak perlu takut denganku, sayang. kenalkan aku Florenzio Albert. Kau mengingatku bukan?
"Ya. A-aku mengingatmu, tuan. A-ada apa? Apa ini? Dimana kau, keluarlah!" tanya Maria berusaha berteriak namun sangat pelan.
__ADS_1
Ini namanya adalah telepati, nona. Aku sedang bertelepati denganmu... aku memiliki kemampuan telepati, temanku memiliki kemampuan halusinasi, dan dirimu... memilki kemampuan berteleportasi, sayang, kita bertiga akan mengubah dunia ini.
"A..aku tidak mengerti, apa maksudmu?" Kali ini Maria pindah ke kamar mandi untuk dapat berteriak sekeras-kerasnya.
Kau adalah bagian dari sekte necromancer, sayang... kau adalah bagian dari kami... setelah kulepas kontrolku pada dirimu, kau melupakan semuanya yang telah kau lakukan, dan sekarang aku ingin menjelaskan semua padamu.
Maria hanya bisa terdiam sambil kebingungan, bila ini telepon dari ponselnya, ia pasti sudah memutuskan sambungan dan berfikir orang ini salah sambung atau tidak waras.
Saat umurmu tujuh belas tahun, ibumu bunuh diri, karena gagal membunuhmu. saat ibumu ingin dibawa menuju rumah sakit untuk diautopsi, ambulansnya mengalami kecelakaan dan terjatuh ke jurang... kami mengambil jasad ibumu untuk dikremasi dan menculikmu yang saat itu sekarat kemudian menyembuhkanmu. Kami membuatmu jadi bagian dari sekte kami, karena kesembuhan itu tidaklah gratis dan ibumu telah menyetujui semua.
"I-ibuku? Tapi, kenapa?" tanya Maria yang berlinang air mata duduk di kloset yang tertutup, ia menutup matanya dan menunduk kembali mendengar bisikan yang tidak dapat ia hentikan.
Maria hanya terdiam mendengar semuanya, sambil sesegukan menangis dalam kesendirian dan kesunyian.
Saat aku masih mengontrol hidupmu, kau merupakan manusia terkejam... paling bengis, dan tidak berperikemanusiaan, kau... tega membunuh dua darah dagingmu sendiri, kau kuliti mereka, dan kau jahit kulit mereka lalu menjadikannya tas yang baru saja kubeli.
"Apa apaan ini! Aku tidak mungkin seperti itu! Aku hidup tenang bersama kedua anakku! Aku membiayai mereka, dan membesarkan mereka lewat butik yang kumiliki! Jaga mulutmu, sialan!" jawab Maria yang marah marah lalu menangis tersedu sedu, ia menjatuhkan seluruh barang-barang diatas wastafel kamar mandi itu membuat kegaduhan dan membangunkan anaknya.
●●●
"Ada apa dengan ibu!?" Dengan cekatan Ruben berlari ke lantai atas ke kamar ibunya.
__ADS_1
●●●
Aku lah yang membantumu mendirikan butik itu, selama ini kau hidup diatas kendaliku, Maria sayang, akulah yang membuat semuanya seperti ini. Kau harus tahu itu, dan selamat tinggal, anakmu akan datang kesini. Oh ya, coba saja nanti kau jentikkan jarimu sambil mengatakan lokasi mana yang kau ingin tuju, karena terakhir kau menggunakan kekuatanmu, kau masih berada dalam kontrolku. Kau menemukan Olav sedang bersetubuh dengan wanita selingkuhannya saat itu. Kau pasti melupakannya.
Maria semakin marah mendengarnya, seingatnya Olav berpamitan untuk berkelana mencari pekerjaan di ibukota... tapi saat ia ingin membalas lagi bisikan itu, terdengar ada seseorang yang menggedor-gedor kamarnya. Merasa bisikan-bisikan tadi sudah tidak lagi mengganggunya, ia memutuskan untuk keluar dari kamar mandi, mengusap air matanya, dan membukakan pintu.
"A-ada apa, nak?" Maria bertanya pada Ruben yang langsung menghambur ke pelukan Maria.
"I...ibu? Ibu kenapa barusan?" tanya Ruben yang mendengar kegaduhan dari kamar Maria, ia terlihat sangat takut.
"Tadi ibu terpeleset dan tidak sengaja menjatuhkan semua barang yang ada di atas wastafel, nak," jawab Maria dengan tenang dan tersenyum pada anaknya itu.
"Benarkah tidak ada apa-apa ibu?" tanya Ruben lagi yang terlihat masih was-was.
"Benar sayang... ibu tidak bohong. Dan ya, apa ibu boleh mengganggu tidurmu malam ini? Ibu ingin bercerita denganmu nak," pinta Maria dengan pelan yang dibalas anggukan oleh Ruben.
Maria tersenyum dan langsung memerintahkan Ruben untuk duduk bersamanya di atas kasur.
"Ibu ingin bertanya tentang apa?" tanya Ruben kepada Maria.
Maria hanya mengusap-usap kepala Ruben sambil tersenyum dan mulai bertanya.
__ADS_1