
(Florenz POV)
"Maukah kau bergabung bersama kami, agama kami lah yang terbaik, apapun yang kau inginkan akan kau dapatkan." Aku mendoktrin pikirannya.
"Aku tidak ingin apa-apa lagi, hidupku sudah hancur, lelaki yang paling kucinta sudah tiada," jawab Luna menangis.
"Mudah, kami dapat membuatmu hidup bersamanya selamanya," jawabku tersenyum ramah kepadanya.
"Benarkah? Kau bersungguh sungguh?" jawab Luna kegirangan.
Kau sungguh lucu, mana mungkin aku bisa menghidupkan manusia yang telah mati, mudah sekali kau tertipu dalam hatiku berbicara.
"Bagaimana kau akan menghidupkannya kembali?" Luna bertanya.
"Mudah saja, sebelumnya nanti sore temui aku di tempat ini." Aku menyodorkan surat.
"Selamat tinggal." Aku pergi dari situ.
●●●
Luna menunggunya tepat jam lima sore di tempat yang sudah ditunjukkan, walaupun tempatnya cukup mengerikan, berada di bawah pohon besar ditengah hutan.
"Selamat sore, nona Luna," sapaku sambil tersenyum, "Bolehkah aku duduk di sebelahmu nona?"
"Ya silahkan saja," jawab Luna tersenyum mengisyaratkan tempat duduk yang kosong di sampingnya.
"Sekteku bernama Necromancer, Tuhan kami adalah roh yang menjaga arwah-arwah manusia yang telah meninggal." ceritaku.
"Aku mengerti, inginku sangatlah besar dengan menemui suamiku," jawab Luna gegabah.
__ADS_1
Ditengah-tengah Luna berkata-kata, aku langsung menutup mulutnya memakai sapu tangan yang sudah aku taburkan serbuk chloroform.
●●●
Dimana ibu, ini sudah malam sekali, ucap Maria di dalam hati. Ia sangat mengkhawatirkannya
●●●
"Dimana aku!! Dimana aku!!" teriak Luna ketakutan.
"Diamlah, suamimu sedang siap siap," teriakku membohonginya.
Luna langsung diam mematung, "Aku merindukanmu, sayang!!" Ia berteriak, tangis Luna tak lagi tertahankan.
Krieett, pintu kayu itu terbuka menampakkan Florenz, beserta empat orang lain yang berjubah dan bertudung hitam, mendorong emergency trolley yang berisi tungku tungku dan wajan berbagai rempah.
"Tenang, sayang," sambil merapikan rambutnya, "Ini hanyalah rempah alami untuk mengobati kerinduanmu pada suamimu." Aku berusaha membuatnya percaya dengan segala tipu daya.
"Apa!! Apa itu!!!" teriak Luna yang masih saja belum percaya, wajah putihnya yang telah kusam dan keriput yang sudah terlihat sedikit di dahinya tidak memudarkan pancaran cantik sedikitpun. Wajah cantik itu terlihat sangat ketakutan.
"Dengan obat ini kau akan mengerti, bahwa penyakit mentalmu itu salah. Kau selalu merindukan orang yang telah tiada!" Aku tersulut emosi.
"Siapa kalian!! Menjauhlah!!" amarah Luna.
"Dengan ini kau akan kembali mencintai anakmu yang telah menjadi yatim. Kau akan menemui suamimu saat kau telah berhasil membunuh anakmu itu diusianya yang ke tujuh belas tahun. Jika kau gagal, kau akan membunuh dirimu sendiri." Hipnotis ku pada Luna yang mulai terbuai.
"Baiklah, akan aku turuti semua perintahmu," jawab Luna yang terhipnotis.
"Kalau begitu, makanlah ini sayang, ramuan ini akan menyembuhkanmu dari segalanya." Aku memerintahnya untuk memakan rerempahan ini.
__ADS_1
Luna kemudian memakannya, mengunyahnya, kemudian menenggaknya, "selesai, tuan." jawab Luna yang matanya memerah.
"Bagus sekali, sayang.. ingatlah perkataanku tadi, aku akan datang lagi padamu setelah anakmu berumur tujuh belas tahun dua puluh hari, disitulah saat dimana kau akan membunuh anakmu dan memberikannya kepada kami, kalau tidak, bunuhlah dirimu sendiri... Kamu akan melupakan tentang kami setelah ini." Kemudian aku menjentikkan jari, dan Luna kembali pingsan.
●●●
"Aaaahh!! Dimana aku!!" Luna berteriak, ia baru sadar dari pingsannya.
Maria yang tidur disampingnya terkejut dengan teriakan ibunya yang tiba-tiba.
"Tenang Bu.. Ibu hanya mengigau," jawab Luna yang masih berumur lima belas tahun.
"Ahh maafkan Ibu sayang, ibu bermimpi buruk," jawab Luna.
"Tadi Ibu diantar seseorang, teman ibu yang dari katedral. Ia bilang ibu kebanyakan minum sampai pingsan," jawab Maria polos.
"Apa!? Siapa!? Teman??" tanya Luna yang tidak mengerti.
"Apa Ibu lupa? Teman Ibu yang Ibu ajak berbincang di katedral tadi siang!?" tanya Maria yang mulai kebingungan.
"Tidak, Ibu tidak mengingatnya," jawab Luna.
"Baiklah, lupakan saja, Ibu pasti sangat kelelahan, tidurlah Bu, aku disini," jawab Maria yang mulai dewasa dan nampak sifat keibuannya.
"Ibu akan tidur, terima kasih nak." Luna menjawab sambil memeluk Maria.
Maria kebingungan lagi dengan Ibunya yang sudah dirasa sangat berlebihan, ia tidak pernah begini dan selalu keras terhadap Maria, tapi karena Maria merindukan pelukan ini, ia pun membalas pelukan ibunya.
■HUG■
__ADS_1