
Maria mengecup kening Ruben juga Rose bergantian.
Aku menyayangi kalian, jaga diri kalian baik-baik jika ibu sudah tak lagi disini. Ruben, jaga adikmu. Maria bermonolog sembari menahan tangisnya, jangan sampai anak-anaknya yang sudah lelap jadi terbangun.
Maria yang menutup mulutnya berlarian keluar dari kamar anaknya, masuk kekamarnya, dan menangis sejadi jadinya. Maafkan aku nak, maafkan aku, aku sudah tak pantas menjadi seorang Ibu, aku sudah tak pantas kalian sayangi, Ibu tak ingin menghancurkan kehidupan kalian juga. Ibu yakin kau pasti mampu menjaga adikmu baik-baik Ruben, jaga ia, Ibu akan pergi.
Maria menangis sesenggukan, mengambil bunga mawar yang dibelinya tiga tahun lalu. Mawar itu selalu dirawatnya, disirami, dan ditaruh di atas meja yang menghadap ke jendela, supaya setiap pagi Maria dapat memberikannya cahaya matahari. Bunga mawar itu merupakan gambaran bagaimana rasa cinta yang dimilikinya kepada sesosok pria, pria yang mampu mengubah dan mewarnai hidupnya.
Ia memgambil SOG Seal Knife 2000, pisau yang digunakan angkatan laut tentara Rusia dari laci meja kecil itu. Ini merupakan satu-satunya bukti bahwa Olav pernah menjadi tentara Rusia selama dua tahun. Olav saat itu berhenti menjadi tentara karena terluka cukup parah dalam perang melawan Uzbekistan.
Olav, kau pasti merindukan pisau ini. Pisau yang akan menembus arteri pulmonalis dan membuatmu mati seketika. Batin Maria bermonolog lalu ia tersenyum.
Semua tangisan dan kesengsaraan ini melemahkanku. Aku harus kuat agar tak selalu ditindas oleh manusia sepertimu, persetan! Maria mengusap air matanya di pipi.
Tunggu aku, Olav... Sembari Maria mengangkat tangannya, lalu menjentikkannya
Klik
●●●
Ia sudah berdiri di depan rumah megah itu. Memberanikan diri untuk melangkah menapaki kakinya mendekati pintu rumah, ia mengetuknya beberapa kali, hingga terdengar suara wanita berteriak, "Ya aku datang."
"Olav Svenkov," suara Maria mendayu-dayu memanggil Olav, yang langsung membuat langkah wanita itu terhenti, "I-ia memanggilmu, sayang. Aku tak kenal ia siapa, atau mungkin ia wanita yang datang memergoki kita bercinta waktu itu? Hampirilah jalang itu!" bentak Nova yang mengejutkan Olav.
__ADS_1
Olav menghembuskan nafasnya tanda gusar, hah ada apa lagi setelah tiga tahun, Maria. Dari mana kau mengetahui aku ada disini? Apa ada seseorang yang mengabarimu? Tapi tidak ada siapapun yang mengenaliku disini. Olav bermonolog, hatinya penuh tanda tanya.
"Olav..." suara Maria semakin mendayu-dayu.
"Cepatlah Olav! Lihat kedepan, aku takut." Nova meneriaki Olav yang tak kunjung keluar dari kamar.
"Baiklah baik, aku datang." Olav menjawab perintah Nova dengan malas.
Olav berjalan melangkah menuruni anak tangga, mendekati pintu depan rumah itu, ia menghembuskan nafasnya lagi. hah...
Klekk suara pintu terbuka, menampakkan apa yang ada didepan rumah.
"Kau lihat, sayang? Tidak ada siapa-siapa mungkin kau hanya kelelahan dengan pergulatan kita barusan, kau hanya berhalusinasi. Ayo cepat kembali kekamar dan tidur." Olav menghembuskan nafasnya lega.
Ternyata wanitaku hanya berhalusinasi, tapi kenapa bisa saat itu Maria datang? Ia bertanya-tanya dalam hati karena masih kebingungan dengan apa yang terjadi.
Jleb. "Halo, Olav," bisik Maria di telinga Olav sembari menusukkan pisau tepat dijantung pria itu.
"Ma-ri-a... beraninya kau!" Pria itu berteriak dengan suara paraunya, dari mulutnya keluar darah yang cukup banyak.
"Olav!!" teriak Nova dari kejauhan, ia terjatuh berlutut memandangi tubuh prianya yang mengeluarkan darah, "Olav," tangannya terangkat seperti berusaha menggapai.
"Kau mengkhianatiku, empat anakmu, teganya kau, Olav!" Maria meninggikan nada bicaranya, yang membuat Nova tambah tersentak.
__ADS_1
"Kau mendapatkanku dengan kecurangan. Kau tambahkan tribulus ke minumanku malam itu, malam perayaan kesembuhanku! Kau jalang! Aku hanya berusaha sebaik mungkin memenuhi keinginan ayahku," teriak Olav lagi sambil terbatuk-batuk.
"Membusuklah kau di neraka," bisik Maria yang semakin menusukkan pisau itu, matanya memerah diselimuti kemarahan dan api kecemburuan.
Olav tak lagi bernyawa tersungkur bersimbah darah.
"Olav!!" teriak Nova yang histeris namun tak berani untuk mendekat karena melihat raut wajah Maria yang mengerikan.
Maria melambaikan tangannya ke Nova sembari berucap pelan-pelan "selamat tinggal, aku akan menemaninya disana." Menunjuk jasad Olav yang sudah tak lagi bernafas.
Maria tersenyum dan menusukkan pisau didadanya, selang tiga detik ia pun ikut terjatuh tergeletak disamping jasad pria itu.
Nova yang melihat semuanya hanya bisa terdiam ketakutan. Ia sangat takut lalu lari terbirit-birit ke arah telepon rumah untuk menelpon kepolisian Rusia.
Tuuttt
Telepon tersambung.
"Halo! Cepat kemari, pak; disini ada peristiwa pembunuhan, selamatkan aku." Suara Nova terputus-putus dan terengah-engah.
"Baik, kami akan melacak lewat GPS dan secepatnya datang kesana." jawab polisi itu.
Telepon terputus
__ADS_1
●●●
Olav... kenapa kau tidak pernah bercerita tentang masa lalumu padaku? Padahal kukira kau tidak ingin menutupi apapun dariku.