Stitch

Stitch
Luna Guitterez (4)


__ADS_3

Aku bahagia hidup bersamamu, Vasily...


Keluargamu menerimaku apa adanya, aku pun mencintaimu...


Aku bahagia dengan pernikahan ini, membuatku melupakan semuanya...


Masa lalu...


Masa depan...


Akan kulalui semuanya...


Bila ku selalu bersamamu...


Apapun resikonya, apapun rintangannya...


I Love U, Rudolf Vasily...


□□□

__ADS_1


"Rudolf!! Aku mohon, jangan pergi, aku akan berusaha semampuku," mohon Luna di akhir kehidupan kekasihnya.


Kekasihnya yang memiliki harta kekayaan melimpah seketika jatuh miskin, disebabkan biaya kemoterapi yang sangat mahal. Rudolf harus bolak balik ke rumah sakit untuk menjalaninya karena tumor otak yang dideritanya. Bukan malah semakin baik, penyakitnya malah semakin parah. Hingga sekarang tak ada lagi obat yang dapat membantunya, ia hanya dapat berbaring di salah satu kamar VIP rumah sakit sembari menambatkan nyawa pada alat.


Luna dengan setia menemani Rudolf sampai akhir hayatnya, berhari-hari ia tinggal di rumah sakit memenuhi setiap kebutuhan Rudolf, cinta membuatnya dapat melakukan semua ini, hanya cinta lah alasannya mengapa Luna sedia melakukan apa saja demi hidup bersama Rudolf.


●●●


Good bye, my lovely Rud... I love u more than everything in my life


"Ibu, mari kita pulang... Ayah sudah tenang disana, disisiNya," pinta Maria sambil menarik dress hitam panjang ibunya. "Sudah dua jam kita termenung disini, Bu. Kita sudah memanjatkan segala doa untuknya."


"Aku masih ingin disini! Pulanglah bila kau ingin pulang! Pergilah, aku tidak membutuhkanmu," hardik Luna pada anaknya Maria.


Kau tidak tau, nak. Masa lalu Ibu dengannya, ia yang memberitahukanku arti cinta sebenarnya, membuatku jadi manusia yang hidupnya selalu dipenuhi oleh cinta, hanya ia yang mau menerimaku apa adanya, walaupun dengan kelainan yang aku miliki setelah insiden itu. bila kau mengetahui kelainanku ini, kau akan ketakutan, nak. Dan bila kau hidup dengan kelainan ini, kau akan mati dalam kehampaan tanpa seseorang yang dicintai. Batin Luna bermonolog sambil berlutut menangis memeluk batu nisan suaminya.


●●●


Sudah seminggu waktu berlalu...

__ADS_1


Setelah kepergian Rudolf...


"Ayo, cepat!" bentak Luna kepada Maria yang sedang bersiap siap.


"Ini sudah telat, Maria... cepatlah." Ibu lagi-lagi membentak Maria, mereka telat lima menit mendatangi katedral, hariini merupakan hari paskah, hari yang terbaik untuk memanjatkan doa-doa kepada Ilahi.


"Aku sudah siap, Bu!" jelas Maria, tapi saat dia melihat sekeliling sudah tidak ada ibunya.


Brumm! Suara mobil dinyalakan.


Ternyata ibu sudah di mobil, maafkan aku bu terlalu lama menyiapkan diri, aku berhati-hati menggunakan kemeja karena punggungku lebam-lebam bekas kau marahi semalam. Rasanya sangat sakit bila bersentuhan dengan kain pakaian ini.


Luna langsung membawa mobil itu membelah jalan raya krasnoyarsk setelah Maria masuk, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka berdua, tidak ada perbincangan apapun seperti hubungan ibu dan anak biasanya. Mereka hanya terdiam selama perjalanan, Maria terlalu takut untuk membuka mulut. Dan Luna terlihat sangat fokus menyetir.


Setelah mereka sampai, Maria dan Luna masing-masing turun dari mobil, memasuki katedral besar itu. Ternyata doa-doa pun baru mulai dipanjatkan oleh uskup.


Tuhan bapa yang mahabaik, kami bersyukur kepada-Mu Karena Kau telah bangkit dari Kubur.


Dengan kebangkitan-Nya. Kau tumbuhkan semangat dan harapan baru dalam hati kami; umat baru Kau ciptakan, dan pintu surga Kaubuka bagi kami.

__ADS_1


Melalui kebagkitan-Nya, kuasa dosa kaucurahkan, kami Kau damaikan dengan Dikau dan sesama, dan alam semesta yang porak-poranda Kau pugar kembali.


Dengan kenaikannya, Ia merintis jalan kesurga, dan menyediakan tempat bagi kami. Semoga karena rahmat kebangkitan-Nya kami menjadi manusia baru, yang penuh harapan, yang gigih melawan dosa dan kejahatan, yang setia mengikuti kehendak-Mu, dan tak gentar akan derita salib. Demi Kau, pengantara Kami, kini dan sepanjang masa. Ameen


__ADS_2