Stitch

Stitch
Heretic Blood


__ADS_3

(Maria POV)


"Ibu!! Ibu!!" Hari itu merupakan hari terburuk dalam hidupku, setelah hal hal aneh yang terjadi, ibu menusuk dirinya sendiri menggunakan pisau dapur.


"Ibu!! Ibu!!" Aku masih saja terus menangis memeluk tubuh ibuku yang bersimbah darah.


Aku memanggil ambulans, agar segera datang mengobati ibuku, tapi sangat disayangkan saat mereka datang, mereka menggeleng gelengkan kepalanya sambil satu orang mengatakan "Berdoalah semoga ia tenang disana." Pria itu menepuk-nepuk pundakku menguatkan.


Aku semakin menangis meronta, "Ibu!! Ibu!!"


"Sudah, tenangkan dirimu," kata perawat yang menyaksikan kejadian itu.


Aku berdiri. masih sedikit menangis, hatiku berkecamuk, sambil melihat kearah jendela dimana ibu tadi menusuk dirinya, aku melihat sesosok aneh berwarna hitam berlari diantara semak semak didepan rumah.


"Hei! Ayo ikuti aku ke ambulans, akan kami autopsi jasad ibumu di rumah sakit terdekat," kata sang perawat.


Hatiku merasakan firasat aneh, tapi aku berusaha menampik hal itu.


●●●


Ditengah perjalanan, ambulans mengalami oleng, kekanan dan kekiri dengan kecepatan tinggi


"Aku tidak tau apa yang terjadi!, Aku tidak menginjak pedal memainkan setirnya!," teriak supir ambulans panik.


Kemudian supir dan perawat yang berada di bagian depan ambulans melompat keluar, meninggalkan kami yang ada di belakang ambulans dalam keadaan terkunci.


Crash!! Brakkk!! Ambulans jatuh kedalam jurang tepat disamping jalan yang kami tempuh.


Mobil hancur penyok dibagian depan dan mulai mengeluarkan asap, perawat disampingku sudah tidak lagi bernyawa dengan kepala yang bercucuran darah.


Tetapi tiba tiba pintu belakang mobil ambulans terbuka, aku keluar melihat sekitar berteriak "Tolong!! Tolong!!" Tapi tidak ada satupun yang mendengar, tubuhku terhuyung, kepalaku terasa pusing dan sakit sekali, saat ingin memejamkan mata, aku melihat tiga orang berjubah hitam menyeret tubuh ibuku dari ambulans, meninggalkan jasad perawat itu, seseorang berjubah hitam juga mendekatiku, mengulurkan tangannya, tetapi belum sempat aku menggapai tangannya, aku jatuh pingsan.


●●●


Saat terbangun, aku berada dalam suatu ruangan hitam yang tidak ada sama sekali penerangan, hanyalah cahaya matahari yang menyinari dari jendela kecil diatas, jendela itu tertutup jeruji besi. Aku berteriak, "Tolong!! Tolong!!" sambil menggedor-gedor pintu kayu yang terkunci. Tapi tidak ada yang menyahut, hingga seseorang berjubah hitam yang tadi menggapai tanganku saat aku pingsan datang membuka pintu kayu tersebut, "selamat datang Maria sayang, di sekte agama kami" katanya.

__ADS_1


"Sekte apa! Aku sama sekali tidak pernah mempercayainya!" Aku marah-marah dengan orang itu, "Di mana aku! Kau menculikku, Sialan!" Lanjutku sambil berteriak dan mencaci.


"Aku tidak menculikmu, sayang. Aku hanya menuntunmu kejalan yang benar, Tuhan sangat mencintai umatnya, bersyukurlah," ucapnya sembari tersenyum menyeringai.


"Apa maksudmu, *******!" Aku marah-marah, amarahku tak terkendali kali ini, rasa takut, marah, bercampur menjadi satu, setelah kehilangan ibu, aku pun diculik seseorang untuk diajak ke dalam sekte agamanya yang sesat.


"Bahagia, dan bersenang senanglah! Tuhan, selalu menginginkan tumbal. Kau telah terpilih sayang!" jawab seseorang yang misterius itu.


Aku tersungkur, memegang kepalaku, menggaruk garuknya, kemudian dia yang berjubah hitam tadi meninggalkan ruangan.


Tidak tidak tidak, aku tidak ingin mati, dalam hatiku bermonolog.


●●●


Krieett, suara pintu kayu itu saat dibuka, menampakkan manusia berjubah itu lagi, tapi kali ini mereka berlima.


Mereka mendorong sejenis troli seperti emergency trolley yang sering ditemukan dirumah sakit, berwarna hitam dan berisi tungku-tungku berbau tidak sedap, juga sejenis ramuan di dalam wajan.


"Baiklah, kami akan melakukan serangkaian prosedur agar kau menjadi bagian dari kami" kata seseorang dibalik jubah hitam itu.


"Siapa kalian! Mau apa kalian!" teriakku yang sangat ketakutan.


"Makan ini, ramuan ini akan menghilangkan segala dosamu, nona," ucap salah satu dari mereka.


"Apa itu! Aku tidak mau!" aku memberontak.


"Jangan paksa kami melakukan tindakan yang kasar, nona" kata salah satu manusia berjubah hitam didepanku.


"Tidak! Tidak aku tidak mau!!" aku terus saja meronta.


"Pegang tangannya! Pegang kakinya!" satu orang di tangan kiri satu orang di tangan kanan, satu orang di kaki kiri, dan satu orang di kaki kanan.


"Buka mulutmu!" teriak seseorang itu. Kemudian ia membuka tudung penutup kepalanya.


"Kau!" Serasa terkejut tidak percaya, dia lah pria yang waktu itu ibuku temui di katedral.

__ADS_1


"Kau mengenalku, bukan, Maria!?" tanya dia. "Kenalkan, namaku Florenz, senang bertemu denganmu." Ia mengatakannya sambil tersenyum.


"Kau kemanakan ibuku!" teriakku yang masih meronta.


"Ibumu telah menjadi bagian dari kami, ibumu telah menyetujui persyaratannya, dia tidak terlalu sulit kami hasut seperti dirimu, dengan iming-iming bertemu ayahmu. Dan sekarang ya, kami mempertemukan mereka di surga. Haha." jawab Florenz sambil tertawa jahat.


Tanpa disadari olehku, ramuan tadi sudah berhasil dimasukkan kemulutku kemudian mulutku ditutup, tidak ada pilihan lain aku harus menelannya.


●●●


"Aaaarggh," teriak Maria yang sudah kehilangan kesadarannya.


"Bagus sekali, bagus, setelah ibunya menjadi bagian dari sekte ini, giliran anaknya menjadi bagian dari kita, Huahahaha." ucap Florenz kepada semua pengikut sekte rahasianya yang sudah berjumlah enam puluh enam orang sambil tertawa jahat.


"Mari kita semua sanggupi perintah Tuhan untuk memberikan dirinya Tuhan!!!" teriak Florenz dalam pidatonya, yang disoraki oleh semua anggota "Hallelujah! Hallelujah! Hallelujah!" Mereka sangat senang, dan mengangkat tangan keatas.


"Mari lihat di samping kita! Dialah wanita yang diinginkan oleh Tuhan tumbalnya. Kami sudah memberikanmu apa yang kau ingin, berikan kami surgamu juga sebagai balasannya!!" teriak Flo di pidatonya.


"Hallelujah!! Hallelujah!!" sorak sorai para anggota.


"Kau akan mengambil dua nyawa keturunannya, aku janjikan padamu itu, Tuhanku!!" teriak Florenz sambil kedua tangannya menunjuk keatas.


●●●


"Aaahhh!!" Maria terbangun, dan ternyata ia sudah kembali dikamarnya.


Anak-anaknya datang berbondong juga suaminya datang, kemudian suaminya bertanya "ada apa sayang?" Olav terlihat sangat perhatian sembari mengelus elus rambut Maria.


"Aku bermimpi buruk sayang," jawab Maria pada Olav.


"Lupakan saja, ini merupakan hari yang sangat melelahkan. Tadi kau diantarkan pulang oleh seorang wanita, aku tidak mengenalnya, ia mengatakan kau sibuk sekali hariini bekerja di butik. Ada pesanan banyak dari orang kaya raya ibukota. Aku mendoakan yang terbaik sayang untuk kemajuan butikmu," cerita Olav panjang lebar.


"Tapi, tapi, tidak ada apa-apa di butik hariini," jawab Maria.


Olav tidak menganggap itu sebagai sesuatu yang berarti, ia mengertinya, ia merasa Maria terlalu kelelahan.

__ADS_1


"Tidurlah dengan tenang sayang, aku disini," ucap Olav.


"Ummhh, baiklah sayang, aku mencintaimu." Chu~ Maria mengecup pipi Olav.


__ADS_2