
(Ruben POV)
Memiliki kakak lelaki dan wanita juga satu adik wanita membuat hidupku terasa lengkap.
Hari itu, terjadi keributan di ruang tengah, hal-hal biasa yang terjadi di suatu keluarga besar. Melihat ayah yang sedang sibuk menulis di meja kerjanya dan diganggui oleh Rose, adikku. Melihat kakak tertuaku, Antonio yang sedang membuat tugas kuliahnya lalu diganggui oleh kakak wanitaku Daniella. Dan melihat ibu menjahit pakaian untuk kemudian dijual kembali ke butiknya.
Keluarga ini sangat indah, aku mencintai mereka semua...
Aku masih berumur 10 tahun, saat ayahku memutuskan untuk meninggalkan kami semua.
Pikirannya mundur jauh ke belakang sampai saat itu
"Aku harus bekerja, mencari pekerjaan yang sebenarnya, Maria, aku tidak bisa hanya terus-terusan dirumah bercinta denganmu, lalu bergantung dari penghasilan butikmu yang sudah lama tutup," ucap Olav memelas kepada Maria.
"Kau ingin pergi kemana, Olav?? Aku tidak bisa disini menjaga mereka berempat sendirian, aku akan ikut," keluh Maria yang ingin sekali meneteskan air matanya, ia tidak bisa melepaskan pria yang sangat dicintainya itu.
"Jangan, jaga mereka untukku, Maria, aku akan kembali jika sudah memiliki penghasilan yang cukup untuk membiayai kalian smua. sekarang, aku meminta bantuanmu, sayangku. Jagalah mereka berempat, aku tidak akan lama," mohon Olav yang terlihat sudah bosan terus terusan dirumah tanpa penghasilan untuk menghidupi anak-anak juga istrinya.
"Baiklah sayang, aku mengerti, tapi bisakah kau mengirimiku kabar jika kamu sedang tidak sibuk?" tanya Maria yang terlihat sangat sedih, ingin menangis, tapi ditahannya, karena tidak ingin dilihat oleh anak-anaknya.
"Aku pergi, sayang, aku mencintaimu." Chu~ mereka berciuman, saling memagut, Maria seperti ingin mengingat rasa saliva Olav selamanya agar ia tidak terlalu merindukan pria itu nantinya.
"Anak-anak ayah," Keempat anaknya mendekati Olav dan memeluk dirinya "Ayah belum berpamitan dengan kalian." ucap Olav.
"Ayah akan kemana?" Mereka berempat bertanya dengan serentak, kesedihan terpampang jelas dari raut wajah mereka.
"Ayah ingin mencari pekerjaan yang lebih berpenghasilan di ibukota, sayang... tunggulah, ayah pasti akan kembali setelah memiliki uang yang cukup untuk membiayai kalian," ucap Olav yang seolah meneteskan air matanya.
"Ayah... hati hati disana." Mereka memeluk ayahnya erat erat. Rosie mulai menangis.
__ADS_1
"Sudah sayang, sudah cukup berpelukannya, Hati hati dijalan sayang, kami mencintaimu," perintah Maria kepada anak-anaknya yang membuat mereka berempat melepaskan pelukan mereka.
"Selamat tinggal kalian semua, ayah mencintai kalian," kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Olav kepada mereka semua.
.
.
.
(Olav POV)
Prang!! Bunyi ponsel yang kulempar ke tanah.
Tidak ada komunikasi, tidak ada! Aku sudah muak akan sifatmu Maria, aku hanya mencintaimu karena obsesiku yang besar terhadapmu.
Tubuhmu sangatlah indah, kau masih terlihat sangat muda diusiamu yang sudah 30an.
Kau menjebakku dalam sebuah ikatan pernikahan, aku tau, kaulah orang yang memasukkan tribulus ke dalam minumanku malam itu, dan membuatku jadi bercinta denganmu.
Karena setelahnya kau mengandung, kau menceritakan semuanya pada orang tuaku, dan membuat mereka memaksaku untuk menikahimu.
Dan sekarang, kau egois kepada anak-anakmu! Kau seperti hanya menyayangi Antonio, dan yang lain mendekat padaku hanya untuk memiliki kasih sayang yang sama seperti yang kau berikan pada Antonio! Aku sudah muak!
Kau egois demi mendapatkanku, dan sekarang kau egois karena anakmu telah tumbuh dewasa, hah!?
Apa kau menginginkan anakmu sendiri!? Kau gila! Kau harusnya mampu mencintai keseluruhan anakmu, bukannya membuat anakmu merasa bahwa mereka tidak disayangi. Ibu mereka hanya mencintai kakak.
Ini namanya pilih kasih, dan aku tidak menyukainya, karena mereka semua adalah anakmu! Sudah cukup, aku muak dengan semua! Jalang miskin! Kau adalah wanita hyperseks yang sangat gila yang pernah kutemui.
__ADS_1
Aku merutuk di dalam hati saat perjalanan sedang berlangsung.
Aku turun dari bus yang mengantarkanku ke Moskow.
"Selamat siang sayang," sapa seorang wanita sambil mencium pipiku mesra.
"Selamat siang juga sayang." Aku memeluk Nova.
"Kenapa kau tidak mengangkat teleponku, sayang?" tanya Nova yang tersenyum.
"Maafkan aku, aku menghancurkan ponselku, agar tidak terganggu oleh siapapun yang mencariku," jelas Olav berusaha menutupi semuanya.
"Hmmm baiklah aku mengerti, mari sayang. Ikut aku, kita pulang dulu kerumahku," kata Nova yang mengajak Olav masuk ke ferrari berlinetta hitam miliknya.
Kemudian Nova melajukan mobilnya menembus jalan ibukota.
"Kau tinggal disini sendiri?" tanya Olav kepada wanita cantik yang ditemuinya dari Tinder itu.
"Iya sayang, aku sendirian disini, kedua orang tuaku telah meninggal," jelas Nova, ia terpana melihat ketampanan pria yang sudah berkepala empat disampingnya, jambang halus yang dimiliki oleh Olav sangat mencuri perhatiannya.
"Aku rasa aku mengenal rumah ini." Olav berceloteh sendiri dan didengar oleh Nova.
"Benarkah, sayang? Aku baru membeli rumah ini, setelah aku mendapatkan tender yang sangat besar dari salah satu klien di kantorku," balas Nova yang terkejut mendengar perkataan Olav, ia bingung kenapa Olav berkata begitu.
"Siapa pemilik rumah ini!?" tanya Olav dengan rasa keingintahuan yang besar.
"Rumah ini dahulu dimiliki oleh kedua pasangan suami istri sayang, tetapi mereka tidak memiliki anak kemudian memutuskan untuk mengadopsi anak, tapi anak yang mereka adopsi membunuh mereka berdua disini. Itu cerita menurut orang orang yang tinggal didekat sini, tapi aku tidak menggubrisnya dan tetap membeli rumah ini," jelas Nova panjang lebar kepada Olav, ia tidak ingin berpikir yang aneh-aneh tentang Olav.
"Siapa nama mereka berdua, sayang, dan siapa nama anak mereka?" tanya Olav lagi yang membuat Nova semakin kebingungan.
__ADS_1
"Nama mereka berdua adalah Rheina Monica dan Ronnie Sakoev dan anak mereka, Maria Vasily Sakoev," jawab Nova.
Aku tercengang tidak percaya.