Stitch

Stitch
Vasily x Beethoven


__ADS_3

Bruumm!! Suara mobil Luminaire memasuki pekarangan rumah.


"Ayo cepat, bukakan bagasi belakang untukku!" perintah Luminaire kepada Maria.


Klekk bunyi suara bagasi belakang terbuka, kemudian Luminaire mengangkat tubuh Daniella yang sedari tadi disimpan disitu.


"Bukakan pintu gubuk dibelakang rumah!" perintah Luminaire yang langsung dituruti Maria.


"Akan aku letakkan tubuhnya disini, aku akan mengambil pisau didapur," ucap Luminaire yang menaruh tubuh Daniella ke atas meja tua.


"Tidak perlu! Aku membawanya," tegas Maria.


Kau memang mengerikan, membawa pisau kemanapun. Dalam batin Luminaire bermonolog.


Tiba tiba Ruben menelpon Maria


Tuutt tuuutt


"Telpon siapa itu? Mungkin penting, cepat angkatlah," perintah Lumi.


"Hanya anakku," jawab Maria enteng.


"Cepat angkat mungkin penting," jawab Lumi tidak suka.


"Paling mereka hanya merengek merindukan ibunya," jawab Maria


jengah dengan perilaku Luminaire yang menatapnya, Maria pun mengangkat telpon itu.


Tuutt tuuut


Dari Ruben


"Halo, halo! Halo ibu! Jasad kak Dani hilang di rumah sakit!!" ucap Ruben yang ketakutan dari seberang sana.


"Apa!? Kenapa bisa, ya Tuhan, apa yang kau lakukan kepada jasadnya..." jawab Maria.


"Aku pun tak mengerti ibu, ibu cepatlah pulang! Aku takut... sekarang aku sendirian karena Rose sudah terlelap," pinta Ruben pada Maria.


"Baiklah sebentar lagi aku pulang, jaga adikmu sayang," jawab Maria.

__ADS_1


Tuuuttt


Kau sangat pintar berakting, Maria. Luminaire bermonolog.


"Lihat? Ia hanya merengek," ucap Maria kepada Lumi.


"Tapi bukannya itu bagus? Tandanya mereka menyayangimu, mereka membutuhkanmu," jawab Lumi.


"Mereka sudah mengetahui jika jasad Daniella menghilang," ucap Maria.


"Berarti nanti mereka akan mendatangi rumahmu untuk interogasi! Tetapi kau malah diluar rumah sekarang!" jawab Lumi meninggikan nada suaranya.


"Selesai dengan ini semua, aku akan pulang," jawab Maria santai.


Gubuk itu sungguh berdebu, kotor, karena memang tak pernah dirawat oleh pemiliknya. dengan pencahayaan yang minim, hanya mengandalkan satu bohlam kecil diatas juga ruangan yang sangat sempit.


"Aku akan keluar untuk merokok," kata Luminaire kepada Maria yang hanya dibalas anggukan.


Brakk suara pintu kayu gubuk itu saat terbuka, dan Lumi keluar darisana. Ia mengeluarkan sebungkus rokok dari kantongnya, mengambil salah satu rokok, kemudian menaruh rokok di mulutnya, dan menghidupkan korek apinya.


Wushh ia menghisap rokok dalam-dalam kemudian menghembuskannya ke atas langit.


●●●


Akan aku mulai dari mana bagian tubuhmu ini, Dani? Dalam hati Maria bertanya.


Maria mengangkat pisau kemudian mulai menguliti tubuh telanjang Daniella.


Sungguh tubuh yang indah, aku ingin sekali kembali ke masa remajaku, memiliki tubuh yang indah sepertimu, anakku.


Maria mencium bibir mungil Daniella, kemudian meremas remas buah dada Daniella, memain mainkan putingnya. Menggigit telinga Daniella lalu membisikkan maafkan ibu, nak. Ibu mencintaimu.


Maria mulai menguliti tubuh Daniella, mulai dari betis merambat ke paha, terus naik keatas membelah vaginanya, memotong perutnya, membelah kedua payudaranya seperti membelah kelapa, menyembelih kepalanya layaknya hewan. Kulitnya yang sudah berhasil dilepaskan dari tempatnya dibawa oleh Maria menggunakan kantong plastik dan disimpan di dalam tas.


Tubuh Daniella yang tidak lagi dibalut oleh kulit, dibiarkan oleh Maria begitu saja diatas meja tua itu.


Kepala Daniella juga dibiarkan disitu, hanya dipisahkan saja dari tubuhnya yang sudah tidak lagi berkulit.


Ahh beginilah anatomi manusia, tiga tahun aku tidak melihatnya...

__ADS_1


●●●


Brakk suara pintu kayu itu terbuka memperlihatkan Maria, ia melakukan semuanya dengan sangat rapi dan bersih. Sampai tidak ada darah sedikitpun yang mengenai pakaiannya, berbeda saat ia melakukannya pada Antonio dulu.


Ia sangat mengerikan, ucap Luminaire dalam hati.


"Bereskanlah semuanya, aku ingin pulang!" perintah Maria kepada Lumi.


"Wow, wow bagaimana caramu pulang.  Ini sudah jam enam sore, biar kuantarkan," ajak Lumi.


"Tak usah repot -repot mengantarku, aku bisa memesan taksi, aku sudah tidak sabar menjahit tas baruku," jawab Maria enteng.


"Baiklah, akan kubereskan semuanya, kau pulanglah!" perintah Lumi yang dituruti Maria.


"Aku akan memesan taksi," jawab Maria.


●●●


dua mobil polisi terparkir didepan rumah Maria, saat taksi yang dipesannya sudah sampai di titik lokasi pengantaran.


"Seratus rubel saja, nyonya," ucap supir taksi.


"Baiklah, ini dia, terima kasih pak," jawab Maria.


"Kalau boleh tau, ada apa ini semua? Kenapa rumahmu didatangi polisi?" tanya supir taksi itu.


"Aku adalah ibu korban kecelakaan di petrovskiy dock pagi tadi," jawab Maria santai.


"Maaf, maafkan aku nyonya, aku turut berduka," ucap supir taksi itu,


"Jika boleh tau, buat apa nyonya tadi pergi dari rumah saat lagi berkabung seperti ini?" tanya supir taksi itu lagi.


"Itu bukan urusanmu untuk menanyakannya. Pergilah!" Marah Maria.


"Ba...baiklah nyonya, maafkan aku," jawab supir taksi yang kemudian memundurkan mobilnya lalu keluar dari pekarangan rumah Maria.


Mari kita tangani polisi-polisi menyebalkan ini


●●●

__ADS_1


__ADS_2