
"Ibu... Ibu... jangan pergi, aku lelah mengejarmu," panggil Ruben yang tertatih mengejarnya. Keringat dingin membasahi wajah manis itu, "Ibu!!" Ia tersentak melihat ibunya yang melambaikan tangan dan berubah jadi abu yang berterbangan...
"Ibu!" Ruben lagi-lagi berteriak, terbangun dari tidur pulasnya.
Fi-firasat apa ini, sebelumnya aku tidak pernah bermimpi seperti ini, aneh... Ibu? Apakah kau baik-baik saja? Ruben bergumam, hatinya berkecamuk karena tak biasa mimpi buruk. Tetapi mimpinya kali ini seakan sangat jelas, ibunya melambaikan tangan tanda akan pergi, ia berulang kali mengerjapkan matanya, bingung harus melakukan apa, ia pergi menuju kamar ibunya sembari berlarian karena ia sangat ketakutan.
"Ibu!" pungkas Ruben menaikkan nada suaranya seperti berteriak tetapi cukup pelan agar tidak membangunkan Rose, adiknya. Sembari membuka pintu kamar.
I-ia benar-benar tidak ada, kemana dia? Tuhan, jagalah ia, batin Ruben bermonolog, ia syok, menjatuhkan lutut, dan menangis dalam sepi.
●●●
Jasad Maria terbujur bersebelahan dengan jasad seorang pria, diatasnya ditaruh setangkai bunga mawar, bunga yang dibawa Maria dari rumahnya.
__ADS_1
"Selamat pagi, bisa anda jelaskan bagaimana tragedi tewasnya Nyonya Maria dan Tuan Olav, Nyonya Nova?" tanya seorang opsir kepada Nova yang bingung harus mengatakan apa, bibirnya terasa kelu dan kaku untuk mengatakan semua.
Nova yang sangat syok melihat peristiwa itu secara langsung dengan dua mata kepalanya berlarian menelpon 911 untuk meminta bantuan dan perlindungan.
Gaya tutur bicara Nova juga yang biasanya lancar dan pintar berubah dalam seketika menjadi tergagap. Ia dinilai sangat terpukul dengan tragedi yang menimpa.
"A-a-aku hanya me-me-lihat, i-ia, perempuan itu, me-menusuk, pisau, hahaha." jelas Nova yang tak mampu dimengerti oleh sang opsir, ia tertawa usai membicarakan itu pada opsir.
"Cepat bawa ia ke rumah sakit jiwa Oksochi!" titah sang opsir kepada aparat kepolisian lain. Ia tak lain dan tak bukan adalah Kevin, opsir yang mewawancarai Maria saat tragedi kecelakaan anak wanitanya. Saat itu Maria tidak ada dirumah tetapi malah diluar.
Nova tertawa, ia yang sedari tadi menari-nari mulai tenang, ia duduk di lantai memperhatikan dalam-dalam wajah Olav, ia mengelus pipinya, mengecup keningnya, dan membisikkan kata-kata ke telinganya walaupun ia tau Olav tidak akan membalas bisikannya.
"Selamat tidur Olav. Aku benar-benar tidak mengetahui masa lalumu bersamanya, aku hanya membutuhkan cintamu, aku akan selalu menginginkanmu, Olav... Aku mencintaimu, tenanglah disana... aku tidak akan pernah melupakanmu," bisikan Nova di telinga Olav yang terbujur kaku tidak lagi bernyawa.
__ADS_1
Tubuh Nova yang sedang memandangi wajah Olav ditarik paksa oleh sejumlah oknum. "Lepaskan!" gertaknya, ia memberontak. Bukannya menangis ia malah tertawa terbahak bahak sambil berteriak, "Good bye Olav, Good bye Olav." Ia tersenyum dan bernyanyi-nyanyi.
"Ayo cepat, ikut kami!" paksa oknum-oknum itu kepada Nova yang tertawa, mereka menyeret tubuh Nova kemudian dibawa masuk ke salah satu mobil polisi. Didalam mobil polisi itu Nova berteriak teriak sambil menggedor kaca mobil berusaha membukanya, namun tidak berbuah hasil.
"Bawa ia secepatnya," perintah Kevin kepada anak buahnya.
"Baik, pak!" Salah satu dari mereka menuruti perintah Kevin dan mengangkat tangannya memberi hormat kemudian pamit pergi.
Maria.. kenapa bisa kau sampai di Moskow?? Ini semua aneh dan tidak dapat dicerna oleh akal pikiran manusia normal. Apa yang harus aku jelaskan kepada kedua anakmu yang masih kecil? Aku tidak tau harus apa, aku tidak ingin membuat senyum manis diwajah mereka memudar dan menghilang. Sejak dahulu aku ingin hadirnya canda tawa anak-anak dalam keluargaku, tapi tidak bisa kudapatkan karena kejadian itu. Kevin bergumam sembari menggaruk-garuk kepalanya bingung, dengan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Sejumlah opsir yang masih ada di lokasi kejadian mulai menyisir tempat, mencari barang-barang yang dapat ditemukan untuk memudahkan tugas tim investigasi.
Mata Kevin berhenti pada satu titik, tepat di atas dada Olav, yaitu setangkai bunga mawar berwarna putih. Ia tersenyum melihatnya.
__ADS_1