
"Kau lihat dia, wanita yang sangat menderita, setelah kehilangan prianya, hasut dia, kontrol hidupnya, agar ia sedia membunuh anaknya," kata Romario, seseorang dibalik jubah hitam yang memerintah Florenz menghipnotis Luna.
"Kau akan mendapatkan surga Ilahi, Flo. Ilahi hanya menginginkan pengorbanan, apa kau telah membaca tentang pengorbanan sang Ilahi yang menyalib anaknya sendiri?" tanya pria itu kepada Florenz.
"Iya aku mengerti, Ilahi hanya menginginkan pengorbanan orang tua untuk membunuh anaknya," Jawab Flo yang sangat mengabdikan hidupnya kepada aliran yang diciptakan Romario.
"Baiklah, kau mengerti, kau adalah pengikutku yang paling kucintai, Flo. Sekarang saatnya aku pergi, aku lelah hidup dengan penyakit yang menghantui, gantikan aku membimbing mereka, para pengikut Necromancer. Aku juga tidak tega membunuh anakku sendiri... setelah kepergian Zoe... ini adalah pilihan yang terbaik. Tuhan, maafkan aku!!" DOR!! setelah berteriak meminta ampunan pada Ilahi, ia pun menembak kepalanya sendiri.
Semoga kau tenang di surganya, paman, aku akan meneruskan usahamu membimbing mereka ke jalan yang benar. Kaulah nabi. Florenz bermonolog sambil menutup kedua mata Romario.
Baiklah, sekarang giliranmu, Luna. Kau akan menjadi pengikutku, bersama kita akan menuju jalan yang benar, ikuti apa kata kataku. Ia tertawa mengerikan sambil menyeringai bak iblis
●●●
(Maria POV)
Kemana kamu bu, sudah jam sebelas malam tapi kau tidak kunjung pulang, aku takut, aku gelisah sendiri dirumah, pulanglah bu.
Walaupun kau sering menamparku, memukuliku karena kesalahan yang kecil saja, aku tau itu semua karena kau masih sangat terpukul kehilangan ayah.
Ayah adalah segalanya bagi ibu, ayah merupakan jantung ibu, aku tau ibu sangat mencintai ayah, sebelum ayah sakit dan divonis dokter ibu tidak pernah keras padaku. Jadi aku mengerti ibu tidak bermaksud menyakitiku, ibu hanya depresi.
Aku mencintaimu bu, aku menyayangimu, pulanglah ibu, pulanglah, aku takut sendiri
Maria berceloteh panjang lebar didalam hatinya mengobati rasa takutnya yang tidak biasa sendiri.
Brummm!! Suara mobil terdengar didepan rumah.
TokTokTok pintu rumah yang diketuk seseorang dari luar.
Ibu! Aku berlarian ingin membukakan pintu. Tapi setelah pintu itu terbuka aku malah melihat ibu tak sadarkan diri, ibu terkulai lemas, tangannya merangkul pundak seorang pria, pria itu merupakan orang yang ditemui ibu di katedral. Aku mengingatnya saat itu aku ikut bersama ibu dan ibu menyuruhku untuk bermain dan membiarkan dia ngobrol bersama pria itu.
"Ayo cepat! Tunjukkan aku dimana kamarnya, ia pingsan terlalu banyak minum di klub malam tengah kota," perintah pria itu yang langsung saja kuturuti.
"Baik baik, kamarnya disini, ikuti aku. Disini, baringkan ia disini saja, Pak!" Aku menggiring pria itu kekamarku agar malam ini aku dapat tidur bersama ibu.
"Baiklah, aku hanya mengantar ibumu saja, karena bagiku ia tanggung jawabku," ucap pria itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Pak! Hati hati di jalan."
Maria tersenyum.
Brummm!!! Mobil audi Flo menjauh dari rumah Maria dan melaju kencang membelah jalan.
●●●
Kenapa ibu semakin hari semakin aneh, apa ibu telah sembuh dari depresinya kehilangan ayah? Kenapa ibu memanjakan aku begini, aku makan disuapi, dan pada saat aku mandi pun dia bertanya "Apa kau ingin dimandikan, sayang?" Panggilannya juga yang biasa memanggilku Maria, berubah menjadi sayang. Hal ini sangatlah aneh menurutku, mungkin ada sesuatu yang salah. Batin Maria bermonolog.
Malam itu, dua puluh hari setelah hari ulang tahunku yang ke tujuh belas tahun, ibu berperilaku sangat aneh, ia berteriak, "Jangan ganggu aku jangan ganggu aku." Dan mengomel-ngomel aneh tanpa bisa aku dengar dengan jelas. Padahal ibu sendirian di kamarnya, aku ingin mendekatinya tapi aku malah ketakutan dan memilih untuk diam dibalik selimut.
Aku tidak dapat tertidur malam itu, suara ibu tiba tiba berhenti, sunyi sekali suara dirumah, lampu yang selalu aku matikan saat tidur, aku hidupkan karena sangat ketakutan.
Tapi kemudian hal yang sangat ditakutkan terjadi.
Krieett, pintu kayu kamarku terbuka, aku menahan nafas, tidak dapat bergerak.
"Ma... ri.. aa.." suara ibunya mendayu-dayu, "Ibu mencintaimu..." tandas Luna lagi yang membuat Maria meneguk salivanya ketakutan.
"Ma... ri.. aa.. Mommy loves u very much.." Ibu duduk di atas kasurku, mengelus ngelus kepalaku yang masih tertutup selimut.
"Maafkan Ibu.. Ibu mencintaimu tapi ibu harus membunuhmu agar dapat bertemu ayahmu di surga, apa kamu mencintai ibu juga? Ibu harap kau mengerti, dan menikmati dua tahun ini, selama aku memanjakanmu." Ibu bercerita pelan pelan dengan suara paraunya.
Aku yang mendengarnya sontak kaget dan membuka selimut menutup tubuh ibu.
"Aahh apa yang kau lakukan anak tidak tau diri!!" teriak ibu saat aku menutup tubuhnya memakai selimut dan lari terbirit-birit.
Duk! Kakiku tersandung kakinya yang sepertinya sengaja dijenjangkan.
Dia memegang kakiku, "jangan pergi sayang, kau harus mati hari ini juga," kata ibu sambil memperlihatkan pisau di tangannya.
Plak! Aku menampar ibu membuatnya meringis kesakitan dan melepaskan pegangannya dari kakiku.
Aku merangkak keluar dari kamar, sukurlah ibu tadi tidak menutup pintu saat masuk ke kamarku.
"Tunggu!!!" teriak ibu padaku yang berlarian menuruni tangga. Kamarku berada di lantai dua rumah.
__ADS_1
"Aku merindukanmu Rudolf, tunggu aku disana!!!" teriak ibu tapi tidak ku indahkan sampai aku keluar dari rumah.
Aku menjauh dari rumah, menatap jendela kamarku yang lampunya sekarang hidup, ibu mengangkat pisau di tangan kirinya, sambil menyeringai.
"Ibu!!! Ibu!!!" Aku berteriak melihat ibu yang menusuk dadanya sendiri menggunakan pisau dapur itu.
"Ibu!!! Ibu!!!" Aku berlarian menuju kekamarku melihat ibu yang tubuhnya sudah terbujur di lantai dengan mata yang terbuka.
●●●
2 hari kemudian
"Bibi mendengar perihal ibumu, bibi turut berduka, bibi tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh kak Luna," kata bibiku, bibi Rhei. Ia memiliki paras yang memesona, rahang yang tegas, bibir merah merona, dan mata yang agak sipit, ia sangat menawan di usianya yang tak lagi muda.
"Apakah Maria mau hidup bersama bibi? Bibi akan bantu semuanya, dan menyekolahkanmu seperti anak anak yang lain," kata bibi Rhei.
Aku yang semula menunduk bersedih kemudian mendongakkan kepala
"Benarkah, bi? Tapi rumah ini akan kita apakan?" aku kembali menunduk karena kebingungan.
"Biarkan saja rumah ini, kita tinggalkan rumah ini, dan mulailah hidup barumu bersama bibi dan paman di kota," kata bibi Rhei, kemudian ia menengok ke samping ke arah suaminya "Pamanmu telah menunggumu didalam mobil, mari, ikut bibi saja." perintah bibi Rhei yang dibalas anggukan oleh Maria tanda mengerti.
"Tapi bibi,bagaimana semua pakaianku?" aku bertanya lagi.
"Biarkan saja, aku akan membelikanmu pakaian yang lebih pantas, nak!" kata bibi Rhei.
"Sebentar bi, saya ingin mengambil satu barang dirumah, hanya satu." Aku merasa tidak enak selalu bertanya dengan bibi Rhei, padahal keinginannya sudah jelas, ingin membawaku, untuk hidup bersamanya, memperbaiki kehidupanku yang sudah hancur.
Aku mengambil bingkai foto ibu, ayah dan diriku kemudian memasukkannya ke dalam tas.
"Baik bi, aku sudah siap," jawab Maria dengan kesenangan yang terlihat jelas di wajahnya.
"Mari, ikut bibi," perintah Rheina sembari merangkul pundak Maria mengajaknya berjalan beriringan.
Setelah masuk ke bentley continental itu, paman mulai menghidupkan mesin mobil dan perjalanan panjang menuju ibukota pun dimulai.
Selamat tinggal sayang, terima kasih Rhei. Luna melambai lambaikan tangannya dari jendela itu.
__ADS_1