
"Baiklah terimakasih atas semua jawaban yang nyonya berikan, saya permisi ingin undur diri," kata Kevin.
"Baiklah, Pak. Terimakasih sudah memberi saya kabar sebesar ini, siapa orang yang dengan teganya menculik mayat? Dan untuk apa?" Maria membalas perkataan Kevin dengan air mata bercucuran.
"Sekarang kami belum dapat menjelaskan semuanya, nyonya. Pelakunya saja belum ditemukan, bagaimana kami bisa mengetahui motifnya. Kami sangat berduka atas kehilangan anda nyonya," jawab Kevin sembari memerintah polisi yang lain untuk pamit pergi dari rumah Maria.
Semua polisi pun pergi dari rumah Maria membawa mobil mereka.
"Ibu, kenapa ini semua bisa terjadi pada kita? Kenapa semengenaskan ini nasib kak Dani..." tangis Ruben.
"Aku juga tidak mengerti, nak. Apa kalian sudah makan malam?" Maria mengubah topik pembicaraan.
"Belum Bu," jawab Ruben dan Rosie serentak. Mereka berharap akan makan malam bersama dengan ibunya. Karena memang jarang sekali mereka bisa makan bersama karena ibu selalu sibuk mengurus butiknya.
"Kalau begitu kalian makanlah dulu, nanti ibu akan menyusul. Ibu masih memiliki pekerjaan, seorang desainer terkenal memberikan ibu bahan bahan kulit yang sama seperti tas ibu. Katanya ia ingin membeli dengan harga mahal untuk tas yang ibu buat selanjutnya," kata Maria girang.
"Kenapa ia tidak membeli saja tas Ibu?" tanya Ruben.
"Tas Ibu sudah tua, ia tak menginginkannya, ia menginginkan yang baru," jawab Maria.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi tapi! Cepatlah habisi makan malam kalian! Lalu tidur!" bentak Maria.
Ruben dan Rose terkejut, Mereka terlihat menunduk sambil mengucapkan, "Baiklah Bu." Lalu pergi ke dapur untuk mengambil makanan.
__ADS_1
Sembari Maria sibuk mengambil kantong plastik yang tadi ia sembunyikan di pot tanaman depan rumah, Ruben dan Rose telah menghabiskan makan malam mereka, kemudian mereka masuk ke dalam kamar masing-masing lalu terlelap tidur.
Bagus sekali, anak-anak sudah terlelap, ini waktuku untuk menyudahi misi kedua ini Maria menyeringai dengan kantong plastik ditangannya. Ia pun pergi ke dapur, mengeluarkan kulit kulit itu dari kantong plastik, lalu membersihkan darah darah yang masih melekat di wastafel.
Sungguh kulit yang sangat indah, aku iri denganmu, anakku. Kulit putih bersih, tanpa sedikitpun gores atau bekas luka.
Setelah hampir satu jam ia membersihkan darah darah yang masih melekat pada kulit Daniella, Maria memutuskan untuk pergi ke ruang tengah rumah itu. Ruangan yang dimana dulu banyak sekali terdengar suara canda tawa anak anaknya, suara suaminya yang sedang mengetik menggunakan mesin tik, suara celoteh Rose kecil, sungguh, itu adalah hal yang dirindukan. Tapi bagaimana lagi, hidupnya telah dikontrol sepenuhnya oleh Florenzio Albert, salah satu nabi di dalam sekte Necromancer, keponakan dari pencipta sekte itu, Romario Angelo.
Maria meletakkan kulit-kulit Daniella yang sudah bersih ke meja mesin jahit.
Dua jam, waktu yang dibutuhkan Maria Vasily untuk menggambar desain tas yang sangat cantik, jari kelingking sebagai pembuka resleting, sebagian kulit tubuh sebagai pembungkus tas, gigi-gigi sebagai penghias bagian depan, lengkap dengan kantung kantung kecil yang dibuat dari kulit wajahnya. Betapa senangnya ia melihat desain barunya yang sangat cantik. Berbeda dengan tas dari kulit Antonio, yang dibuatnya tanpa berbagai pemikiran matang.
Ini akan jadi karya terbaikku yang kupajang di butik, sangat indah...
š§¶š§¶š§¶
Karisma sudah terlelap, ditemani Luminaire disampingnya.
Good night my beloved daughter...
Kriing kriing
Florenzio Albert
"Ada apa Flo? Sudah lama kau tidak menelponku, jangan mengusikku, aku sudah membantu Maria," tanya Lumi.
__ADS_1
"Bagus.. memang itulah tugasmu Lumi, kau murid kesayangan Romario, pamanku. Padahal dulu ayahmu adalah musuhnya dalam perdebatan, Haha! Musuh yang memiliki pola pikir yang berbeda," sahut Flo sambil tertawa.
"Ya kau tau itu, mereka dulu teman, tapi karena Zoe, anak pamanmu itu meninggal, ia tiba-tiba mengasingkan diri," kata Luminaire yang seolah merendahkan.
"Dia tidak hanya mengasingkan diri, Luminaire Beethoven. Ia mendapatkan kemampuan telepati saat pulang. Dan ia pun memberikan kemampuannya padaku! Saat ia meninggal, ia percaya aku akan kembali membangun sekte ini menjadi lebih baik, hallelujah." Flo tertawa
"Mungkin memang, kau sudah gila, sama seperti pamanmu itu. Sebab itulah kau tidak pernah mencintai wanita." Lumi mulai meninggikan nada suaranya namun tetap tenang.
"Aku menelpon hanya ingin berterimakasih, teman. Kau sudah membantu salah satu kerabat kita," ucap Flo.
"Apa maksudmu!?" Tanya Lumi.
"Ya... Lumi, Maria menuruni kemampuan Luna, ibunya. Berteleportasi, dia merupakan salah satu nabi di sekte ini, dia adalah harapan bagi kita," ucap Flo.
"Be-benarkah!?" Lumi tertegun tidak percaya.
"Ya, benar, aku sudah memeriksanya, saat aku melakukan ritual pertama padanya" ucap Flo berusaha membuat Lumi percaya.
"Apakah yang diramalkan Romario akan menjadi kenyataan!? Bahwa kita, tiga nabi ini lah yang akan mengubah dunia?" tanya Lumi terkejut.
"Ya... kau benar Luminaire Beethoven, itulah kenapa aku ingin sekali mewujudkan impiannya untuk mendirikan butik, dan menjadikan dirinya seorang desainer," jelas Flo kepada Lumi yang masih terdiam.
āāā
Luna... Aku jadi tau sekarang kenapa pamanku dulu memerintahku untuk mengejarmu, kemampuanmu inilah yang kami cari sepanjang hidup. Batin Flo bermonolog.
__ADS_1