Stitch

Stitch
Maria's Confusion


__ADS_3

"Apa yang ingin ibu tanyakan?" tanya Ruben yang penasaran, tak biasa tengah malam ibunya melakukan keributan.


Maria mengelus-elus kepala Ruben, "kau sudah tumbuh besar nak. Ibu sudah lelah dengan semuanya," jelas Maria yang kebingungan akan semua hal.


"Ta-tapi, Ibu. Apa yang ingin Ibu tanyakan sebenarnya padaku?" Ruben semakin antusias sembari memeluk Ibunya. Jangan tinggalkan kami juga Ibu, aku rasa aku belum siap sendirian menjaga Rose. Batin Ruben bermonolog karena ia merasa sangat ketakutan setelah mendengar kata-kata Ibunya. Ia tidak ingin ibunya pergi sama seperti kakanya, Antonio dan Dani.


"Hei jangan bersedih seperti itu, Ibu menyayangimu," bujuk Maria yang membalas pelukan Ruben.


"Ja-jadi apa maksud ibu dengan lelah akan semuanya? Aku tau bu... kejadian ini datang bertubi-tubi. Kak Anto, dan setelahnya Kak Dani, tapi kau masih memiliki kami. Kau tidak boleh meninggalkan kami juga." Tangis Ruben pecah mengisi ruangan yang sepi.


Jadi apa yang dikatakan bisikan itu benar, aku memiliki empat anak, tapi dua sudah meninggal, dan penyebab kematian mereka semua adalah aku? Didalam hati Maria bertanya tanya.


"Aku menyayangi kalian berdua, sudah jangan menangis. Kau anak yang kuat, Ruben! Kau anak yang paling ibu banggakan! Jangan menangis seperti kau pengecut. Kuatlah," bisik Maria yang seketika menghentikan isakan Ruben. Maria menyeka air mata anaknya itu. "Tidurlah. Ini sudah larut malam, besok hari senin kan. Kau harus bersekolah," lanjut Maria lagi yang dibalas anggukan oleh anaknya.


●●●


Pagi itu, setelah mengantar Ruben dan Rose ke sekolah, Maria berdiam di kamarnya, berusaha membuktikan pernyataan dari bisikan itu, bisikan yang memperkenalkan dirinya sebagai konsumen di butiknya.


Maria membuka laptopnya dan mulai berselancar di internet mencari berbagai kejadian-kejadian tewasnya orang belakangan ini.


Maria menemukan salah satu artikel aneh di suatu mesin pencarian, di situ tertulis, "Jasad korban kecelakaan dinyatakan hilang misterius dari rumah sakit." Maria mulai penasaran dan mengklik artikel itu.

__ADS_1


Dia mulai membacanya, dalam-dalam ia memahami kejadian itu, dan membuat kepalanya sakit. Apa yang ia dengar semalam di kamar mandi, apa yang dikatakan oleh bisikan-bisikan aneh itu ternyata benar adanya. Ia menutup mukanya, menangis.


Daniella, Antonio, Maafkan ibu. Maria bertutur kata sendirian di keheningan dan kesunyian kamarnya.


Buat apa kau menangis lagi Maria sayang, semua yang kukatakan benar adanya, bukan? Bisikan itu tiba-tiba muncul lagi dalam benak Maria, mengejutkannya yang sedang menyendiri.


"Ke-kenapa kau selalu datang saat tidak kuundang! Keluar kau, penipu!" teriak Maria


Yaa aku hanya ingin memperhatikanmu, my lovely Maria. Aku bukan penipu, kau sudah membuktikannya kan? Sekarang aku sudah memberitahumu tentang Olavmu, cobalah kemampuanmu. Jentikkan jarimu dan katakan lokasi yang kau inginkan! Bisikan itu meninggikan nada suaranya yang membuat Maria terdiam.


Maria menuruti apa yang bisikan itu katakan. Ia menjentikkan jarinya sambil mengatakan tempat Olav, suamiku berada di dalam hatinya.


●●●


Klik


●●●


Maria mendekat ke rumah itu, ia menyentuh pintu coklat besar rumah itu, semuanya masih tetap sama.


Ia memberanikan diri untuk mengintip ke jendela di samping pintu depan rumah itu, betapa terkejutnya ia melihat wanita cantik yang berjalan ingin membukakan pintu, diikuti Olav dibelakangnya.

__ADS_1


"Siapa itu, sayang?" teriak Olav kepada wanita itu dari kejauhan, dan terdengar oleh Maria.


"A-aku tidak tau sayang," jawab wanita itu yang seperti ketakutan melihat bayangan Maria di depan rumah.


"Aku akan ke sana, biarkan aku saja yang membukanya." Olav berteriak lagi.


Te..ternyata benar semuanya, Olav... kau mengkhianatiku selama ini. Anakmu, aku, mendoakanmu, merindukanmu, teganya kau melakukan semua ini. Batin Maria bermonolog sembari menahan tangis.


Klek suara kenop pintu terbuka.


"Tidak ada siapa-siapa." Olav kebingungan dengan tingkah laku Nova, "Mungkin kau hanya salah lihat sayangku." tambahnya lagi.


●●●


Klik


Maria tak kuasa lagi menahan tangisnya, ia sudah kembali ke kamar. Menangis sejadi-jadinya sembari menutupi wajah dengan bantal.


Kau akan menyesali apa yang telah kau perbuat, Olav! Tiga tahun aku dan anak anakmu menunggu. Dan ternyata kau mengkhianati kami semua. Batin Maria bermonolog dalam tangisnya.


●●●

__ADS_1


Cinta terbaik dapat ditemukan dalam buku-buku dongeng dan hanyalah mitos belaka.


__ADS_2