Stitch

Stitch
Necromancer


__ADS_3

"Aaahhh tidak! Maria!" murka Florenz di malam hari itu, ia merasakan seseorang yang terhubung dengan dirinya sudah mengakhiri hidupnya sendiri.


"Maria, kenapa kau bertindak seceroboh ini, tak kusangka melepaskan kontrolku padamu merupakan sebuah kesalahan!" rutuk Florenz kembali seraya berteriak memegang kepalanya, memijit-mijitnya.


"Tu-tuan. Ada apa dengan anda?" tanya salah satu pengikut yang kebingungan dengan gelagat aneh pemimpinnya, berteriak teriak meraung tanpa alasan yang jelas.


"Aku tidak apa-apa, pergilah!" perintah Florenz dengan mata yang memerah, ia terlihat seperti menangis, tapi tangisannya bukan air mata biasa melainkan darah. Florenz berusaha menyembunyikan itu, menutup wajahnya dengan penutup kepala di jubah hitam yang dikenakannya.


Bi-bila kau tidak ada, ba-bagaimana dengan ini semua, ajaran ini, sekte ini, yang telah dibangun susah payah oleh pamanku, semua akan musnah. Tiga nabi yang telah diramalkan, semua akan pupus. Ma-maafkan aku paman. Aku tidak pantas menjadi penerus ajaranmu, ini semua kesalahanku. Flo bermonolog, merutuk dalam kesendirian sembari menangis makin kencang tanpa suara.

__ADS_1


Disudut ruangan itu Florenz meringkuk memikirkan semuanya, sudah musnah semua harapan dan apa yang dibangun pamannya dari nol. Ia meratapinya bagaikan ini adalah akhir dari dunia, membayangkan bila itu adalah hari kiamat.


Rumah yang dibangun bagi sekte itu terlindung dari dunia luar, karena memiliki aura yang sangat mengerikan. Konon, rumah yang berada di belakang pemakaman itu merupakan rumah yang dulu ditempati oleh penjaga pemakaman, dan sekarang tidak ada lagi yang menempati. Tidak ada yang berani merubuhkan atau masuk kedalamnya.


Di suasana malam itu yang sepi, di bawah pohon besar dibelakang pemakaman, tempat sekte itu biasa berkumpul, jauh dari kerumunan manusia dan hingar bingar dunia. Tempat inilah yang dipilih oleh Romario mengingat bila keberadaan mereka sampai terendus oleh dunia luar, mereka akan diadili ramai-ramai. Dunia sudah terlalu sesak dengan kereligiusan. Dan manusia yang tidak mempercayai agama itu adalah minoritas, hanya segelintir dari populasi.


Malam ini, Florenzio memutuskan untuk berpidato setelah berhenti menangis di sudut ruangan gelap itu. Ia mengajak seluruh pengikut untuk mendengarkan apa yang akan diucapkannya. Aku akan mengakhiri sekte ini dengan baik, dan rapi... paman, maafkan aku sudah melepaskan Maria, anak wanita yang kau incar dari dulu. gumam Florenz.


"Harap kalian tenang, teman-teman. Aku ingin meminta maaf pada kalian semua, tapi mungkin ini adalah jalan terbaik yang dapat kulalui, yang dapat kita lalui," jelas Flo panjang lebar sambil terisak, suaranya terdengar parau, tidak seperti Flo yang biasanya.

__ADS_1


Banyak dari pengikut yang mulai ricuh, mereka saling bertanya dan saling bergumam, ini merupakan kebingungan yang besar bagi mereka. Mereka tidak mengerti, apa yang dimaksud oleh tuan yang sangat mereka tinggikan. Apa maksud dirimu, tuan?


"Kumohon para pengikutku, tetaplah tenang. Bukankah bila aliran ini dibubarkan kalian dapat hidup masing-masing seperti biasa secara normal!?" tegas Flo, "dan kalian tidak akan lagi bersusah payah keluar dari rumah kalian malam hari untuk berkumpul!" imbuh Flo lagi dengan nada yang cukup meninggi sembari menunjuk ke arah semua pengikutnya.


"Maafkan aku, paman!" teriak Florenz di atas altar mengeluarkan glock yang dipakai pamannya untuk membunuh dirinya sendiri. Florenz menyimpannya rapi-rapi selama ini, sebagai kenangan betapa berjasanya seorang Romario Angelo.


Ia menarik pelatuknya, para pengikut berlarian ingin menghentikan aksi mantan pemimpin mereka itu sembari berteriak, "jangan!!" tetapi semua telah terlambat.


DOR!!! Peluru tepat menembus kepala Florenz lalu ia terhuyung jatuh dari altar itu. Ia tergeletak mengenaskan tak bernyawa lagi.

__ADS_1


Para pengikut berempati saat melihat jasad Florenzio. Mereka tau bahwa mantan pemimpin mereka itu tidak memiliki satupun sanak keluarga, mereka memutuskan untuk membakar jasadnya dan membuang abunya ke sungai volga. Sama seperti apa yang ia lakukan dulu kepada pamannya.


●●●


__ADS_2