Stitch

Stitch
Maria Vasily


__ADS_3

Kau akan pulang kerumah, tak akan mengingat apapun yang kau lakukan hariini, kau akan hidup sendiri, tetapi nanti kau akan berjumpa dengan seorang pria, kau harus mendapatkannya bagaimanapun caranya. Dan pada saat kau memiliki anak, bila anakmu berumur tujuh belas tahun dua puluh hari, habisilah ia, buatlah anakmu masuk ke dalam surga ilahi duluan. aku akan mengontrol hidupmu, tindakanmu, semua tentangmu, sayang. Ini semua karena ibumu telah menyetujui permintaan kami, memberikan anaknya bila ia tak selamat, dengan hadiah suaminya yang telah meninggal. Sungguh bodoh ibumu itu. Butik kecilmu itu akan sukses, hartamu akan dilimpahkan, hidupmu akan dimudahkan, yang kau inginkan akan selalu terkabul, hidupmu akan bahagia, bila kau berhasil menyelesaikan misi suci ini. Hipnotis dari Florenz saat itu


●●●


(Maria POV)


"Kita mau kemana, paman?" Aku bertanya pada paman Sakoev.


"Kita akan pulang kerumah bibi dan paman di ibukota sayang," jawab bibi.


Dua jam perjalanan


Aku merasakan perutku sakit, ini semua akibat maag yang aku derita, "Aku lapar bi."


"Rumah kita sudah dekat sayang, dirumah banyak sekali makanan seperti Borscht, Pelmeni, Stroganoff, Medovik, dan Blini," sahut bibi Rhei.


"Baiklah bi, aku akan menunggu."


●●●


Aku akhirnya sampai di kediaman mewah pasangan suami istri Sakoev.


Wahhh rumah ini sangatlah megah dan besar, aku beruntung mereka mau mengadopsiku setelah kematian ibu


Aku akan mencoba jadi anak yg baik untuk mereka dalam hatiku bermonolog.


"Ini kamarmu, nak. Dan ini kamar kami, bila kau ingin sesuatu, panggil saja kami," ucap Bibi Rhei sambil tersenyum. Ia selalu terlihat murah senyum.


Hari itu aku melihat lihat seisi rumah, tapi ada satu ruangan yang selalu terkunci. Dan kemudian aku bertanya pada bibi.

__ADS_1


"Jangan pernah kau mendekati pintu itu. Itu tempat pribadi kami. Jangan berani berani kau ingin tahu," kata bibi Rhei sambil menatapku sinis.


Berhari hari aku hidup tenang dirumah itu, tidak ada seorang pun dari mereka berdua berkata kata soal ruangan itu. Sampai akhirnya pada suatu hari, saat mereka semua telah tertidur, aku berani mengendap endap masuk kekamar mereka, menggeledah segala laci kemudian menemukan kunci berwarna coklat di laci paling bawah didekat ranjangnya. Dan mengendap endap lagi keluar dari kamar itu berlari kecil ke arah ruangan misterius itu.


Aku mencolokkan kuncinya, memutar mutarnya, tidak bisa terbuka, sekali lagi aku berusaha membukanya, erghhh keras sekali dalam hati aku berkata.


Cltek kunci pun terbuka. Aku sempat terkejut, benarkah?


Aku membuka ruangan misterius itu, mataku berkedip berulang kali, aku terbelalak, seperti pernah melihat ruangan ini, tapi dimana, aku lupa. Aahh kepalaku pusing.


"Lihat lihat apa, sayang?" bisik dari bibi Rhei.


Aku terkejut, "bi... bi..."


"Iya sayang, aku disini." Bibi Rhei berbisik dan tersenyum.


Aku berbalik melihatnya.


Bugh.. ahh sakit, bokongku terhempas.


"Aku sudah bilang! Jangan sekalipun kau berani buka ruangan ini!" Rhei marah menaikkan nada suaranya sambil melotot.


"Aaa aku tidak sengaja bi, aku tidak tau, maaf." Aku ketakutan, menundukkan wajah dan berlutut.


"Beraninya kau memasuki kamarku dan menggeledahnya!" Rhei marah kemudian mendekati aku yang sedang berlutut.


PLAK!! Bibi menamparku


"Maaf bibi."

__ADS_1


PLAK!! "Beraninya kau! Kau adalah anak adopsiku! Jangan berani berani kau! Jaga tingkahmu dirumah orang lain!" Rhei kembali menamparku


"Bibi sudah cukup, ini sangat perih."


"Taukah kau! Maria! Aku telah membunuh anakku! Agar aku masuk surga Nya yang kekal! Hahaha." Bibi Rhei tertawa jahat


Aku melihat kesamping, tepat kearah pisau. Paman Ronnie tiba tiba datang dari belakang, karena mendengar keributan.


"APA! Jadi ternyata aku ini tidak mandul! Kau memalsukan semua! Kau aborsi buah hatiku! Teganya kau! Jalang." Paman Ronnie marah-marah


"Tidak sayang, ini tidak seperti yang kau bayangkan," bibi Rhei ketakutan lalu kemudian mengambil pisau diatas meja, dan menghunuskan pisau itu keatas, "Jangan dekat-dekat. Jangan dekat-dekat."


"Ada apa sayang, bukankah kau mencintaiku, tapi kenapa kau tutupi kebenaran ini." Ronnie berjalan mendekati bibi.


"Ini semua, ini semua, agar aku mencapai surga ilahi! Aku akan hidup disurganya setelah kematian!" Rhei menatap Ronnie menitihkan air matanya.


Bibi kemudian menusuk lehernya sendiri, Cras!! Darah mulai muncrat keluar dari lehernya, beberapa detik kemudian berceceran darah dimana mana, bibi tergeletak di tanah.


"Rheina!!! Tidak tidak tidak, bangun Rhei!!" teriak Ronnie yg terlihat sangat frustasi, menunduk mendekati Rheina.


Rheina bergerak diujung kematiannya, melepaskan pisau yang menancap dilehernya, dengan suara parau, dan napas yang sudah tidak teratur, ia membesetkan pisau ke leher Ronnie.


Ronnie berteriak "Aarghh." sambil berusaha menutupi lehernya dengan tangan, tapi darah yang keluar cukup deras sehingga tak dapat ditahan hanya dengan tangan, Ronnie pun semakin lemas dan tergeletak ditanah.


Rheina tertawa dengan suara paraunya, batuk darah, kemudian melemparkan pisau tersebut datar ke arah ku yang tersudut di sudut kamar.


"Selamat tinggal." Rheina bersuara dengan suaranya yang parau.


Aku lari dari tempat itu, berlari ke arah telepon rumah untuk menelpon ambulans, agar segera membawa mereka pergi.

__ADS_1


●●●


Sejak kejadian itu, aku difitnah oleh warga sekitar sebagai pembunuh bibi dan pamanku. Tetapi pihak berwajib tidak ingin menangkapku, karena umurku yang masih tujuh belas tahun. Hidupku sendiri di rumah megah ini, menjual barang yang dapat dijual kemudian menjalani hidup Mendaftar ke sekolah ternama di Rusia.


__ADS_2