
"Aku kesini ingin menyampaikan kabar duka untuk kalian berdua," tutur Kevin sendu pagi itu kepada anak-anak didepannya.
Ruben dan Rose masing-masing kebingungan. Ekspresi mereka menampakkan rasa takut juga sedih. Mereka menunggu tutur kata pak opsir itu berlanjut dengan degup jantung yang cepat dan tidak beraturan.
Apa semua tentang ibu? Batin mereka bertanya-tanya, harap-harap cemas tentang kabar dari wanita itu, keringat dingin mulai mengalir dari pelipis sang kakak, hanya satu yang bisa mereka lakukan sembari menunggu penjelasan dari sang kepala polisi, melantunkan doa-doa dalam hati.
Aku-aku tidak bisa, aku tidak mampu mengurus adikku sendiri... aku hanyalah seorang remaja yang baru genap berusia tujuh belas tahun dua puluh hari lagi. Aku menyayangimu, apa salah kami berdua? Aku rasa, kau akan selalu berada di sisi kami setelah kau memanjakanku selama ini, tapi kenapa kau pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya? Meninggalkan kenangan yang pahit untukku kenang. Ruben bermonolog, ia berusaha menutupi segalanya, tangisan dan ketakutan, tapi semua tak dapat lagi ia bendung, ia tak kuasa lagi menahan tangisannya. Menangis sejadi-jadinya didepan sang opsir.
Ibu... aku tau selama ini aku memang belum mampu menjadi seorang gadis yang kau inginkan. Aku dapat mengerti semuanya dari tingkahmu yang seringkali berlaku kasar kepadaku, memang, cara itu tidak pernah diajarkan atau dianjurkan oleh orang lain, caramu tidak pernah ada di semua buku dongeng yang pernah kubaca, tapi bagiku itu berbeda. Cintamu kepadaku kau tunjukkan dengan berbagai ketegasan dan kedisiplinan. Aku menyayangimu bu. Tapi mengapa kau pergi? Batin Rose berkata-kata, sambil ikut menangis disamping sang kakak yang berlaku seolah dia kuat menghadapi segalanya termasuk kata-kata yang barusan ia dengar dari mulut opsir itu, "Ibu kalian telah tiada, maafkan aku."
"Ibu kalian ditemukan tak lagi bernyawa jatuh dari atas jembatan petrovskiy, tepat dimana tragedi tewasnya Daniella." papar Kevin sekali lagi, memperjelas kata-katanya barusan. Ia juga sangat merasa iba melihat kedua anak didepannya menangis tersedu-sedu, ia merasa ada yang berbeda dari keduanya.
Tuhan... apakah benar kata batinku ini? Aku rasa aku tidak ingin menuturkan semuanya, berbagai keraguan yang aku rasa, dan berbagai tanda tanya tentang nyonya Maria Vasily kepada mereka. Aku pikir mereka berdua hanyalah anak-anak yang belum mengerti apapun, mereka terlihat masih sangat polos. Gumam Kevin yang tidak ingin terus-terusan melihat anak didepannya menangis. Ia mulai berjongkok sembari memandangi kedua wajah mereka bergantian, dan mengusap air mata di pipi mereka, "sudah, jangan menangis lagi, ibu kalian pasti tidak akan suka melihat ini disana," kata Kevin pada mereka berdua dengan suara yang lembut.
Ya Tuhan... apakah pilihanku sudah tepat? Jalan yang kutempuh sudah benar? Aku ingin mengadopsi mereka berdua, sudah lama aku dan Clarissa menginginkan kehadiran suara tawa dan tangisan anak di keluarga kami, Tuhan aku mohon teguhkan hatiku. Kevin lagi-lagi bergumam ingin memastikan apa yang barusan ia pikir adalah benar atau salah.
__ADS_1
Hatinya masih mengalami berbagai pergolakan, setelah yang terjadi dua tahun lalu kepada keluarganya, anaknya tewas didalam kandungan, karena kelainan kromosom pada janin Clarissa dan membuatnya tidak mampu berkembang secara optimal. Ini membuat Clarissa terlalu trauma untuk berhubungan dengannya. Ia lebih memilih menyendiri sekarang. Kevin harap mereka berdua dapat menjadi alasan untuk istrinya tersenyum lagi.
"Kalian berdua tenanglah, sudah cukup, aku tidak mampu melihat kalian berdua bersedih," desis Kevin kepada mereka berdua. Apa yang dilakukan oleh Kevin ini dilihat oleh polisi-polisi lain yang ikut, mereka juga memperlihatkan rasa iba pada kedua anak yang baru saja ditinggal oleh seorang wanita yang sejam lalu mereka serahkan ke tim forensik untuk dianalisis.
Para polisi itu menunduk, bertujuan untuk memberikan semangat moril kepada Ruben Ronald dan Rosie Rose.
Kevin berdiri, memeluk mereka berdua dengan hangat, ia juga turut meneteskan air mata, membasahi belakang baju Ruben. Tapi ditengah-tengah pelukan ia berkata kepada keduanya, "maukah kalian hidup bersamaku? Tinggallah bersamaku, istriku pasti akan sangat menyayangi kalian," jelas Kevin sambil melepaskan pelukannya, matanya melihat mata kedua anak itu bergantian mencari kepastian.
Apa yang barusan kupertanyakan adalah sebuah kesalahan? Aku hanya tidak mampu melihat mereka berdua menangis, aku tidak ingin melihat mereka selalu bersedih, aku hanya ingin menjadi seseorang yang mampu mengembalikan senyuman diwajah mereka, seperti saat kali pertama aku bertemu mereka waktu itu. Batin Kevin bermonolog harap-harap cemas menunggu jawaban dari mereka berdua.
"Aku cuma ingin membantu senyuman kembali di wajah kalian, aku mohon bersedialah," mohon Kevin dengan wajah memelas.
Ruben dan Rose terlihat berdialog, saling bertanya tentang apa yang harus mereka putuskan saat itu. Dengan raut wajah yang sendu dan mata yang sembab, mereka memutuskan untuk menjawab, "Iya."
Aku sudah tidak memiliki seseorang yang pantas untuk dipanggil ibu dan ayah, kami berdua sudah menjadi yatim piatu, mungkin dengan mencoba memberikan kesempatan bagi dirinya merupakan jalan yang terbaik. Gumam Ruben dalam hati saat setelah menjawab pertanyaan Kevin yang ingin mengadopsinya dan adiknya.
__ADS_1
Aku merupakan bocah perempuan berumur sepuluh tahun, aku belum bisa mengatasi berbagai rintangan dan lika-liku kehidupan. Kakak yang baru saja masuk sekolah menengah memerlukan orang yang dapat membayar tunjangan sekolahnya, akupun memerlukan orang yang dapat menghidupiku. Mungkin ada baiknya aku melupakan tragedi ini walau berat aku akan melakukannya pelan-pelan, mendoakan ibu sepenuh hati, dan membuka kesempatan baginya mengadopsiku, juga kakak. Setelah mengiyakan perkataan sang opsir, Rose bermonolog, memikirkan ini semua sekali lagi dalam-dalam, namun ia hanyalah bocah berumur sepuluh tahun.
"Be-benarkah!?" Kevin terlihat bahagia mendengar jawaban dari keduanya, raut wajah Kevin berubah, ia tersenyum sumringah, "Mari sini ikut aku." Tangan Kevin terangkat seperti menunggu genggaman dari Ruben.
"Tapi bagaimana dengan rumah kami, pakaian, dan segala kenangannya?" tanya Ruben yang bingung.
"Rumah ini untuk sementara ditahan oleh pemerintah, dan apabila rumah ini dijual oleh pemerintah aku akan membelinya," tegas Kevin singkat.
"Kita mau kemana pak Kevin?" tanya Rose setelah membaca name tag yang dikenakan oleh opsir itu.
"Aku akan langsung membawamu kerumahku, memperkenalkan kalian pada istriku, semoga kalian dapat menyukai suasana rumah kami, rumah kami sepi dengan canda tawa anak-anak, aku ingin mendengarkan suara-suara itu." tutur Kevin yang menatap mereka berdua dengan raut wajah sendu.
Kevin membawa Ruben dan Rose pergi dari rumah itu menggunakan mobil kepolisian yang ia pakai.
●●●
__ADS_1
Rumah Maria dipasangi garis polisi, tanda rumah sudah disita dan lagi dalam pengawasan ketat pihak kepolisian.