Suami Berondongku

Suami Berondongku
Bab 10


__ADS_3

Marcell saat ini menatap Anggi yang tengah berusaha membuat sarapan pagi untuknya. Dia ingin melihat apakah ucapan Anggi tadi benar.


Tapi dari yang Marcell lihat, istrinya itu memang begitu mudah mengerti akan sesuatu. Terbukti sekarang Anggi telah membawa 2 piring omelette ke meja.


"Bagaimana Cell? Aku tidak bohong kan?" Anggi menaik turunkan alisnya.


"Ya, dari segi penampilan, omelette ini memang bagus. Tapi jangan senang dulu. Kita belum tahu bagaimana rasanya," tantang Marcell.


"Kalau menurutku sih pasti mungkin sama dengan masakan mu kemarin Cell. Karena Aku menambahkan bumbunya persis seperti takaran yang Kau masukkan kemarin."


Kini keduanya sudah memegang sendok untuk menyicipinya.


Satu suapan mereka masukkan kedalam mulutnya. Keduanya terdiam sejenak tanpa berkata. Kemudian mereka berdua saling melempar senyuman.


"ENAK!" ucap keduanya bersamaan.


Tanpa menunggu lama, keduanya langsung menghabiskan sarapan mereka masing-masing.


"Terimakasih ya, istriku. Masakanmu enak. Kalau begitu Aku sekolah dulu ya?" Marcell berjalan mendekat dan mencium kening Anggi.


"Cell, apa kita tidak salah dengan bersikap seperti suami istri sungguhan?" tanya Anggi polos.


Marcell terkekeh. Sungguh istrinya itu memang begitu menggemaskan. "Kita kan memang suami istri sungguhan? Jadi tidak ada salahnya kita melakukannya sungguhan, istriku. Mulai sekarang, kita jalani apa adanya saja. Biarkan waktu yang menjawab, apakah cinta itu akan hadir di antara kita atau tidak." ucap Marcell lembut.


Anggi tersenyum menatap suami brondongnya. Memang tidak ada salahnya jika mereka menjalani pernikahan ini dengan hal yang wajarnya terjadi antara suami dan istri. Lagipula Anggi juga merasa begitu nyaman dengan pria yang lebih muda darinya itu.


"Baiklah, kalau begitu kita jalani pernikahan ini seperti air mengalir. Namun, jika suatu saat Kau bosan padaku, katakan ya Cell. Atau jika cinta itu tidak pernah hadir, Kau bisa mengatakannya juga padaku. Karena jika itu terjadi, Aku bisa mengantisipasi diriku agar Aku bisa menempatkan di mana posisiku berada," ucap Anggi.


'Tidak akan. Karena Aku sudah mulai tertarik padamu. Jika sampai itu terjadi, berarti Aku adalah pria yang begitu bodoh,' ucap Marcell dalam hati.


Marcell hanya mengangguk dan tersenyum. Pelan, tangannya mengusap lembut pipi Anggi. Kemudian sekilas dia pun mencium bibir sang istri. Sepertinya Marcell mulai menikmati nikah mudanya.


"Yasudah, kalau begitu Aku ke sekolah dulu ya, istriku? Masuk kuliahnya besok saja. Gunakan hari ini untuk istirahat. Aku tahu Kau pasti masih sangat lelah dengan yang terjadi semalam," ucap Marcell sembari mengedipkan matanya.


Anggi hanya tersipu mendengarnya. Kejadian panas itu kembali terputar di otaknya.


Anggi mengantarkan suaminya ke depan rumah. Ia melambaikan tangannya kala Marcell melajukan motor sportnya berangkat menuju ke sekolahnya.


Sementara Anggi kembali masuk kedalam rumah. Dia tersenyum kecil mengingat yang terjadi antara dirinya dan juga Marcell.


Anggi memang tidak pernah memiliki kekasih sebelumnya. Jadi semua perlakuan Marcell membuatnya begitu tersipu dan membuatnya seolah merasa sangat di cintai.


Dia sendiri juga tak mengerti mengapa ketika bersama Marcell, dia menjadi merasa lebih nyaman di bandingkan dengan para pria yang mencoba untuk mendekatinya.


"Sepertinya Aku jatuh cinta," ucap Anggi memegangi dadanya yang terasa begitu membuncah.

__ADS_1


***


"Marcell...!" panggil Nindy ketika melihat siluet pria yang ia sukai.


Marcell yang hendak memasuki kelasnya pun membalikan badannya. "Iya Nin, ada Apa?"


"Besok Aku boleh bareng kamu nggak pas berangkat bertanding?" tanya Nindy. Dia tahu jika besok Marcell akan berangkat menggunakan motornya menuju ke tempat perlombaan.


"Maaf Nin, Aku tidak bisa. Bukankah biasanya kamu pakai mobil?"


"Eumm... Mobilku sedang ada di bengkel. Makanya Aku mau bareng sama Kamu. Memangnya Kamu boncengin siapa sih? Bukannya yang lainnya sudah ikut minibus ya?"


Marcell menggaruk tengkuknya bingung mau menjawab pertanyaan dari Nindy. Tidak mungkin dia mengatakan jika dirinya akan mengajak istrinya. Bisa geger satu sekolahan nantinya.


Marcell masih ingin menamatkan pendidikannya agar bisa menjadi pria mapan dan bisa membahagiakan istrinya.


"Eumm... Besok kakakku mau ikut melihat pertandingan ku, Nin. Maaf ya Aku tidak bisa boncengin kamu," ucap Marcell beralasan.


Nindy mengerutkan keningnya. Dia tak pernah tahu jika Marcell memiliki seorang kakak selama ini. Yang ia tahu, Marcell hanya tinggal bersama pamannya.


"Kamu punya kakak Cell? Kenapa Kamu tidak pernah cerita ke Aku? Yasudah deh, besok Aku naik taksi aja. Kakak kamu cewek apa cowok Cell? Biar besok sekalian bisa kenalan."


"Emm... Kakak Aku cewek, Nin."


"Wah, sepertinya akan sangat menyenangkan jika Aku bisa mengenal kakak mu, Cell. Kalau begitu sampai jumpa besok ya." Nindy membalikkan badannya. Gadis itu tersenyum penuh arti. Dia ingin menjadi lebih dekat dengan Marcell melalui kakaknya, pikir Nindy.


***


"Oke, ini latihan terakhir kita. Ingat! Kerja sama Tim saat kita bertanding nanti." ucap Marcell kepada teman-temannya yang akan ikut bertanding besok.


"Siap Cell. Semoga Tim kita bisa menang besok," ucap salah satu temannya.


Marcell menganggukan kepalanya. Kemudian ia membubarkan mereka agar bisa istirahat untuk besok.


Karena hari masih siang, Marcell memutuskan untuk ke bengkel terlebih dahulu. Masih ada waktu hingga sore hari untuk dirinya bekerja. Marcell juga ingin mengambil separuh dari gajinya yang selama ini tak pernah ia ambil.


Marcell berniat untuk mengajak sang istri membeli susu hamil nanti.


Dengan segera, Marcell melajukan motornya menuju bengkel tempat dirinya bekerja setiap hari. Sebetulnya Marcell tak hanya bekerja di bengkel saja. Dia memiliki pekerjaan sampingan lainnya yang tak pernah orang lain ketahui.


Marcell sangat suka sekali membuat design interior. Dan dia juga sudah menjual beberapa designnya kepada beberapa orang yang tertarik dengan design nya.


"Marcell... Kemana saja kamu? Abang sudah menunggumu dari kemarin ini. Lihatlah, banyak sekali motor yang harus di perbaiki. Abang tidak bisa menyelesaikannya sendirian. Eh, kamunya malah ngilang gak ada kabar," cerocos Bang Dito saat melihat kedatangan Marcell.


"Sorry Bang, kemarin Marcell ada urusan keluarga. Maaf tidak sempat mengabari Bang Dito," ucap Marcell terkekeh.

__ADS_1


"Yasudah, sekarang ganti bajumu dan bantu Abang."


"Siap Bang."


Marcell segera mengganti bajunya dan mulai melakukan pekerjaannya.


Tak terasa waktu sudah sore hari. Untungnya Marcell mampu menyelesaikan pekerjaannya. Inilah yang Bang Dito suka dari Marcell. Pria muda yang masih sekolah itu begitu cekatan dan pintar dalam urusan otomotif.


"Sudah selesai Bang. Oh iya Bang. Marcell mau minta separuh dari seluruh gaji Marcell, bisa nggak Bang?"


Bang Dito menautkan kedua alisnya. "Tumbenan kamu mau mengambil gajimu Cell. Apa ada kebutuhan mendesak?"


"Tidak sih, Bang. Marcell hanya ingin menikmati hidup saja, hehehe."


"Abang kira karena kenapa. Ada kok. Abang transfer ke nomor rekening Kamu ya?"


"Oke, Bang. Yasudah, Marcell pulang dulu ya Bang." Marcell buru-buru mengambil tasnya dan menaiki motornya. Rasanya dia sudah tak sabar lagi untuk bertemu dengan istrinya.


"Kenapa itu anak? Biasanya selalu bersikap santai," gumam Bang Dito menggelengkan kepalanya melihat Marcell yang langsung melesat cepat meninggalkan bengkel.


Sesampainya di rumah kontrakan. Marcell langsung bergegas memarkirkan motornya di teras depan.


Ketika pria itu hendak membuka pintu. Pintu itu sudah ada yang membukanya dari dalam dan menampilkan sosok yang sangat cantik tersenyum ke arahnya.


"Kamu sudah pulang, Cell? Ayo masuk, Aku sudah memasak untukmu," ucap Anggi dan langsung menarik lengan suaminya dan mengajaknya masuk.


Marcell tersenyum. Jika biasanya tak ada yang menyambutnya semanis ini, kali ini ada seseorang yang menyambutnya dengan tersenyum begitu manis.


Rasanya Marcell begitu beruntung.


"Kamu memasak, istriku? Masak apa, omelette lagi?" goda Marcell.


"Tidak lah Cell. Masa tiap hari menunya omelette terus. Tadi Aku lihat di om Yusuf banyak menu masakan. Dan Aku mencoba untuk memasaknya."


"Om Yusuf?" tanya Marcell bingung.


"Iya. Ini loh." Anggi memperlihatkan aplikasi ponselnya yang sering ia tonton untuk melihat film drama Korea.


Marcell terkekeh. Sungguh istrinya ini sangat menggemaskan. "Baiklah. Nanti setelah mandi kita makan bersama ya?"


Anggi menganggukkan kepalanya. "Aku juga sudah menyiapkan air hangat untuk kamu mandi Cell."


"Duh pengertiannya istriku." Marcell mengusap lembut rambut sang istri.


Mereka pun berjalan menuju ke kamar dengan bergandengan tangan. Mungkin ini yang di namakan hangatnya pengantin baru.

__ADS_1


__ADS_2