Suami Berondongku

Suami Berondongku
Bab 28


__ADS_3

Malam harinya.


Aku terus mondar-mandir di dalam kamar. Mencoba berpikir keras bagaimana caranya agar Aku tak lagi bertemu dengan Marcell.


Jika pasien yang ku operasi kemarin adalah ibu Marcell. Kemungkinan besar Aku akan terus bertemu dengannya.


Jadi ku putuskan untuk mengambil cuti tahunan ku.


Aku tidak mau jika nantinya Marcell akan mengetahui tentang Shaki. Aku harus menyembunyikan Shaki darinya.


Setelah Aku menelpon kepala rumah sakit untuk mengambil cuti ku, Aku pun membaringkan tubuhku. Aku sedikit merasa tenang karena Aku tidak akan bertemu Marcell untuk beberapa hari ke depan. Aku pun mulai memejamkan mataku melepaskan semua lelahku seharian ini.


***


Pagi ini seperti biasanya. Aku menyiapkan sarapan untuk putriku. Namun bedanya hari ini hari libur Shaki sekolah. Aku pun menjanjikan hari ini untuk mengajaknya ke tempat bermain sekaligus untuk berbelanja persiapan nanti malam. Ya, nanti malam Aku dan putriku akan menghadiri undangan perjamuan dari Tuan William.


"Mama tidak ke lumah cakit?" tanya putriku dengan mulut penuh.


"Sayang, makanya pelan-pelan. Telan dulu baru bicara," tegur ku. Shaki pun buru-buru menelannya kemudian mengambil air minumnya sendiri.


"Cudah, Mama. Jadi Mama akan menemani Chaki bermain?" tanya Shaki. Aku tersenyum mengangguk.


"Holeee... Acik... Mama main cama Chaki...yeee...." Shaki terlihat sangat senang.


Aku tersenyum menatap putriku. Tentu saja pasti Shaki sangat senang. Sudah lama sekali Aku tak ada waktu untuk putri kecilku. Aku janji selama cuti, Aku akan terus menemani putriku.


"Yasudah, kalau begitu sekarang Shaki habiskan sarapan, lalu kita akan segera pergi ke tempat bermain."


"Oke, Mam." Dengan lahapnya Shaki segera menghabiskan sarapan paginya. Aku pun juga segera menghabiskan sarapan ku.


Kami sudah siap untuk berangkat. Shaki terlihat begitu riang. Aku menggandeng tangan mungil putriku untuk memasuki mobil.

__ADS_1


Aku pun segera menjalankan mobil ku menuju ke sebuah mall terdekat. Sepanjang perjalanan Shaki terus saja bernyanyi. Membuat ku begitu bahagia melihat keceriaannya. Untuk sejenak Aku juga melupakan masalah tentang Marcell.


Sampai di mall, Aku membawa Shaki ke tempat bermain. Aku menyuruhnya untuk menunggu ku sembari bermain-main di sana. Sementara Aku akan ke butik sebelahnya untuk membeli pakaian untuk ku dan putriku.


Aku segera kembali setelah mendapatkan apa yang ku cari. Aku mulai mencari Shaki di tempat bermain tersebut. Dari banyaknya anak-anak, Aku tidak menemukan keberadaan putriku.


"Shaki...." Ku panggil namanya agar putriku segera datang padaku. Namun Aku tidak mendapati putriku di manapun.


Aku mulai panik. Aku begitu bodoh. Kenapa tadi Aku tidak mengajak Shaki bersamaku? Aku benar-benar merutuki kebodohanku. Seharusnya Aku tak meninggalkannya.


Aku terus berusaha untuk mencari putriku ke manapun. Bahkan Aku sudah seperti orang gila sekarang. Aku terus memanggil nama putriku, berharap Shaki menyahut panggilan ku.


Shaki, putriku. Kemana Kamu, nak." Aku hampir menangis di buatnya. Hingga suara Shaki melengking memanggil mamaku.


"Mama...!"


Aku segera menoleh ke arah suara. Ku lihat dari kejauhan seseorang sedang menggendong tubuh kecil putriku. Aku memperhatikan dengan seksama.


Aku langsung berlari menghampiri putriku sebelum dia berjalan menghampiri ku.


Segera ku raih Shaki dari gendongan Marcell. Aku tidak ingin Shaki di ambilnya. Aku benar-benar takut. Sangat takut Marcell akan mengambilnya.


"Darimana saja kamu, Nak? Mama hampir gila mencari mu." Ku kecupi kening dan wajah Shaki berkali-kali, lalu pandangan ku beralih pada Marcell yang saat ini tengah menatap kami dalam diam.


"Kenapa Kamu membawa putriku huh!" tanyaku marah padanya.


Namun dia masih diam tak bergeming. Dan beberapa saat kemudian dia pun berkata, "Apa dia...." Marcell menghentikan ucapnya dengan menunjuk pada putriku.


Mengerti akan maksud dari pertanyaannya, Aku pun segera menjawabnya.


"Bukan! Ini adalah putriku, hanya putriku. Sebaiknya Kamu pergi dari sini. Jangan pernah mendekati putriku lagi!" ucapku dingin.

__ADS_1


"Mama. Tadi Paman ini yang cudah menolong Chaki. Tadi Chaki jatuh, telus Chaki nangis."


"Tapi Shaki... Mama sudah bilang, kalau Shaki tidak boleh sembarang mengikuti orang asing." ucapku pada putri ku.


Ku bungkukkan badanku menghadap Marcell. "Terimakasih, Tuan," ucapku sebelum Aku meninggalkannya.


Aku segera membawa Shaki pergi dari sana. Ku harap Marcell tidak menyadari jika Shaki adalah putrinya. Aku pun semakin mempercepat langkah ku agar segera sampai ke mobil.


Sungguh Aku benar-benar sial hari ini. Lagi-lagi Aku bertemu dengan Marcell. Padahal Aku sudah mengambil cuti, namun entah mengapa, Tuhan seolah terus saja mempertemukan kita.


Aku segera menyalakan mesin mobil dan segera melakukannya. Yang ku pikirkan hari ini adalah segera sampai di rumah. Aku merasa panik, takut dan juga cemas. Bahkan rengekan Shaki pun Aku tak mendengarnya. Pikiran ku terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara agar bisa pergi jauh dari Marcell.


***


Sejak siang, Shaki marah padaku. Mungkin karena kejadian tadi pagi. Seharusnya Aku mengajaknya bermain hingga puas. Namun karena kehadiran pria itu, membuat rasa takutku akan kehilangan Shaki semakin mencuat. Hingga Aku mengabaikan rengekan putriku sejak tadi.


Jika sudah begini, Aku harus membujuknya agar Shaki tak lagi marah lagi.


"Sayang, mau tidak bertemu dengan seorang teman?" tanyaku. Gadis kecilku sedikit melirik kearah ku. Dia masih tak menjawab pertanyaan dariku.


"Eumm... Kira-kira bagaimana ya kabar Clara sekarang?" Ku lirik Shaki yang sedikit mulai antusias dan menatap ke arah ku.


Kembali ku ucapkan sesuatu hingga akhirnya putriku pun mau menanggapi ucapan ku.


"Mau tidak bertemu dengannya?"


"Mau Mam, Chaki mau beltemu cama Clala."


***


Lagi healing ya, up nya besok lg 🤭

__ADS_1


__ADS_2