Suami Berondongku

Suami Berondongku
Bab 36


__ADS_3

"Mama, kenapa Papa di tinggal?"


Pertanyaan Shaki membuat ku menatapnya. Tidak mungkin Aku mengatakan yang sebenarnya pada putriku. Lagipula dia juga masih kecil. Belum mengerti apa masalah orang dewasa.


Aku tersenyum menanggapinya. Kemudian ku kecup pipi Shaki. "Papa sedang ada urusan pekerjaan, Sayang. Jadi kita harus kembali lebih dulu." jawabku.


Shaki tampak menganggukkan kepalanya. Lalu datang lagi sebuah pertanyaan lain yang keluar dari bibir mungilnya.


"Telus tadi ciapa , Ma? Tenapa Auntie tadi malah-malah cama Papa?"


Aku terdiam sejenak memikirkan jawabannya. Sepertinya anak seusia Shaki memang memasuki masa keinginan tahuan yang tinggi. Jadi Aku harus memikirkan terlebih dahulu perkataan yang keluar dari mulutku ini.


"Tadi itu atasan Papa, Sayang. Papa belum menyelesaikan pekerjaannya, jadi atasan Papa marah sama Papa."


"Jadi Papa halus kelja lagi ya, Ma? Ya cudah deh, kita pulang lebih dulu," ucap Shaki. Aku merasa lega akhirnya dia mengerti.


Kebetulan ku lihat taksi sedang melintas. Aku pun menghentikan taksi tersebut. Ini adalah kesempatanku untuk pergi darinya. Ya, Aku harus pergi dari kehidupan Marcell. Aku sudah bersalah karena menjadi perusak rumah tangganya.


"Taksi!" seruku. Taksi itu pun berhenti tepat di depan ku. Ku buka pintu mobil taksi tersebut. Namun aku terkejut ketika sebuah tangan mencekal ku.


Ku tatap siapa dia. Ternyata dia adalah Marcell.


Aku menatapnya tajam. Kenapa pria ini malah meninggalkan istrinya dan kesini? Aku tidak tahu dengan pemikiran Marcell. Yang jelas Aku tidak ingin lagi masuk kedalam rumah tangga Marcell juga istrinya.

__ADS_1


"Mau kemana kalian?" tanya Marcell dengan tatapan dingin.


"Lepaskan Aku, Cell! Aku dan Shaki seharusnya pergi dari hidupmu. Aku tidak ingin menjadi duri dalam pernikahanmu. Biarkan kami pergi!"


"Tidak ada yang boleh pergi!" Marcell terlihat sangat marah. Tak pernah ku lihat dia semarah itu.


Marcell menarik pergelangan tanganku menuju ke mobilnya. Aku tak bisa melawan karena Aku kalah tenaga darinya. Dan sampailah kami di mobil Marcell lagi. Dia mengemudikan mobilnya dengan segera.


Kenapa? Kenapa Sulit sekali lepas dari Marcell? Aku bahkan malas menatapnya. Pria ini membuatku menjadi tersudutkan saat ini.


"Papa kenapa tidak kelja saja? Nanti tadi malah-malah lagi cama Papa," ucap Shaki melebur keheningan.


Aku sedikit melirik kearah Marcell. Pria itu tersenyum pada Shaki serta mengacak sedikit rambutnya.


"Papa tidak mau kerja. Papa mau sama Mama dan Shaki saja," ucap Marcell.


Mereka mengobrol sepanjang perjalanan. Sementara Aku hanya diam dan tersenyum ketika Shaki bertanya kepadaku. Hingga tak terasa kami sudah sampai di rumah Marcell yang kemarin kami tinggali.


Shaki di gendong Marcell menuju ke dalam. Sementara Aku mengikuti mereka dari belakang. Rasanya Aku enggan untuk memasuki rumah ini. Aku seperti selingkuhan yang di sembunyikan oleh Marcell.


Ingin menangis Aku rasanya. Dalam hidupku, Aku tidak pernah menjadi wanita yang serendah ini. Namun Aku juga sulit untuk pergi karena Marcell membuatku terpenjara.


Marcell memasuki kamar Shaki. Tadi dia mengatakan akan memandikan putrinya.

__ADS_1


Aku pun memutuskan untuk melepas penat dengan merendam tubuh ku. Mumpung Marcell berada bersama Shaki, Aku ingin menenangkan pikiran ku dengan berendam air hangat.


***


Aku keluar dari bathroom setelah menyelesaikan ritual mandi ku. Aku terkejut tatkala ku lihat Marcell yang sudah berada di dalam kamar. Untungnya tadi Aku membawa baju ganti ku. Jadi Aku aman.


Ku lihat Marcell menatap ke arah ku. Namun Aku bersikap acuh padanya. Aku berpura-pura tak melihatnya di kamar ini.


Aku mendudukkan diri di depan cermin rias. Dari cermin, ku lihat Marcell yang datang ke arahku. Jantungku berdegup dengan begitu kencang. Mau apa lagi dia?!


Aku menelan susah salivaku ketika ku rasakan tangan Marcell yang memelukku dari belakang. Seketika bayangan Marcell dan keluarganya menari-nari dalam pelupuk mata.


Aku memberontak minta di lepaskan. Tak mau Aku terjatuh dalam jerat Marcell.


"Lepaskan Aku, Marcell!" Dengan sekuat tenaga, Aku mencoba melepaskan pelukannya.


"Please! Biarkan Aku menikmati memeluk mu, Sayang. Aku sangat merindukanmu. Merindukan semua tentangmu." Suara Marcell terdengar begitu sendu. Membuat ku akhirnya membiarkannya memelukku. Selalu saja tubuh ini luluh padanya.


"Tolong jangan berpikir untuk pergi lagi dariku, Sayang. Aku tidak tahu lagi bagaimana diriku nanti jika sampai Kamu pergi meninggalkan ku." Marcell menyenderkan kepalanya di pundak ku. Aku masih diam tak bergeming.


"Ck... Kamu menyuruh ku untuk tidak meninggalkanmu. Tapi bukankah Kamu sendiri yang menyuruhku untuk pergi waktu itu? Kamu ini mau ngelawak atau apa?"


***

__ADS_1


selanjutnya akan masuk POV Marcell yak🥰


selanjutnya akan othor tamatkan 🙏 ya 😁


__ADS_2