Suami Berondongku

Suami Berondongku
Bab 20


__ADS_3

Satu Minggu berlalu.


Anggi masih dalam suasana berkabung atas penemuan identifikasi milik papanya yang menjadi korban dalam kecelakaan pesawat.


Anggi sangat terpukul dengan semua itu. Dia masih tak percaya jika Papa Gibran meninggalkannya secepat itu.


Yang dia punya saat ini hanyalah suaminya. Bahkan pengacara sang Papa mengatakan jika perusahaan Papanya di nyatakan telah bangkrut. Dan masih punya tanggungan untuk membayar gaji para karyawan.


Anggi memutuskan untuk menjual seluruh aset-aset Papanya untuk bisa melunasi pembayaran gaji karyawannya, termasuk menjual rumah peninggalan Papanya.


Sementara Marcell terus saja menguatkan istrinya. Sejujurnya dia merasa sangat bersalah karena semua ini terjadi di sebabkan oleh Ayahnya.


Namun dia enggan untuk mengatakannya kepada Anggi. Marcell takut jika nantinya Anggi akan membencinya.


***


Setelah Anggi sudah mulai menerima kenyataan hidupnya. Kini semua sudah berjalan pada hal sebelumnya.


Anggi menjadi istri yang baik dengan menyiapkan segala keperluan sang suami.


Seperti hari ini. Anggi membuat bekal makanan untuk Marcell bawa ke kampus. Dia tidak ingin suaminya jajan sembarangan. Selain itu, dia harus bisa lebih irit lagi.


"Sayang, jangan lupa di makan ya?"


"Pasti, Sayang. Aku pasti akan memakan apapun yang kamu buat. Baik-baik di rumah ya? Aku berangkat kuliah dulu," jawab Marcell mengecup kening Anggi.


Setelah itu, Anggi mengantar suaminya sampai halaman depan. Baru setelah Marcell pergi, dirinya baru masuk ke dalam.


Siang hari di kampus, ketika Marcell hendak menyantap makanannya di kantin, ponselnya berdering. Nama sang istri tertera di layar ponselnya.


"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya Marcell. Namun bukan suara sang istri yang ia dengar.


"Maaf, Saya hanya menghubungi nomor terakhir yang di hubungi oleh pemilik ponsel ini. Pemilik ponsel sedang mengalami kecelakaan saat di jalan K. Jadi sekarang kami membawanya ke rumah sakit terdekat untuk segera di tangani."

__ADS_1


Tubuh pria itu tercekat. Marcell tak dapat berkata apapun lagi. Dia langsung pergi ke tempat di mana sang istri berada.


Di sela perjalanannya, Marcell terus menerus menyalahkan dirinya sendiri. Di merasa tak mampu melindungi sang istri. Dan saat ini dia yakin jika ini adalah ulah dari ayahnya.


Marcell tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri kalau sampai terjadi apa-apa dengan sang istri.


Tak lama Marcell pun sampai di rumah sakit yang diarahkan oleh orang yang menelponnya tadi. Dia memarkirkan motornya secara asal dan langsung berlari mencari di mana istrinya dirawat.


Saat ini Anggi masih berada di ruang UGD dan masih ditangani.


Marcel melihat ada dua orang yang tengah berada di depan pintu ruang UGD dan segera menghampirinya.


"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Marcell.


Kedua orang itu saling menatap kemudian mereka kembali menatap ke arah Marcell.


"Apa anda seseorang yang saya telepon tadi? Jadi anda suami dari gadis yang sedang ditangani di dalam?" tanya balik salah seorang pria tersebut.


Kedua orang itu menghembuskan nafas panjang. Lalu mereka menceritakan secara detail Apa yang terjadi di jalan K ketika sang istri ditabrak lari.


Rahang Marcel semakin mengeras kala mendengar semua penuturan dari dua orang tak dikenal itu.


Sudah dipastikan itu pasti ayahnya atau mungkin orang suruhan ayahnya.


Kedua pria itu pun segera menyerahkan barang milik Anggi kepada Marcell dan berpamit pulang setelah Marcel mengucapkan terima kasih kepada mereka.


Tak berapa lama kemudian dokter pun keluar dari UGD.


"Dengan keluarga pasien?"


"Ya, saya suaminya dok. Bagaimana kondisi istri saya?"


Sejenak dokter mengerutkan keningnya. Pasien di dalam masih sangat muda, namun pria yang mengaku suaminya itu terlihat lebih muda lagi dari pasien di dalam. Namun sang dokter tak mau berpikir lebih jauh lagi.

__ADS_1


"Kondisi pasien sudah baik. Untung saja dia cepat dibawa ke rumah sakit. Jadi segera mendapatkan perawatan. Dan kondisi janin juga kuat. Kami akan memindahkan istri anda ke ruangan intensif."


Marcell merasa lega. "Terima kasih Dokter. Apa saya boleh menemui istri saya?"


"Silakan. Anda bisa menemuinya di ruangan intensif nanti setelah suster membawa pasien ke sana."


"Baik dokter. Terima kasih," ucap Marcell dianggap oleh dokter.


***


"Sayang maafkan aku. Kamu harus melalui seperti ini karena kelalaianku sebagai suami yang tidak becus melindungi istrinya," ucap Marcel penuh sesal seraya mencium punggung tangan sang istri.


Sementara Anggi masih setia dengan memejamkan matanya. Gadis itu belum sadar.


Ponsel Marcel berdering. Dia perlahan meletakkan tangan sama istri kemudian keluar dari ruangan itu untuk menerima panggilan dari ponselnya.


Lagi-lagi nama seseorang yang dia benci yang tertera pada layar ponselnya. Marcell segera mengangkatnya dengan rahang yang sudah mengetat.


"Apa mau mu huh! Tidak puaskah kau sudah membuat istriku kehilangan Papanya? Dan aku tahu jika kau juga yang sudah mencelakai istriku!"


"Hahaha... Anak pintar. Kau sudah tahu betul bagaimana watak ayahmu ini. Sekarang tinggal kau memilih. Apakah kau mau menuruti ayahmu ini, atau kau melihat orang yang kau cintai itu habis di tanganku!"


Marcell dengan kuat mengepalkan tangannya hingga buku-buku tangannya pun memutih. Dia sudah benar-benar ditahap yang sangat-sangat marah saat ini. Dan pelaku pemicu kemarahan itu adalah ayahnya sendiri.


"Sekali lagi Kamu berani menyentuh sedikit saja kulit istriku, maka aku tidak akan segan-segan untuk membuatmu menyesal seumur hidup. Pers.etan dengan hubungan darah di antara kita!"


"Sebelum itu kau lakukan, aku yang akan lebih dulu membuat istrimu pergi selama-lamanya dari hidupmu. Sekarang kau tinggal pilih. Menuruti kemauanku dengan menikahi gadis yang kupilihkan untukmu, atau kau melihat istrimu hilang nyawa di tanganku. Aku yakin kau tahu bagaimana watak dari ayahmu ini. Bagaimana semua keinginanku terwujud kau pun sendiri mengetahuinya. Jadi tentukan pilihanmu sebelum besok." Ponsel dimatikan sepihak oleh Marcell.


Rasanya saat ini dia benar-benar tidak tahu lagi mau berbuat apa. Dia tahu betul apa Yang Ayahnya katakan itu tidak main-main.


Di satu sisi dia tidak ingin berpisah dengan sang istri. Namun di sisi lain dia juga tidak ingin terjadi sesuatu kepada istrinya Jika dia terus memaksakan diri untuk terus bersamanya.


Rasa dilema mulai menyerang pria itu.

__ADS_1


__ADS_2