Suami Berondongku

Suami Berondongku
Bab 9


__ADS_3

"Marcell. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku sebenarnya. Tapi Aku ingin tidur di peluk olehmu. Dan...."


"Dan apa Kak?"


"Aku menginginkannya. Aku ingin Kau menyentuh ku seperti waktu itu. Mungkin Aku melanggar ucapan ku sendiri. Tapi Aku rasanya tak bisa mencegah perasaan ini yang semakin ku tekan, maka akan semakin membuncah," lanjut Anggi.


Setelah ciuman panas tadi, Anggi akhirnya mengungkapkan Apa yang ada di hatinya. Berulang kali dia berpikir jika dia tidak boleh melanggar ucapnya sendiri.


Namun tubuhnya tak bisa bersekongkol dengan hatinya. Pertahanannya akhirnya roboh.


Mendengar ucapan sang istri, Marcell pun menyunggingkan senyumnya.


"Kak Anggi tahu? Aku pasti akan menuruti semua kemauan kakak asalkan Aku dapat memenuhinya. Dan untuk permintaan kakak kali ini. Aku sangat sanggup untuk mengabulkannya," ucap Marcell sebelum dia menerjang tubuh sang istri dengan rakusnya.


Rasanya Marcell begitu candu dengan tubuh Anggi. Tidak tahu saja jika dirinya mati-matian menahan gejolak libidonya karena tak ingin mengecewakan Anggi.


Dan kini malah sang istri sendiri yang memintanya. Jelas saja, tanpa ba-bi-bu lagi Marcell langsung menyergapnya.


Namun baru setengah jalan. Bahkan kain yang melekat pada tubuh Anggi baru separuhnya teronggok di lantai, Marcell kembali menghentikan aktivitasnya. Membuat gadis itu rasanya begitu kecewa.

__ADS_1


"Kenapa berhenti Cell?" tanya Anggi dengan mimik wajah yang menahan gejolak gairah.


"Apakah tidak berbahaya Kak? Kan di perut kakak ada calon debay nya," ucap Marcell.


Anggi tersenyum. Tentu saja dia tahu sedikit tentang masalah kandungan. Dia mengambil bidang kedokteran dalam kuliahnya.


"Cell, selama ini Aku tidak pernah mengalami yang namanya sakit perut/kontraksi. Jadi jika kita melakukannya dengan pelan dan hati-hati, tidak akan apa-apa," ucap Anggi dengan pandangan yang sudah berkabut.


"Baiklah, Marcell akan melakukannya dengan pelan," ucapnya sebelum kembali menggarap tubuh sang istri.


Dan akhirnya mereka kembali melakukannya. Menyelami surga duniawi secara nyata. Membuat keduanya saling meneguk kenikmatan yang hakiki.


Setelah pergulatan panas terjadi, keduanya saling memeluk seakan tak ada yang ingin menjauh.


"Yasudah, kalau begitu Aku siapkan baju dan sarapan mu Cell."


Marcell mengerutkan keningnya. "Memangnya Kak Anggi sudah bisa memasak?"


"Jangan ngeremehin Aku ya Cell. Aku tuh mudah bisa melakukan suatu hal hanya dengan melihat sekali saja. Jadi Aku bisa masakin kamu seperti yang Kamu masak kemarin,"

__ADS_1


Marcell sedikit ragu. Namun dia mengiyakan saja ucapan istrinya itu.


"Oh iya Cell, bisa tidak kalau Kau jangan memanggilku kakak. Kesannya Aku jadi kelihatan tua."


"Lah, bukannya memang usia Kak Anggi memang lebih tua dari Marcell?" ucap Marcell sedikit menggoda.


Sejujurnya memang Anggi tak terlihat lebih tua dari Marcell. Wajahnya malah terlihat seperti anak SMA seumuran dengan Marcell.


Anggi mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Marcell. "Pokoknya terserah kamu mau manggil Aku Apa Cell. Yang penting jangan kakak."


Sementara Marcell tersenyum melihat sang istri mengerucutkan bibirnya. Semua itu membuat Marcell begitu gemas. Ingin sekali rasanya Marcel mengulang pergulatan panas di antara keduanya barusan.


Marcell mendekatkan wajahnya ke wajah Anggi hingga membuat Anggi gelagapan. Jantungnya berirama tak menentu.


Cup...


Marcell mencium bibir Anggi sekilas. Membuat sang empunya terkejut sekaligus tersipu.


"Kalau begitu Aku akan memanggil istriku saja. Istri manis ku," ucap Marcell tepat berada di dekat telinga Anggi.

__ADS_1


Duh rasanya jika Anggi sebuah ice cream, pasti saat ini dia sudah meleleh bersamaan dengan ucapan Marcell yang begitu manis menurutnya.


Namun tiba-tiba Anggi jadi berpikir, mungkinkah Marcell juga bersikap semanis ini kepada seseorang yang dia cintai?


__ADS_2