
Masa ospek telah berakhir. Marcel sudah menggunakan pakaian normal seperti biasanya.
Anggi masih pergi ke kampus untuk menyelesaikan proses kelulusan yang akan diadakan suatu bulan lagi terhitung sejak sekarang.
Marcell mengiriminya pesan saat Anggi sedang bersama para sahabatnya. Dia ingin bertemu dengan sang istri. Dalam pesan itu Marcell mengatakan jika ia sangat merindukannya.
Sungguh aneh bukan? Padahal mereka baru saja berpisah ketika berada di parkiran tadi pagi.
Membaca pesan dari Marcell membuat Anggi memutar bola matanya jengah. Tapi jujur dirinya juga ingin bertemu dengan suaminya.
Mereka bertemu secara diam-diam ke taman belakang kampus. Kebetulan di sana sering sepi.
"Sayang, Aku kangen," ucap Marcell langsung memeluk Anggi.
Anggi panik. Dia takut ada yang melihat mereka. Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. Aman.
"Aku juga. Tapi tumben kamu bilang kangen? Bukannya sebelumnya kamu tak seperti ini Yang?"
"Aku juga bingung Yang. Sebelumnya Aku bisa menahannya ketika sampai di rumah. Tapi hari ini rasanya Aku ingin terus memelukmu sepanjang hari," ucap Marcell.
"Tapi nanti jika ada yang melihatnya gimana dong?"
"Aku tidak peduli. Pokoknya Aku mau meluk istriku sepanjang hari ini," ucap Marcell.
Suara langkah kaki membuat Anggi waspada. Dia lalu menarik Marcell ke gudang yang ada di dekat sana.
"Loh, kok nggak ada sih? Bukannya tadi Aku lihat Marcell ke sini ya?" Tampak Nindy menggaruk tengkuknya karena tak melihat siapapun di taman belakang.
Sementara di dalam gudang, Anggi mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Untungnya dia cepat menarik suaminya ke sana.
Marcell masih tak melepaskannya. Kali ini Marcell memeluk Anggi dari belakang. Bibirnya terus saja menciumi leher sang istri hingga membuatnya geli. Alhasil, tanpa sengaja tangan Anggi menyenggol sesuatu yang mengakibatkan sebuah benda terjatuh dengan begitu keras.
Bruuk...!
"Apa itu?" Nindy terkejut mendengar suara benda terjatuh dari arah gudang. Bukannya melihatnya, Nindy malah lari karena ketakutan. Dia berpikir mungkin itu adalah hantu penunggu kampus ini.
"Cell, Apa yang kamu lakukan? Ng...." Sekuat tenaga Anggi menahan agar tak mengeluarkan suaranya yang sejak tadi ia tahan.
Marcell terus saja menciumi leher Anggi, membuat gelenyar aneh menjalari tubuh Anggi saat ini.
Tak hanya itu. Tangan Marcell bahkan sudah bergerilya kemana-mana. Kali ini dia memainkan dua benda kenyal yang selalu menjadi mainannya.
"Ahh... Cell, hen...ti...kan...." Anggi mengeluarkan suara de..sahan yang membuat Marcell malah semakin gencar menggarapnya.
"Aku menginginkannya saat ini," ucap Marcell dengan suara beratnya.
__ADS_1
"Tapi... Ini bukan tem...pat yang tep...at Cell... aahh...."
"Percaya padaku, Sayang," ucap Marcell dan langsung mendorong Anggi menuju tembok dengan pelan. Kedua bibir masih bertaut.
Kini tangan Marcell mulai menyingkap rok milik sang istri dan melepaskan Cd-nya. Pelan, dia me.ra.ba milik Anggi yang ternyata sudah ba.sah.
Masih tak melepaskan pagutannya. Marcell pun mulai mengeluarkan miliknya yang sedari tadi sudah mengeras.
"Aku masuk, Sayang," ucap Marcell. Namun Anggi tak menjawabnya. Anggi terlalu terbuai dengan sentuhan-sentuhan suaminya.
Skip
Skip
ðŸ¤
***
Anggi bersemu merah saat mengingat kejadian siang ini yang suaminya dan dirinya lakukan di gudang kampus.
Sungguh ia tak pernah mengira akan melakukan hal yang seperti itu.
"Kamu kenapa sih Nggie, kok senyum-senyum sendiri setelah dari toilet? Jangan-jangan Kamu kesambet hantu toilet?" tanya Sena bergidik ngeri.
Karin yang melihatnya pun ikut begidik ngeri, kala Anggi tak merespon pertanyaan dari Sena.
"Sen, sepertinya Anggi beneran kesambet deh."
Sena menganggukkan kepalanya. Keduanya saling melirik satu sama lain. Kemudian mereka berdua mengambil ancang-ancang dan berlari meninggalkan Anggi.
Anggi yang tersadar dan melihat kedua sahabatnya berlari pun dengan cepat memanggil mereka.
"Eh, kalian mau kemana?!" seru Anggi. Namun kedua sahabatnya tak ada niatan untuk berhenti. Mereka malah ketakutan setengah mati kala melihat Anggi mengejar mereka.
"Nyebelin banget sih. Dasar kalian sahabat laknat!" kesal Anggi.
***
Tak terasa satu bulan telah berlalu. Kini usia kehamilan Anggi sudah memasuki bulan ke tiga. Anggi dan Marcell benar-benar sangat menjaga kandungannya.
Hari ini tiba saatnya wisuda Anggi. Sebelumnya Anggi merasa sering mual beberapa hari ini. Tapi dia tak ingin kehilangan momen berharga dalam hidupnya.
Marcell terus saja memperhatikan Anggi. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan istrinya itu. Tak terkecuali Papa Gibran. Keduanya benar-benar menjaga Anggi.
Dan beruntung, hari ini berjalan begitu lancar. Papa mengajak Anggi pulang karena Anggi terlihat sedikit pucat.
__ADS_1
"Papa antar kalian pulang ya? Papa khawatir jika kalian pulang sendirian," ucap Papa.
Marcell menyetujuinya. "Tunggu Marcell sebentar, Pa. Marcell harus ke toilet sebentar," pamit Marcell.
Papa hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobil bersama Anggi. Mereka menunggu Marcell di mobil.
Setelah keluar dari toilet, Marcell berjalan menuju ke parkiran. Namun langkahnya terhenti kala mendengar seseorang memanggilnya.
"Kak Marcell."
Suara yang begitu familiar di telinga Marcell. Pria itu kemudian berbalik menatap ke arah suara.
Marcell terkejut melihat seorang gadis yang tersenyum manis ke arahnya. Namun beberapa detik kemudian, dia mampu menyembunyikan keterkejutannya.
Gadis itu berlari menghampiri Marcell yang masih menatapnya. Tanpa permisi gadis itu pun memeluk tubuh Marcell dengan tak tahu malunya.
"Kak Marcell, sungguh ini benar-benar kamu. Asya rindu sama Kak Marcell," ucap gadis itu begitu dalam.
Marcell terdiam. Pikirannya kembali ke beberapa tahun lalu ketika gadis yang memeluknya itu mengatakan jika dia menyukainya.
Dan Marcell pun waktu itu juga memiliki perasaan yang sama kepada gadis yang memeluknya. Cinta masa lalu.
Tapi, bukankah itu hanya masalalu bukan? Masa depan Marcell adalah Anggi.
Otak waras Marcell membuat remaja itu segera melepaskan pelukan gadis itu.
"Kak, kenapa? Apa Kak Marcell tidak merindukan Asya?" Gadis itu tampak kecewa saat Marcell melepaskan pelukannya.
Tak menjawab, Marcell malah bertanya.
"Bagaimana Kamu bisa berada di sini Sya? Bukannya Kau sedang berada di Australia?"
Gadis itu tersenyum manis menatap Marcell. "Asya pindah ke sini Kak. Dan Aku juga pindah kuliah di sini," jawab gadis cantik yang tak berhenti menampilkan senyum manisnya pada Marcell.
Marcell teringat jika Papa Gibran dan istrinya pasti tengah menunggunya saat ini. Jadi ia pun buru-buru untuk pergi dari sana.
"Maaf Sya, tapi Aku harus pergi." Marcell langsung melangkah dan pergi dari sana.
"Kak Marcell, tunggu!" Asya hendak mengejar Marcell. Namun seorang pria paruh baya memanggilnya.
"Asya. Apa Kau sungguh tak ingin melanjutkan kuliah mu di sini? Kalau begitu kita cari universitas yang lainnya lagi."
"Tidak, Pa. Aku mau kuliah di sini saja. Asya menyukai kampus ini," ucap Asya.
***
__ADS_1