Suami Berondongku

Suami Berondongku
Bab 31


__ADS_3

Marcell melepaskan ciumannya ketika nafasku hampir habis. Aku terengah-engah menghirup udara. Aku langsung menatap Marcell dengan tajam.


"Kamu gila, Marcell! Mau membunuh ku ya?!" ucapku kesal.


Namun tak serta merta pria itu pergi. Marcell malah semakin menindih tubuhku serta memberikan ciuman di leherku, membuat gelenyar aneh menjalari seluruh tubuhku.


Hatiku menjerit ingin menolak semua perlakuan Marcell pada tubuh ku. Namun tubuhku berkata lain. Tubuhku malah menerima dengan baik setiap sentuhan Marcell yang membuat otakku seakan lumpuh.


"Aaahhh... Cell...."


Sial! Aku sungguh mengutuk diriku sendiri karena mengeluarkan suara laknat itu.


Seberapa keras Aku ingin menolak, namun tubuhku menjadi pengkhianat atas hatiku. Tubuhku begitu menikmatinya.


"Aku sangat merindukanmu, Sayang. Sekian lama Aku menunggu untuk pertemuan ini. Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi," ucap Marcell dengan suara seraknya. Tatapannya semakin berkabut.


Hingga bibirnya kembali menempel pada bibir ku. Bahkan li.dahnya sudah menerobos masuk kedalam mulutku, menari-nari dan menggoda li.dahku untuk mengikutinya.


Bodohnya Aku terbuai. Tanpa terasa li.dahku ikut menari-nari kemudian saling membelit satu sama lain. Berkali-kali Aku ingin menolak, namun tubuh ku terus saja merespon dan begitu menikmatinya.


Aku terus menyerukan nama Marcell. Kulihat dia tersenyum kala ku terus menyerukan namanya.


Ciuman itu terus saja menuntut. Menuntunku untuk mengikutinya hingga gairah dalam hati terus saja menguar.


Aku kalah. Aku tak bisa menolaknya. Ciuman dan sentuhan pria ini selalu saja memabukkan ku. Membawa ku menuju ke awang-awang menuju nirwana.


Hingga Aku tak sadar jika saat ini tubuh kami sudah polos satu sama lain. Entah kapan Marcell melepaskannya, Aku sampai tak sadar saking terbuainya.


"Sayang... Aku akan melakukannya sekarang," ucapnya parau.


Aku diam tak menjawabnya. Aku terlalu terbuai akan nikmat yang hakiki. Marcell memang sangat pandai menggarap tubuh ku.


Kurasakan sesuatu yang begitu keras mulai menerobos masuk kedalam milikku di bawah sana. Aku memekik, menahan rasa sakit sekaligus perih. Mungkin karena lama sekali Aku tak melakukan hal ini.


Aku hanya melakukan hal ini dengan Marcell dulu. Dan sekarang, Aku pun kembali melakukan hal ini dengannya.


Tubuh kami saling bersentuhan. Bibir kami saling mencecap, lidah membelit serta Marcell memompa tubuhnya dengan ritme yang begitu pelan namun juga lembut. Menimbulkan getaran hebat dari tubuh ku. Marcell membelenggu tubuh ku dan menggarapnya dengan begitu lihainya.


Entah Aku sudah mengalami pelepasan yang ke berapa kalinya, Aku tak dapat menghitungnya lagi.


Bahkan dengan tindakan yang Marcell lakukan saat ini membuat ku benar-benar menggila. Tubuhnya yang dulu mulai berotot, kini semakin berotot dan berisi. Perut sixpack nya membuat ku benar-benar menelan ludah ku. Dia menjadi pria yang begitu sempurna.


Semakin lama, Marcell semakin mempercepat ritmenya. Membuat ku tak dapat mengontrol suara-suara yang keluar dari mulut ku. Aku mend.esah, menger.ang dan mel.enguh. seluruh tubuh Marcell bekerja dengan sempurna.


Aku mencoba untuk membuka mataku. Sehingga mata kami saling bertemu dan saling menatap dalam kabut gairah yang memuncak.


Aku memeluk tubuhnya erat kala ku rasakan sesuatu dalam diriku yang serasa ingin meledak dengan begitu dahsyatnya.


"Kita keluarkan bersama-sama, saya...ang...." ucapnya dan semakin cepat menghujam milikku. Hingga tubuh kami pun menegang seiring ledakan di antara kami yang datang bersamaan. Tubuhku seolah lepas dari raganya. Aku tak lagi bertenaga. Sementara Marcell masih saja mengecupi wajahku berkali-kali, kemudian membaringkan tubuhnya di samping ku dan menarikku kedalam pelukannya.


***


Pagi harinya.

__ADS_1


Aku terbangun tatkala merasa sebuah sentuhan di pipiku. Ku buka mataku. Aku terkejut ketika melihat Marcell yang tersenyum manis menatap ku.


Seketika ingatanku tentang kejadian semalam langsung menari-nari dalam benakku. Aku terbelalak.


Ku tatap tubuh ku yang saat ini polos. Aku terkejut. Saat ini Marcell memandangi ku. Langsung saja ku raih selimut dan menggulungkan pada tubuh ku. Aku begitu malu.


Dalam hati Aku terus merutuki diriku sendiri dengan yang ku lakukan semalam. Bisa-bisanya Aku menghabiskan malam dengan suami orang. Walaupun semalam Aku begitu menikmatinya, namun sekarang Aku menyesal. Aku sudah menjadi orang ketiga dalam pernikahan orang lain.


Ku lihat Marcell yang saat ini malah terkekeh menatap ku.


"Sayang. Aku sudah melihat semuanya tubuhmu. Kenapa Kamu tutupi?" ucapnya tanpa tahu malu.


"Marcell keluar! Aku mau ganti baju," ucapku malu. Pria itu terus saja memandangiku.


"Yasudah, ganti baju saja," ucap Marcell dengan entengnya.


Dasar pria mesum! Kamu seperti ini padaku, Apa kamu tidak takut jika istrimu tahu?!


Ngomong-ngomong soal istri, kemana istri Marcell? Kenapa semalam Aku tak melihat istrinya? Dan Shaki, dimana putriku. Sial! Karena pria ini, Aku sampai melupakan segalanya.


"Dimana Shaki. Aku mau putriku, Marcell!"


"Kamu tenang saja, Sayang. Putri kita sedang menyantap sarapannya di bawah. Aku sudah memanggil beberapa pelayan dan juga pengasuh untuk Shaki."


Aku kembali terbelalak. Marcell selalu berbuat sesuka hatinya. Kenapa dia menjadi sangat menyebalkan sekarang. Berbeda dengan dirinya dulu yang begitu manis.


"Tuan Marcell! Kenapa Kamu berbuat sesukamu. Dia putriku, jadi Aku yang berhak menentukan semuanya yang terbaik untuknya. Kenapa Kamu terlalu mencampuri urusanku? Bisakah Kamu urusi saja urusanmu. Kamu urus saja istri kamu atau mungkin anak Kamu yang lain," ucapku dan langsung membuat Marcell menatap ku penuh arti.


"K-kau mau apa...?"


"Menurutmu?" Marcell tersenyum misteri. Aku semakin takut jika dia akan menerjang ku lagi.


Namun dia malah menarikku dan membawaku kedalam pelukannya.


"Panggil Aku 'Sayang' ," ucapnya penuh penekanan.


"Tidak mau!"


"Kalau begitu Aku akan mengambil Shaki dan tidak akan mengizinkanmu untuk bertemu dengannya," ancam Marcell.


Ancaman itu sukses membuat ku ketakutan. "Kamu licik, Marcell!" ucapku marah.


"Aku tidak perduli. Mulai sekarang, kita akan tinggal di sini. Aku akan mengirimkan beberapa pengawal untuk menjagamu dan Shaki agar kamu tidak kabur nanti. Cup...." Marcell mencium bibirku sekilas.


"Kenapa Kamu egois, Cell? Kamu mau memperlakukan ku seperti tahan? Dan tak sepantasnya kita melakukan hal seperti ini. Ini salah, Cell."


Marcell malah mengerutkan keningnya.


"Memangnya apa yang salah? Kita melakukannya dengan sadar. Aku mencintaimu dan Aku juga yakin kamu mencintaiku. Kita akan hidup bahagia selamanya," ucap Marcell membuatku semakin kesal saja.


Bagaimana mungkin kehidupan perselingkuhan bisa bahagia selamanya? Kami memang pernah menjadi pasangan suami istri dahulu. Tapi Aku yakin Marcell pasti sudah menceraikan ku ketika dia menikahi gadis yang di cintainya waktu itu.


"Aku bukan mainanmu. Sebaiknya Kamu lepaskan saja kami, Cell. Kita lupakan yang terjadi semalam." ucap ku membuat Marcell terdiam.

__ADS_1


Sementara Aku merasa ini seperti Dejavu. Dulu sepertinya Aku pernah mengatakan hal seperti ini.


Tapi kali ini berbeda. Sekarang Marcell sudah memiliki istri. Atau bahkan mungkin dia juga sudah memiliki anak.


Memikirkan hal itu membuat hariku terasa sakit.


Di tengah keterdiaman kami. Kudengar suara ketukan pintu yang mengejutkanku.


"Mama... Papa... Chaki sudah siap berangkat ke sekolah!" seru Shaki dari luar.


Aku menatap Marcell. Tubuh ku masih polos. Tak mungkin Aku membuka pintu kamar ini. Namun Marcell seolah tahu. Dia tersenyum dan menyuruh ku untuk ke dalam kamar mandi. Sementara dia berjalan menuju pintu kamar.


Ketika Marcell berbalik badan berjalan menuju pintu, Aku langsung beringsut menuju ke kamar mandi dengan cepat.


Segera ku bersihkan tubuh ku dari sisa-sisa percintaan semalaman. Dari kaca besar yang terdapat di kamar mandi, ku lihat tubuh ku yang penuh dengan tanda merah pemberian dari Marcell.


Aku menghela nafas panjang. Ini salah. Ya, ini salah. Berkali-kali Aku mengatakan itu. Seharusnya Marcell tak melakukan ini.


***


Ketika Aku keluar dari kamar mandi. Aku lupa jika Aku tidak mempunyai baju ganti. Aku memutuskan untuk mencari pakaian yang bisa di pakai untuk ku.


Namun Aku tak melihat ada sebuah lemari di dalam kamar ini. Aku hanya melihat ada sebuah pintu di dekat kamar mandi. Aku mencoba membukanya dan ternyata ini adalah walk in closet.


Semua sudah tertata rapi di sana. Baju-baju milik Marcell dan juga banyak sekali pakaian wanita. Mungkin saja ini semua milik istri Marcell.


Aku enggan untuk memakainya karena ini bukanlah milikku. Namun sekarang Aku sedang membutuhkan pakaian untuk ku pakai. Jadi ku putuskan untuk meminjamnya satu.


Aku mengambil sebuah dress bermotif bunga. Begitu pas di tubuh ku. Mungkin saja istri Marcell memiliki ukuran tubuh yang sama dengan ku.


Aku keluar setelahnya. Mencari di mana keberadaan putriku.


Setelah sampai di bawah. Aku akhirnya bertemu dengan putriku. Saat ini Marcell sedang menggendongnya. Keduanya menatap kearah ku dengan tersenyum.


"Lihatlah, Mamamu begitu cantik, bukan?" ucap Marcell membuatku mengalihkan pandangan ku.


"Mama Chaki memang cantik, Pa," timpal Shaki. Aku tersipu dengan pujian mereka. Aku pun langsung berjalan ke arah mereka.


"Aku akan mengantar Shaki ke sekolah. Kamu mau ikut?" tanya Marcell padaku.


Aku mengangguk. Tapi Aku masih penasaran kenapa dari tadi Aku tidak melihat istri Marcell. Aku celingukan menatap ke segala arah.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Marcell.


"Eumm... Istri Kamu di mana?" tanyaku. Marcell mengerutkan keningnya.


"Istri ku kan di sini. Kenapa Kamu malah bertanya, Sayang?" tanya balik Marcell.


Sekarang Aku yang mengerutkan kening. Disini dia bilang? Di mana coba? Dari tadi Aku sama sekali tak melihat wanita lain di rumah ini. Apakah Marcell bergurau?


"Di mana? Kenapa Aku tidak melihatnya dari tadi?" tanyaku lagi. Namun Marcell malah terkekeh. Dia berjalan mendekati ku dan menggandeng tanganku.


***

__ADS_1


__ADS_2