Suami Berondongku

Suami Berondongku
Bab 37


__ADS_3

POV Marcell


Masih tak kusangka jika Aku bisa berkumpul dengan keluarga kecilku. Aku sungguh tak menyangka saat melihat gadisku adalah dokter yang mengoperasi ibuku. Dia sungguh terlihat begitu cantik dalam balutan jas putih yang menjadi ciri khas seorang dokter.


Bahkan Aku sampai terpaku dan kehilangan kata-kata kala itu. Aku hampir kehilangan dirinya lagi ketika Aku menyadari jika gadisku ada di hadapan ku sedang menerangkan tentang kondisi ibu.


Ketika Aku berlari keluar ruangan ibu, rupanya gadisku sudah tak ada. Bodohnya Aku karena Aku hanya terpaku. Aku merutuki kebodohanku sendiri.


Namun Aku tak menyerah. Aku sudah mengetahui keberadaannya sekarang. Dia adalah dokter di rumah sakit ini. Jadi Aku bisa langsung bertanya kepada pihak rumah sakit tentang gadis ku.


Gadis ku sekarang menjadi wanita hebat. Dia sudah menjadi seorang dokter. Tapi itu langsung membuat ku merasa begitu sedih. Ini adalah cita-citanya sejak dulu. Yaitu menjadi seorang dokter. Namun Aku sudah menghambatnya hingga dia tak bisa lagi melanjutkan meraih kesuksesannya.


Aku memang pria tak berguna!


Aku terus menunggunya di parkiran. Tadi kata perawat, gadisku itu belum pulang. Jadi ku putuskan menunggunya di parkiran.


Aku begitu beruntung. Baru sebentar Aku menunggu, ku lihat dia berjalan ke arah sebuah mobil hitam. Mungkin itu mobil miliknya. Aku berjalan cepat ketika gadisku memasukinya.

__ADS_1


Ku buka pintu mobil itu dengan cepat, takut jika dia sudah menguncinya. Namun keberuntungan berpihak padaku. Mobil tak di kuncinya.


Dia menatap ku dengan terkejut. Dapat ku lihat jika dia sangat terkejut. Sampai-sampai bola matanya hampir keluar sempurna. Namun itu malah membuatnya terlihat semakin cantik menggemaskan.


Aku tersenyum menatapnya. Rasanya Aku ingin seharian terus menatap wajah cantik istriku. Ya, istriku. Istri yang sangat ku cintai. Istri yang membuat hidupku berantakan karena dia pergi dariku.


Namun setelah sekian lama tak bertemu, dia berubah menjadi singa betina yang begitu menggiurkan. Ingin rasanya Aku menerkamnya. Namun, Aku teringat meninggalkan ibuku sendirian. Jadi ku putuskan untuk menjaga ibuku terlebih dahulu. Yang penting Aku sudah mengetahui keberadaan istriku.


Istriku menunjukkan wajah juteknya yang membuat ku benar-benar gemas ingin menciumnya.


Sungguh mendengar suaranya dan melihatnya seperti itu rasanya ingin sekali Aku menariknya ke atas ran.jang. Aku sudah sangat merindukannya.


"Teriak saja. Aku ingin mendengar teriakanmu," ucapku jujur.


Namun Aku tak ingin terburu-buru. Ada banyak hal yang Aku selesaikan. Banyak bahaya yang mengintai ibu dan juga istriku.


Istriku mendorong tubuh ku. Membuat ku langsung memeluk tubuhnya. Dulu dia tak seagresif ini. Tapi Aku suka yang sekarang. Aku memeluknya erat. Menuangkan rasa rindu dalam hati.

__ADS_1


"Lepaskan! Marcell!" Gadisku memberontak. Mungkin dia masih kesal padaku selama ini. Atau mungkin benci. Aku sudah menyakiti hatinya. Tapi Aku begitu terpaksa melakukannya.


"Biarkan sebentar saja," ucapku lirih.


Mulai saat ini Aku berjanji tidak akan lagi menyakiti gadis dalam dekapan ku ini.


Gadisku tak memberontak lagi. Membuat ku mengulas senyum ku. Namun beberapa detik kemudian, dia kembali memberontak dan mendorong ku dengan paksa hingga pelukan ini terlepas.


Ku hembuskan nafas panjang. Sepertinya akan sangat sulit untuk mendapatkan hati istriku lagi. Tapi Aku yakin jika dia masih mencintaiku. Aku akan membuatnya kembali jatuh cinta padaku.


"Pergi, Marcell! Aku tidak ingin lagi bertemu dengan mu. Pergilah yang jauh dan jangan lagi ganggu hidup ku!"


Aku terpaku. Sakit sekali rasanya mendengarnya mengucapkan hal itu. Tapi Aku memang pantas mendapatkannya. Aku sudah menyakitinya hingga pergi dari sisiku.


"Baiklah, Aku akan pergi sekarang. Tapi nanti Aku akan menemuimu lagi," ucapku.


Ku dekatkan wajahku Padanya sebelum Aku keluar dari mobil. Terlihat sekali jika dia sedang tegang. Dia memejamkan matanya membuat ku ingin sekali mengecup bibirnya. Namun ku urungkan. Aku tak ingin nantinya malah membangunkan sesuatu dalam diriku. Biarlah Aku bersabar sebentar lagi. Tunggu Aku, Sayang. Sebentar lagi kita akan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2