Suami Berondongku

Suami Berondongku
Bab 30


__ADS_3

Aku keluar dari tempat dansa tersebut. Marcell mengapit lenganku. Aku tak bisa melepaskan diri darinya. Ingin sekali rasanya Aku berteriak minta tolong pada orang-orang di tempat ini untuk menjauhkan ku dari pria gila ini. Namun Aku takut jika Marcell akan berbuat hal yang lebih gila.


Ku lihat Will yang kini berjalan ke arah kami. Aku berusaha melepaskan tangan Marcell yang melekat pada lenganku. Aku tak ingin Will berpikir yang tidak-tidak tentang kami.


"Anggi, Kamu mau kemana? Dan kalian...." Will menatap kami menyipitkan matanya.


Aku hendak menjelaskan pada William. Namun, Marcell terlebih dahulu menyahutnya.


"Kami akan pulang bersama, Tuan William," ucap Marcell. Aku melotot ke arahnya. Tapi dia tak menggubrisnya. Sungguh sangat kesal Aku di buatnya.


"Tuan Marcell mengenal dokter Anggi?" tanya Will.


"Tidak! Kami tidak...."


"Ya, kami sangat mengenal satu sama lain, Tuan. Hubungan kami juga sangat dekat," sahut Marcell lagi.


"Apa kalian pasangan kekasih?"


Duh, kenapa William terus bertanya sih. Bagaimana jika dia tahu kalau Shaki adalah anak Marcell? Tidak! Aku harus segera menghindari pertanyaan ini.


"Dia ini adalah is...." Belum sempat Marcell melanjutkan ucapnya, Aku langsung membungkam bibirnya dengan telapak tanganku.


"Maaf Will. Sepertinya Aku harus pulang sekarang. Sampai bertemu lain waktu." ucap ku menarik Marcell keluar dari tempat itu.


Segera ku lepaskan bungkaman tanganku dari bibir Marcell. Aku menatap pria itu dengan kesal dan marah.


"Mau Kamu apa sih Cell?!"


"Aku tidak suka Kamu dekat-dekat dengan Tuan William."


Mendengar ucapan Marcell membuat ku terkekeh geli. "Hello, Tuan Marcell yang terhormat. Di antara kita sudah tidak ada lagi hubungan. Jadi Anda tidak ada hak untuk melarang ku dekat dengan siapapun!" Aku berucap dengan tegas.


Ku lihat Marcell sedang menahan sesuatu. Dia diam, namun terlihat begitu dingin. "Kamu itu masih is...."


"Mama...!" Suara melengking Shaki membuat ku menoleh kepadanya. Aku sampai terlupa jika Aku mengajak putriku.


Namun sekarang perasaan cemas kembali melandku. Bagaimana jika Marcell mencurigai jika Shaki adalah putrinya? Aku menelan ludah ku kasar.


Dapat ku lihat pandangan mata Marcell yang menatap Shaki tanpa berkedip. Membuat intonasi jantung ku menjadi sangat kencang.


Aku langsung menggendong putriku. Mendekapnya dengan erat. Marcell masih menatap Shaki dalam diam.


"Di mana Cla, Sayang?" tanyaku pada putriku. Karena tadi mereka sedang bermain bersama.


"Tadi Kak Cla di panggil cama Papanya Mam. Telus Chaki nyali Mama tidak ada. Jadinya Chaki kelual. Ternyata Mama di cini."


Shaki menatap ku. Lalu dia pun menatap ke arah Marcell. Putriku Sejenak terdiam seperti tengah mengingat-ingat.


"Paman yang nolongin Chaki kemalin ya?"


Marcell langsung tersenyum. Dia mengacak rambut Shaki.


"Anak pintar. Ternyata kamu masih ingat pada Paman. Mau ikut Paman tidak? Paman punya hadiah untuk Shaki dan Mama."


"Tidak! Kami tidak akan ikut dengan mu. Kami mau pulang sekarang juga, permisi." Segera ku tolak ajakan Marcell. Aku harus menjauhkannya dari Shaki.


Ku langkahkan kakiku untuk meninggalkan Marcell pergi dari tempat itu. Namun baru beberapa langkah saja dia kembali menghentikan langkah ku.


"Apa Kamu berusaha menjauhkan ku dari putriku?"

__ADS_1


Aku menelan saliva ku dengan susah. Ini yang ku takutkan. Dia ingin mengambil Shaki dariku.


Aku membalikkan tubuh ku menatapnya yang saat ini tersenyum menyeringai.


"Siapa bilang Shaki putrimu? Shaki putriku. Dan Kau tidak ada hubungannya dengannya!"


Aku sungguh sangat marah saat ini. Sekarang dia mengatakan jika dia Ayah putriku. Sebelumnya kemana dia? Dia sudah menikah dengan wanita lain. Dia membuang kami. Masih teringat jelas ucapannya waktu itu,


'Seperti yang Kamu lihat. Aku mencintainya. Jadi sudah sangat jelas bukan? Aku tak perlu menjelaskannya padamu seharusnya kamu sudah tahu. Aku sudah bosan denganmu, jadi lupakan semua tentang kita. Dan pergi dari sini!'


Kilasan ingatan itu masih terasa begitu jelas dalam ingatan ku. Lalu sekarang dia dengan mudahnya mengatakan jika Shaki juga putrinya?


Tidak! Shaki hanya putriku.


"Jadi Kamu berusaha untuk menyangkalnya? Aku bisa pastikan jika Shaki juga putriku. Kita tes DNA. Dan ingat! Aku akan merebut dia darimu. Ku pastikan kamu akan kalah di persidangan nanti." ancam Marcell.


Ini yang ku takutkan selama ini. Aku terdiam. Aku baru tahu jika ternyata Marcell bukanlah orang sembarangan. Dia putra pemilik perusahaan nomor satu di dunia. Jika Aku melawannya, sudah pasti Aku akan kalah.


Di tengah keterdiaman ku, ku lihat Marcell berjalan mendekat dengan senyum yang membuat ku sangat muak.


Dia sudah memiliki wanita di sisinya, kenapa dia masih terus mengganggu ku? Sungguh Aku membencinya.


"Bagaimana? Mau ikut denganku sekarang, atau melawan ku nanti di pengadilan?" bisiknya.


Aku langsung menatapnya tajam. Marcell terlihat begitu memuakkan. Dengan senyuman yang membuatku begitu kesal pria itu seperti sedang mengejekku.


Aku tak bisa lagi berbuat apa-apa. Sepertinya kali ini Aku harus mengikuti apa maunya.


Marcell sudah membuka pintu mobilnya untuk mempersilahkan ku dan Shaki masuk kesana. Dengan langkah berat, akhirnya Aku mengikuti kemauannya.


"Kita mau kemana, Mam?" tanya Shaki menatap ku.


Aku hanya tersenyum menatapnya dan menjawab pertanyaannya. "Kita ikut Paman ini ya, Sayang. Dia bilang tadi punya mainan untuk Shaki," jawabku.


"Shaki Sayang. Panggil Paman Papa ya?" ucap Marcell membuat ku menatapnya tajam. Namun dia tak memperdulikan tatapan ku ini. Sebenarnya apa maunya?!


"Kenapa Chaki halus manggil Papa? Kata Mama, Papa Chaki kelja jauh. Papa Chaki gak pulang-pulang." Shaki terlihat begitu sedih.


Aku jadi kasihan melihatnya. Selama ini memang Aku sudah berbohong jika Papanya kerja jauh dan belum pulang. Itu memang salahku karena sudah berbohong padanya. Aku hanya tidak ingin dia sedih ketika temannya selalu mengatakan jika dia tak punya Papa. Dengan terpaksa Aku mengatakan hal itu pada putriku.


"Shaki, Apa Shaki tahu kalau Aku sebenarnya Papanya Shaki? Maaf karena Papa lama tidak pulang, Sayang. Mulai sekarang Papa akan selalu bersama Mama dan juga Shaki." Marcell mengusap lembut rambut Shaki. Terlihat jelas jika Marcell begitu tulus.


Ah, tidak! Bisa saja ini hanya trik nya untuk merebut Shaki dariku.


Namun Shaki terlihat begitu girang mendengarnya. Bola matanya langsung berbinar. Hingga Aku pun tak tega jika harus menyanggah ucapan Marcell.


"Jadi Paman Papanya Chaki? Asyikk... Cekalang Chaki punya Papa. Papa Chaki cudah pulang. Chaki mau peluk Papa," rengek Shaki.


"Nanti ya, Sayang. setelah kita sampai di rumah, Shaki boleh peluk Papa sesuka hati Shaki," ucap Marcell dengan lembut.


Aku hanya terdiam tak menyahut percakapan keduanya. Yang ku pikirkan sekarang adalah tentang istri Marcell.


Jika Marcell membawa kami pulang ke rumahnya, bagaimana nanti dengan istrinya? Apa yang akan istrinya lakukan jika tahu Shaki adalah anak dari suaminya?


Hingga mobil pun memasuki sebuah gerbang besar yang menjulang tinggi. Marcell terlihat sedang mengambil sesuatu dari saku jas yang dia pakai.


Dia mengeluarkan sebuah remote kecil dan menekannya. Gerbang itu pun akhirnya terbuka. Mobil Marcos langsung masuk kedalamnya.


Terlihat jelas sekali sebuah rumah mewah yang sangat besar di depan sana. Pasti itu adalah rumah Marcell dan juga keluarga kecilnya saat ini. Tiba-tiba hatiku mencelos.

__ADS_1


Dulu, Marcell dan Aku pernah tinggal di sebuah kontrakan kecil yang dia sewa perbulan. Waktu itu Marcell mengatakan jika dia hanya punya seorang paman. Namun kenyataannya, dia menyembunyikan identitasnya dariku. Dia membohongi ku. Aku yakin jika pernyataan cintanya padaku dulu juga sebuah kebohongan belaka. Sungguh bodohnya Aku.


Mobil telah berhenti di garasi. Marcell keluar dan memutari mobil untuk membukakan pintu untuk kami. Dia menggendong Shaki terlebih dahulu. Aku pun keluar dari mobil dan mengalihkan pandangan ku dari Marcell.


"Sekarang Shaki boleh memeluk Papa sepuasnya," ucap Marcell. Shaki terlihat sangat senang.


Aku merasa terkejut ketika ku rasakan tangan Marcell menggandeng tanganku. Apa pria ini tidak takut jika ketahuan istrinya? Segera saja ku lepaskan tanganku darinya.


"Apaan sih pegang-pegang!" ucapku ketus. Namun lagi-lagi Marcell malah tersenyum lembut.


"Ayo kita masuk," ajaknya.


Aku tak menjawabnya. Namun Aku tetap mengikutinya dari belakang.


Ketika memasuki rumah tersebut, Aku sangat kagum dengan kemegahan rumah ini. Marcell terus berjalan sambil menggendong Shaki. Hingga sampailah kita depan sebuah lift. Marcell memasukinya. Sementara Aku masih terdiam menatap Marcell di dalam lift tersebut.


Aku masih bertanya-tanya. Sedari tadi Aku samasekali tak melihat istri Marcell. Rumah mewah ini terlihat begitu sepi seperti tak berpenghuni, namun tetap bersih.


"Kenapa masih di sana? Ayo sini!" Marcell berseru.


Aku pun langsung tersadar dan berjalan mengikutinya memasuki lift tersebut.


Ketika sampai di atas, kami keluar dari lift. Terlihat ada dua pintu di sana. Marcell memasuki salah satunya.


"Ini kamar Shaki. Mulai sekarang kita akan tinggal di sini." ucap Marcell. Dia kemudian menidurkan Shaki di atas tempat tidur. Ternyata putriku telah tertidur dalam gendongannya.


"Apa maksudmu dengan berkata kita akan tinggal di sini?!" tanyaku. Namun Marcell tak menjawabnya. Dia malah menempelkan telunjuknya di bibirnya pertanda menyuruh ku untuk diam. Tangannya mengusap-usap kening Shaki agar tak terbangun dari tidurnya.


Aku pun jadi kesal sendiri. Aku duduk di sofa kamar ini menunggu Marcell menjelaskan pertanyaan ku tadi.


Ku senderkan kepalaku sejenak sembari menunggunya. Hingga lama-lama mata ini pun mulai terpejam.


***


Aku merasa aneh dengan bibirku yang terasa sedikit basah. Ku rasakan sesuatu mencoba untuk menerobos masuk kedalam bibir ku ini.


Aku mulai membuka mataku yang terasa begitu berat. Sepertinya Aku tadi ketiduran.


Mataku membola seketika kala ku lihat Marcell yang mencium bibir ku. Dia sudah mengukung tubuh ku hingga Aku sulit untuk bergerak. Aku berusaha untuk mendorongnya. Namun tubuh Marcell tak bergeser sedikit pun.


"Emmmt... Le...pas!" ucapku tersengal-sengal. Marcell membiarkan ku ciuman bertubi-tubi. Membuat ku merasa begitu marah.


Bagaimana jika istrinya tahu? Pasti Aku akan di salahkan karena di tuduh menggoda suaminya. Aku tidak ingin itu terjadi.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi," ucapnya di sela ciumannya. Suaranya begitu berat.


Aku terus memberontak. Aku tidak mau menjadi pihak ketiga dalam pernikahannya.


"Marcell lepas!!!" Seruku dengan lantang.


Marcell pun akhirnya berhenti mencium bibirku. Namun tubuhnya masih menindih ku. Dia hanya menatapku dengan tatapan tak terbaca.


"Sudah ku bilang Aku tidak akan pernah melepaskan mu." ucapnya dingin.


Namun Aku tak perduli. Aku tidak mau jadi pihak ketiga dalam pernikahannya. "Kamu tidak bisa seperti ini, Cell. Bagaimana jika istrimu tahu kelakuan mu ini? Aku tidak mau di salahkan dalam rumah tangga mu sebagai orang ketiga. Lepaskan Aku. Biarkan Aku pulang dengan putriku," ucapku memohon.


"Sampai kapanpun, Aku tidak akan pernah membiarkan mu pergi. Jadi jangan pernah berpikir untuk pergi dariku. Kalian milikku," ucapnya. Kemudian Marcell kembali menyambar bibir ku.


Aku terus memberontak, bahkan Aku menggigit bibirnya. Namun tetap saja dia tak melepaskan ku dan malah memperdalam ciumannya.

__ADS_1


***


Besok libur yak 😁, mau nugas di Karya sebelah dulu 😘😘


__ADS_2