
"Kenapa kamu membawa putriku, huh!" Istriku terlihat begitu marah padaku. Ada raut cemas dari guratan wajahnya.
Aku benar-benar masih tak percaya. Jadi memang benar gadis kecil yang ku gendong tadi adalah putriku sendiri? Dia putriku?
Aku sampai tak dapat berkata-kata. Aku menunjuk ke arah gadis kecil itu. Suara ku bahkan sulit untuk berkata. "Apa Dia ...."
"Bukan! Ini adalah putriku, hanya putriku. Sebaiknya Kamu pergi dari sini. Jangan pernah mendekati putriku lagi!" ucapnya dengan dingin.
Aku tak bisa menutupi rasa bahagia ku. Istriku mengatakan jika gadis kecil itu adalah putrinya yang sudah pasti dia adalah putriku juga.
Pikiranku terlalu sibuk berbahagia, hingga Aku tak menyadari lagi jika istriku tak lagi di depanku. Kenapa Aku menjadi bodoh seperti ini? Seharusnya tadi Aku langsung mengajak mereka untuk pulang ke rumah.
Baiklah. Aku berencana untuk mengajak mereka pulang nanti malam. Untuk saat ini Aku harus kembali ke rumah sakit. Aku khawatir meninggalkan ibuku terlalu lama.
***
Aku menceritakan tentang pertemuanku dengan putriku pada ibu. Walaupun kelopak matanya masih saja tertutup, tapi Aku yakin jika mengajak ibu berbicara akan merangsangnya untuk segera tersadar.
Dan benar saja. Ku lihat jari ibu sedikit bergerak. Tentu saja Aku begitu senang. Sepertinya sekarang adalah giliran ku untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidupku.
__ADS_1
Aku segera memanggil dokter. Dokter mengatakan jika kondisi ibu semakin membaik. Jadi kemungkinan untuk tersadar lebih besar.
Aku bahagia. Satu persatu kebahagiaan pasti akan ku dapatkan.
"Tuan, apakah Anda lupa jika malam ini ada undangan perjamuan dari Tuan Gilbert?" Gerad datang menghampiriku.
Aku sampai terlupa jika Aku harus datang ke acara kolegaku. Perusahaan kami bekerjasama dengan baik. Jadi mau tak mau Aku harus datang.
"Kalau begitu Aku titip ibuku sebentar," ucapku. Gerad mengangguk.
Aku pun beranjak dari rumah sakit. Aku berencana untuk mengajak istriku dan juga putriku. Aku ingin memperkenalkan mereka kepada para kolega ku. Mungkin ini saatnya Aku harus mengungkapkan kebenaran kepada publik.
Aku menghubungi Gerad untuk mengecek beberapa bandara, stasiun dan juga alternatif transportasi lainnya. Aku tidak ingin kecolongan kali ini. Dari informasi yang Gerad dapat, nama istriku tak ada dalam daftar manapun. Aku sedikit lega. Aku kembali menyuruhnya untuk mencari informasi di mana istriku berada saat ini.
Sembari menunggu kabar dari Gerad, Aku memutuskan untuk datang ke undangan perjamuan.
Aku tak sabar lagi menunggu informasi dari Gerad. Kenapa kali ini dia begitu lambat memberikan informasi? Aku sampai tak sadar jika Aku sudah sampai di tempat acara.
Aku memasuki tempat itu dengan pikiran tak tenang. Mungkin Aku akan datang sebentar saja dan akan kembali mencari keberadaan istri dan putriku.
__ADS_1
Baru saja memasuki tempat acara. Ternyata beberapa orang sedang berdansa dengan berpasangan. Namun ekor mataku terkejut kala melihat gadisku sedang berada di tengah orang-orang berdansa. Dia ikut berdansa bersama mereka.
Namun yang membuat hatiku memanas, dia berdansa dengan seorang pria. Sungguh Aku ingin sekali menghajar pria itu. Beraninya dia menyentuh istriku. Ini tak bisa di biarkan. Hanya Aku yang boleh menyentuhnya!
Lihatlah tatapan pria itu. Dari tatapannya dapat ku lihat jika pria itu tertarik pada istriku.
Aku melangkah menuju ke tengah-tengah orang-orang sedang berdansa. Kebetulan sekali para pasangan mereka berputar untuk bertukar pasangan. Aku memposisikan diri berada di dekat gadisku. Dan dapat! Aku sekarang yang akan menjadi pasangan dansanya.
Istriku nampak terkejut. Sementara Aku tersenyum penuh kemenangan. Ku lirik pria yang menjadi pasangan dansa istriku sebelumnya. Ternyata dia adalah William. Dia adalah putra dari Tuan Gilbert.
Aku tidak pernah tahu bagaimana dia bisa mengenal istriku. Yang jelas, Aku tak suka jika milikku di sentuh orang lain.
Istriku terkejut melihat ku. Matanya melebar. Namun terlihat begitu cantik dan menggemaskan. Aku tersenyum manis padanya. Ku rapatkan tubuh kami. Aku tak ingin memberikan celah sedikitpun. Rasanya begitu hangat dan membuat jantung ini berdebar kencang.
Jantungku memang selalu berdebar ketika berada di dekat istriku. Ku dekatkan bibirku ke arah telinganya. Kali ini dia tidak akan lagi bisa kabur dariku. Aku tak akan melepaskannya kali ini.
"Sekarang Kamu tidak akan pernah bisa lari dariku," bisikku hingga bibir ini menyentuh telinganya.
***
__ADS_1