
"Sekarang Kau sudah memutuskannya?" Suara Derrald menginstrupsi.
Marcell masih diam di tempatnya. Bayangan ketika sang istri yang baru siuman tadi membuat pria itu sangat rapuh saat ini.
"Baiklah, Aku akan memberikan sedikit keringanan untukmu. Aku akan memberikan waktu untuk mu menceraikan istrimu itu. Tapi Kau harus tetap menikahi gadis yang ku pilih itu satu Minggu lagi. Tawaran yang sangat bagus kan?" Pria paruh baya itu tersenyum menyeringai.
Namun yang terdengar di telinga Marcell adalah sebuah tawaran yang sangat ingin membuatnya menjatuhkan dirinya sendiri ke jurang yang terdalam. Rasanya sungguh tidak mungkin Marcell mampu meninggalkan sang istri.
"Jika Aku menyetujui permintaan mu, Apa Aku bisa memegang ucapan mu, kalau Kau tidak akan pernah menyakiti atau bahkan menyentuh sedikit saja kulit istriku?"
"Kau tau orang seperti apa diriku. Aku selalu berpegang teguh pada ucapan yang keluar dari mulut ku." Pria paruh baya itu menatap tajam ke arah putranya.
"Baiklah, Aku setuju. Tapi Kau harus ingat. Walaupun Aku menikah dengan gadis pilihan mu, Aku tidak bisa menjamin akan bisa memberikannya kebahagiaan."
Suasana menjadi begitu dingin dalam ruang makan tersebut.
"Hahaha... Aku tak perduli. Tugas ku hanya menikahkan mu dengan gadis itu. Maka separuh saham keluarganya akan menjadi milikku sepenuhnya. Dan Aku akan menduduki peringkat pertama dalam perusahaan terkaya di dunia."
Marcell mengepalkan tangannya kuat. Tak pernah di sangkanya jika ia memiliki seorang ayah yang tega menjual putranya sendiri hanya demi sebuah kedudukan.
Tak ingin lagi berada di tempat itu, Marcell langsung pergi dari sana dengan perasaan kacau.
__ADS_1
Memikirkan dirinya harus meninggalkan sang istri, membuatnya seperti nyawanya terlepas dari raganya. Marcell tak sanggup, sungguh dia tak akan pernah sanggup.
Setelah sampai di rumah sakit. Marcell saat ini berdiri tepat berada di depan pintu kamar rawat inap sang istri. Setitik air mata menetes dari sudut matanya.
Namun dengan segera, Marcell langsung menghapusnya. Pelan, Marcell melangkah masuk dan di sambut dengan senyum manis sang istri yang menatapnya.
"Sayang, Kau sudah kembali? Apa Kau sudah membelinya?" tanya Anggi.
Sebelum meninggalkan rumah sakit tadi, Marcell mengatakan ingin membelikan roti jahe kesukaan Ayra.
"Emm...." Marcell mengangguk dan memperlihatkan apa yang ia janjikan untuk sang istri di tangannya.
"Terimakasih karena sudah membelikannya, Sayang."
Apakah nanti dia akan melihat hal seperti ini lagi? Bagaimana dia akan menjelaskannya kepada sang istri nantinya? Lalu bagaimana dengan mimpinya yang akan hidup bahagia bersama keluarga kecilnya nanti. Calon anaknya yang sedang ia nanti kelahirannya, semua yang menyangkut tentang sang istri. Sungguh pria itu merasa tak berdaya saat ini.
***
Lima hari berlalu.
Anggi sudah pulang ke rumah dan mulai bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Namun dia merasa ada yang berbeda dari suaminya.
__ADS_1
Marcell sering sekali keluar rumah dan sedikit mengacuhkannya. Berbagai pikiran buruk mulai berdatangan. Hingga Anggi memutuskan untuk secara diam-diam mengikuti suaminya.
Ketika sampai di kampus, masih seperti biasanya. Marcell berjalan dengan begitu dingin terhadap para mahasiswi lainnya yang menatapnya genit.
Anggi menghembuskan nafas lega. Sepertinya ketakutannya tak beralasan. Dia segera menghapus pemikirannya itu.
Anggi membalikan badannya hendak kembali pulang. Namun Baru beberapa langkah saja, indera pendengarannya menangkap suara yang memanggil nama suaminya.
"Kak Marcell...!" seru suara tersebut.
Anggi sontak membalikkan badannya guna memastikan jika yang di panggil seseorang itu memanglah suaminya.
Deg...
Jantungnya berdegup kencang kala melihat seorang wanita muda yang saat ini memeluk pinggang suaminya dengan begitu mesra. Bahkan suaminya tak menolaknya atau mencoba untuk melepaskan pelukan gadis tersebut.
Air mata Anggi seketika menetes. Mungkinkah semua pikiran buruknya menjadi nyata saat ini? Jika memang itu semua terjadi karena pemikiran buruknya, Anggi ingin menghapus semua pikiran buruk itu dari otaknya.
Namun sayangnya yang dilihatnya saat ini benar-benar membuat hatinya terasa begitu nyeri. Anggi butuh penjelasan.
Merasa ini bukan tempat yang tepat, Anggi pun memutuskan untuk pulang dan menunggu suaminya untuk bertanya tentang siapa gadis itu. Mungkin saja gadis itu adalah saudara suaminya yang luput Marcell ceritakan padanya.
__ADS_1
***