
"Besok kamu tanding jam berapa Cell?" tanya Anggi ketika mereka selesai makan malam.
"Siangan, Sayang."
Blussh... Wajah Anggi menjadi memanas mendengar panggilan sayang dari Marcell.
"Kok Sayang sih Cell," ucap Anggi menggigit bibir bawahnya.
"Memangnya tidak boleh kalau suami manggil istri 'sayang'?" Marcell menatap lekat wajah Anggi.
"Eumm... Memangnya kamu sayang sama Aku?" tanya Anggi lirih.
Sungguh istrinya itu sangat polos sekali. Ingin rasanya Marcell menarik Anggi ke kamarnya saat ini untuk mengungkapkan rasa sayangnya.
Marcell berjalan mendekati sang istri kemudian berjongkok di depan Anggi yang tengah duduk dan menarik lembut jemarinya lalu mengecupnya.
"Kalau aku tidak sayang, untuk apa aku bertanggung jawab atas perbuatanku dulu. Kalau aku tidak sayang, untuk apa Marcel bersikap lembut kepada kakak? Mungkin yang Marcell rasakan ini lebih dari sekedar rasa sayang. Atau bahkan mungkin yang merasakan adalah cinta. Jika Marcel mengatakan kalau Marcel cinta sama Kak Anggi, Apakah kak Anggi akan menerima cinta Marcel?" tanya Marcell penuh harap.
Anggi terpaku. Pernyataan Marcel membuatnya benar-benar tak dapat berkata apa-apa.
"A-aku... Aku...."
Cup... Lagi-lagi Marcell mencium bibir Anggi. Rasanya bibir Anggi sudah menjadi candu untuk pria muda itu.
Sejujurnya melihat sang istri yang diam sesaat ketika dia menyatakan perasaannya tadi, membuat Marcell takut dengan jawaban Anggi.
Marcell takut jika Anggi mengatakan dia tak mencintainya. Hingga ketakutan itu mendorongnya untuk mencium istrinya guna agar dirinya tak mendengar jawaban yang mungkin akan mengecewakan nya.
"Aku tahu jika pertemuan kita berawal dari kesalahan yang membuat Kak Anggi mengandung anakku. Tapi Aku sangat bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan sudah mempersatukan kita. Dan Aku tidak pernah menyesali perbuatanku kepada Kak Anggi. Sekarang Aku benar-benar yakin jika Kak Anggi adalah jodoh yang Tuhan berikan untukku," Marcell menjeda kalimatnya.
"Jika Kak Anggi tidak yakin dengan cinta Marcell. Jika Kak Anggi berkata tidak memiliki perasaan kepada Marcell. Maka Kak Anggi harus ingat, Marcell akan berusaha untuk membuat Kak Anggi jatuh cinta pada Marcell. Dan Marcell tidak akan pernah melepaskan Kak Anggi apapun yang terjadi," lanjut Marcell dengan penuh keyakinan.
Sementara Anggi merasa terharu dengan kalimat yang terucap dari bibir suaminya. Rasanya dia begitu di cintai dan di sayangi.
Anggi tak pernah menyangka jika Marcell mencintainya sedalam itu. Padahal mereka belum lama kenal.
"Siapa bilang kalau Aku tidak mencintaimu, Cell. Aku... Aku juga mencintaimu. Walaupun usiamu lebih muda dariku, tapi Kau adalah pria yang begitu dewasa. Bahkan lebih dewasa di banding dengan ku. Dan Aku juga mencintaimu, Suami brondong ku," ucap Anggi yakin.
"Sungguh? Kak Anggi tidak bercanda kan?" ucap Marcell tak percaya.
Anggi memberengut kesal. "Kok panggil kakak lagi sih Cell."
Sontak saja Marcell langsung tersenyum dan memeluk tubuh sang istri dengan sayang.
"Jadi istriku juga mencintaiku?"
__ADS_1
"Tentu saja, suamiku."
Sungguh kebahagiaan luar biasa yang tengah pengantin baru itu rasakan. Marcell langgeng menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke kamarnya.
Dan tentunya mereka melakukan sebuah adegan-adegan yang begitu panas malam ini. Mereka berharap jika kedepannya nanti, mereka bisa menghadapi berbagai rintangan yang mungkin saja bisa menerpa rumah tangga mereka.
***
"Sayang, biar Aku mengantarmu ke kampus mu ya?" tawar Marcell ketika selesai menyantap sarapannya.
Anggi menggeleng. "Tidak usah, Cell. Aku masih bisa bawa mobil sendiri. Lagipula bukankah kamu harus mempersiapkan Tim kamu untuk tanding nanti?"
"Aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya kemarin. Jadi hari ini sampai berangkat nanti, Aku free. Aku antar ya?"
Anggi mengangguk menyetujuinya.
Marcell mengantarkan Anggi ke kampusnya dengan menggunakan motornya. Tak lupa Marcell memakaikan helm untuk sang istri. Sungguh terlihat begitu manis.
"Tapi nanti Kamu jemput Aku kan Cell? Nanti rencananya kamu kan mau mengajakku untuk melihat pertandingan mu."
"Tentu saja aku akan menjemput istri tercintaku ini," ucap Marcell tersenyum lembut.
Duh, rasanya Anggi selalu saja meleleh mendengar ucapan dari bibir suaminya yang selalu manis padanya itu.
Tak berapa lama, mereka akhirnya sampai. Terlihat dari kejauhan para sahabat Anggi yang melihat sahabatnya di antar oleh seseorang menggunakan motor.
Mereka begitu ingin tahu tentang siapa pria yang mengantarkan Anggi tersebut. Tak terkecuali dengan Gavin. Pria itu sangat kepo dengan seseorang berseragam SMA yang mengantarkan gadis incarannya selama ini.
Karin dan Sena langsung menghampiri sahabatnya untuk menyembuhkan rasa penasaran mereka. Terlebih mereka juga ingin tahu kenapa sahabatnya itu beberapa hari ini tak datang ke kampus.
Melihat Karin dan Sena, Gavin ikut berjalan di belakang mereka.
"Anggi...!" panggil Karin dan Sena bersamaan.
Sontak membuat Anggi terkejut oleh kehadiran para sahabatnya. Dengan cepat Anggi membelakangi Marcell untuk menutupi suaminya itu dari para sahabatnya.
Terlambat, mereka sudah mengetahui keberadaan Marcell.
"Kalian? Kenapa kesini?" tanya Anggi dengan mimik wajah terkejut dan takut jika mereka mengetahui rahasianya.
Bukannya dia tak ingin memperkenalkan suaminya. Tapi Anggi belum siap. Mana mungkin dia memperkenalkan anak SMA sebagai suaminya.
"Siapa dia?" tanya Sena menatap ke arah Marcell.
Anggi bingung harus menjawab apa. "Dia siapa?" tanya Anggi pura-pura tak tahu.
__ADS_1
"Pria di belakang mu itu," timpal Karin.
'Aduh, gimana ini?' ucap Anggi dalam hati. Gadis itu merasa panik.
Sementara Marcell malah turun dari motornya. Dia pun melepaskan helm nya dan membuat kedua sahabat Anggi menatapnya dengan tatapan meleleh.
Bagaimana tidak. Di mata kedua sahabat Anggi, Marcell adalah pria paling tampan yang pernah mereka lihat. Sungguh pahatan Tuhan yang begitu sempurna, pikir keduanya.
Namun berbeda dengan Gavin. Pria itu begitu tak suka dengan Marcell. Dia berpikir ada sesuatu antara Anggi dan juga Marcell.
"Kenalkan, Aku Marcell. Aku adalah sepupu Kak Anggi," ucap Marcell menyodorkan tangannya bermaksud mengenalkan diri.
Dari raut wajah sang istri, Marcell tahu jika saat ini pasti istrinya takut jika hubungan antara mereka akan di ketahui oleh sahabat sang istri. Jadi dia tak ingin egois dengan mengatakan jika dirinya adalah suami Anggi.
Anggi menatap Marcell. Dia lega saat Marcell tak mengatakan tentang hubungannya saat ini kepada para sahabatnya.
Namun kini Anggi mengerucutkan bibirnya kala melihat kedua sahabatnya itu yang malah berebut menjabat tangan sang suami. Sepertinya kedua sahabatnya itu menyukai suaminya.
"Marcell ganteng banget sih. Kenalkan, Aku Sena, sahabat Anggi," ucap Sena caper. Dia segera menjabat tangan Marcell.
Namun dengan cepat Karin menarik tangan Sena dan gantian menjabat tangan Marcell. "Kalau Aku Karin, Aku juga sahabatnya Anggi. Marcell sekolah di mana? Sudah punya pacar belum? Mau dong jadi pacarnya Marcell." Karin bertanya sembari mengedipkan sebelah matanya.
Melihat tingkah kedua sahabatnya, Anggi pun semakin memberengut kesal. Dia menatap Marcell dengan tatapan setajam silet.
Marcell hanya tersenyum nyengir menanggapi tingkah kedua sahabat istrinya itu.
"Maaf ya para Kakak-kakak cantik. Sayangnya Marcell sudah punya pacar," ucap Marcell tersenyum. Tatapannya mengarah ke istrinya yang nampak cemberut.
"Duh, sayang banget sih. Kakak juga mau dong jadi pacarnya Marcell. Gak apalah punya pacar berondong, yang penting kan cakep badai," ucap Karin kembali.
"Aku mau masuk. Terserah kalian mau caper sama Marcell, Aku gak peduli!" Anggi menghentakkan kakinya berjalan meninggalkan kedua sahabatnya itu.
Sementara Gavin berlari mengejar Anggi.
Marcell mengerutkan keningnya melihat pria yang sedari tadi ada di sana tanpa mengucap sepatah katapun itu, berjalan mengejar sang istri.
Marcell pun langsung berseru. "Kak Anggi, jangan lupa nanti pulang Marcell jemput ya?!"
Namun Anggi tidak menjawabnya. Istrinya itu hanya membalikkan tubuhnya dan menatapnya tajam, kemudian kembali berjalan menuju ke kampusnya.
"Yasudah ya, kak. Marcell sekolah dulu. Dah, kakak-kakak cantik," ucap Marcell sebelum menaiki motor sportnya dan meninggalkan Karin dan Sena.
"Hati-hati ya, Marcell!" seru Karin genit dengan melambaikan tangannya.
***
__ADS_1